
Orang tua Dara sudah lebih dulu sampai ke kantor polisi kota M. Kedua orang lanjut usia itu langsung menemui putri tunggalnya di ruang yang sudah disediakan.
Mata pria dewasa itu menatap nyalang putri nya yang baru saja sampai di ruangan itu.
Plakkkk! Sebuah tamparan mendarat di pipi mulus Dara.
"Papa!", pekik mama Dara. Dara memegangi pipinya yang terasa pedas bekas tamparan papanya. Dara menunduk dalam.
"Mohon maaf tuan, jangan membuat keributan di kantor!", ujar salah satu polisi yang berjaga di sana.
Dada papa Dara naik turun menahan emosinya yang sungguh meledak-ledak menghadapi tingkah putrinya yang selalu membuat ulah pada Azka.
Sekarang tiga orang itu duduk di masing-masing kursinya.
"Sayang, apa yang udah kamu lakuin sampai Azka nekat laporin kamu kesini nak?", tanya mama Dara sambil mengusap-usap punggung tangan putri nya.
Dara tak menjawabnya, justru menunduk semakin dalam.
"Sudah papa bilang, berhenti mengejar azka. Dia lelaki beristri. Masih banyak laki-laki yang jauh lebih baik dari Azka yang tulus menerima kamu Dara!", ujar papanya masih dengan mode marahnya.
"Tapi Dara cinta sama Azka,Pa!"
"Stop! Jangan pernah bicara seperti itu lagi. Papa malu dengarnya Dara. Malu! Kamu itu perempuan, dari keluarga baik-baik juga. Kenapa kamu malah mempermalukan kami seperti ini. Kami sudah tidak punya harga diri lagi di hadapan keluarga Bhakti!"
"Papa cuma pikirin harga diri keluarga papa, tapi papa ngga pernah pikirin perasaan Dara pa."
Papa Dara menghela nafas sambil memejamkan matanya.
"Terserah polisi akan menghukum mu berapa lama, papa tidak akan mengeluarkan kamu dari sini sebelum kamu mendapatkan hukuman yang sepadan!", Ega langsung berdiri.
"Papa!", mama Dara meraih tangan suaminya. Sedang Dara sendiri tidak percaya jika Papa nya bisa mengatakan seperti itu.
"Papa tega biarin anak kita mendekam di penjara Pa? Mama ngga mau pa. Mama ngga bisa liat Dara menderita seperti ini pa. Ayo kita ajak bicara Azka biar dia lepasin Dara."
"Berhenti mama! Keputusan papa sudah bulat, biarkan Dara merasakan akibat dari perbuatannya. Ini juga salah Mama, terlalu memanjakan putrimu yang selalu mama bela meskipun dia bersalah selama ini!"
Mama Dara terdiam di depan suaminya. Tak menyalahkan Ega, karena ini memang benar adanya. Mama Dara terlalu memanjakannya anak semata wayangnya.
"Kita pulang ke Jakarta ma!", ajak Ega.
"Papa, keluarin Dara dari sini pa. Tolong pa!", rengek Dara. Tapi Papa Dara tak bergeming.
"Ayo pa, tolong keluarin Dara dari sini!", kali ini mama Dara yang memohon.
"Berharap saja kalau Azka mau memaafkan mu!", papa dara melenggang meninggalkan kantor polisi. Mama Dara pun mengejar suaminya.
.
.
Aurel dan kedua orang tuanya serta orang tua Vicky baru tiba di kantor polisi.
Kelima orang itu menemui Vicky yang sudah memakai pakaian tahanan.
"Vicky!", mama Vicky menghambur ke pelukan Vicky.
"Mama!", ucap Vicky lirih.
Lalu semuanya duduk di bangku yang ada di sana.Mata Aurel terlihat sembab, pasti gadis itu sangat sedih sepanjang perjalanan ke mari.
__ADS_1
"Bikin ulah apa lagi kamu Vicky?" , tanya papa Vicky.
Dengan terbata-bata Vicky pun mengatakan semuanya. Sontak, semua ternganga mendengar penuturan Vicky.
Tamparan keras ia dapatkan dari papanya. Ya, papanya sangat kecewa. Dia sudah tak ingin lagi berusaha dengan keluarga Bhakti. Tapi justru Vicky membuat ulah berujung ke jeruji besi.
"Papa, tolong keluarin Vicky pa!", kata Vicky memohon.
"Bagiamana caranya Vick? Bahkan papa yakin kalau tuan Azka tidak akan mau mencabut laporannya karena ulah kamu."
"Tapi pa, Vicky harus keluar dari sini pa. bagaimanapun dia juga harus bertanggung jawab atas kehamilan Aurel!", kata mama Vicky sambil menarik lengan suaminya. Vicky ternganga mendengar kabar kehamilan Aurel.
"A...Aurel hamil?", tanya Vicky. Aurel mengangguk pelan dengan menitikan air matanya. Vicky meraup kasar wajahnya.
"Jadi bagaimana ini mas?", tanya mama Aurel pada papanya Vicky.
"Kita harus bicara pada Tuan Azka!", ujar papa Vicky.
Mama aurel mengusap kepala putrinya.
"Nak, bukankah Nana sahabat kamu? Coba kamu minta tolong sama Nana, biar Tuan Azka mencabut laporannya pada kasus Vicky. Nana pasti mau bantuin kamu, Rel!"
"Tapi...Aurel malu ma....hiks...hiks....!", jawab Aurel.
"Kamu akan lebih malu lagi jika kehamilan mu semakin besar tapi Vicky masih di dalam penjara. Kamu ngga mau terjadi seperti itu kan???", mama Aurel mencoba meyakinkan putrinya.
"Benar apa kata mama kamu sayang, coba kamu bicara sama Nana. Semoga Nana bisa membujuk suaminya. Ini untuk masa depan kamu dan anak kamu juga", giliran papa Aurel yang bicara padahal dari tadi dia hanya melihat mereka semua.
Akhirnya Aurel pun mengangguk. Usai berpamitan pada Vicky, lima orang itu pun kembali ke ibu kota.
Kelima orang itu pun langsung menuju ke rumah Nana agar mereka bisa langsung bertemu dengan Nana dan Azka.
.
.
"Geli tapi seneng kan?", ledeknya. Dia tak tahu saja kalo art dan baby sitter Azki melihatnya heran.
"Malu sama mba Ami dan bibik mas!", kataku berbisik.
"Ya udah, ke kamar aja yuk. Biar ngga malu!", balas Azka yang pasti terdengar oleh dua orang itu. Bibik tersenyum simpul, sedang Ami seperti orang yang menahan emosinya.
"Ngga usah aneh-aneh deh mas! udah ayo makan dulu. Tadi pagi kan ngga sarapan!", Nana mengajak Azka ke meja makan.
"Ngga sarapan sih, tapi kan udah minum susu!", celetuk Azka dengan wajah datarnya. Ya, begitu lah kalau di depan orang lain. Terutama pada perempuan yang sepertinya tertarik padanya, Ami contohnya.
"Kapan?", tanya ku heran.
Azka sedikit mendekati telinga ku lalu berbisik.
"Tadi, sebelum Azki bangun heheheh!"
Spontan aku mencubit perutnya yang sekarang sudah tidak sixpack lagi. Sudah onepack hahahaha
"Sakit sayang...!", kata Azka manyun.
"Kebiasaannya nih mulut ngga di saring deh. Malu kalo ada yang dengar tahu ngga!"
"Biarin! Udah ah, di omelin Mulu. Mau makan saja!", Azka mengambil nasi sendri, tapi aku membantu mengambilkan lauknya. Azka pun tak protes dengan lauk yang kuambilkan.
__ADS_1
Beberapa menit berlalu, Azka pun selesai makan. Lalu tiba-tiba Ami datang ke ruang makan.
"Maaf, pak Azka non Nana, di depan ada tamu."
"Siapa mba?", tanyaku.
"Eum... temen non Nana yang kemarin sama beberapa orang."
"Oh, ya udah kami ke sana bentar lagi. Makasih mba Ami."
Ami pun meninggalkan sepasang suami-istri itu. Lalu Nana menggamit lengan suaminya untuk menemui tamu.
''Mau apa mereka ke sini!", ujar Azka yang masih berdiri di depan meja makan. Nana pun menatap heran suaminya.
"Kenapa sih mas?"
"Mas tahu tujuan mereka ke sini!", kata Azka.
"Apa tujuan mereka?", tanya Nana bingung.
"Kamu aja sayang yang nemuin mereka, mas malas!", ujar Azka sambil beranjak dari ruang makan.
"Jangan dong mas, ayo...temenin aku!", Nana memaksa suaminya untuk menemui Aurel dan yang lain.
Dengan langkah terpaksa Azka pun menuruti permintaan istrinya itu.
Setelah keduanya sampai di ruang tamu, para tamu pun berdiri. Nana dan Azka menyalami semua nya tak terkecuali Aurel.
Nana menatap heran wajah sahabat nya itu.
"Apa kabar Nana?", tanya mama Aurel.
"Alhamdulillah baik tan, Tante sendiri baik juga kan?", tanya Nana balik.
Beberapa saat kemudian, orang tua Vicky memperkenalkan dirinya pada Nana dan Azka. Kalau Azka sudah mengenal papa Vicky tentunya. Apalagi papa Aurel.
"Jadi, tujuan kalian apa ke sini?", tanya Azka to the point.
"Maaf pak Azka, sebagai orang tua Vicky kami meminta maaf secara langsung pada anda pak. Maafkan semua yang sudah Vicky lakukan!", kata Papa Vicky dengan nada memohon.
Nana yang tak tahu apapun menatap wajah suaminya.
"Ada apa mas?",tanya Nana heran. Azka pun menjelaskan semuanya. Nana menggenggam erat tangan suaminya yang sedang emosi mengingat kesalahan yang Dara dan Vicky lakukan.
Tiba-tiba saja Aurel menghambur ke pangkuan Nana.
"Na, tolong bilang pak Azka buat lepasin Kak Vicky Na. Gue mohon!", kata Aurel sambil terisak.
"Rel, bangun. Jangan kaya gini!", Nana membantu Aurel bangkit. Lalu ibu muda itu menatap suaminya tapi Azka sepertinya tak ingin menggubris tatapan istrinya.
"Na, gue....gue...hamil Na, hiks...hiks...kalo kak Vicky di penjara, gue gimana Na!", kata Aurel terisak.
Nana terperanjat mendengar pengakuan Aurel. Para orang tua pun hanya menunduk tak ada yang merespon keterkejutan Nana. Sedang Azka bersikap tidak peduli. Meski dalam hatinya ia merasa kasian pada Aurel.
"Kenapa bisa sampe seperti itu Rel? Kenapa Lo lakuin itu? Lo janji sama gue buat jaga diri Lo! Tapi...."
"Gue tahu Lo kecewa Na. Tapi please, kali ini aja tolong gue. Bujuk pak Azka buat cabut laporan kak Vicky. Gue mohon Na!", Aurel menenggelamkan kepalanya di bahu Nana. Nana pun mengusap punggung sahabatnya.
"Permisi!", tiba-tiba saja Azka bangkit dan berlalu meninggalkan mereka semua.
__ADS_1
*****
otewe tamat 🙏🙏🙏🙏🙏