
"Ka sisi....", panggil ku pada anak buah kesayangan bunda.
"Kenapa neng....?", sisi menghampiri bos kecilnya itu.
"Curhat boleh...?"
Sisi celingak-celinguk melihat situasi toko yang tak terlalu ramai.
"Sok atuh, mau cerita apa?"
"Om Azka..."
"Kenapa sama pak Azka?"
"Ka sisi sudah biasa ketemu dan ngobrol sama dia kan? Menurut kak sisi, om Azka gimana?"
"Hemmm....pasti masih belum belum yakin ya? Padahal tinggal beberapa hari lagi mau menikah?"
"Beberapa hari lagi?", justru aku yang tanya.
"Iya, tadi orang tuanya pak Azka kesini. Minta surat-surat buat kelengkapan dokumen pernikahan kalian."
"Ya...salam....", aku menggelengkan kepala ku.
"Bibik sudah ngasihin?"
Sisi menganggukkan kepalanya.
"Sok atuh mau cerita apa?"
"Selama ini, menurut Kak sisi om azka seperti apa?"
"Seperti apa? Ya orang lah."
"Iih...nggak lucum Serius ini kak."
"Hehehe iya, pak Azka tuh ramah sama kita semua. Suka bantuin disini juga. Bunda aja seneng kalau pak Azka kemari."
"Ya seneng lah, orang sama kekasihnya."
"Nggak usah cemburu kali neng, toh bunda juga udah nggak ada."
"Apaan sih kak sisi. Ngomong apa larinya kemana."
"Jadi nggak cari tau soal pak Azka?"
"Hem....iya."
"Pak Azka itu,,,,,"
Drrtttt....Ponselku berdering, panggilan dari Vicky.
"Sebentar Kak."
Aku pun menjauh dari kak sisi.
"Halo vick?"
"Halo Na? Apa kabar?"
"Baik, tumben telepon gue ada apa ya?"
"Sorry Na, gue baru tahu. Turut berdukacita cita ya atas meninggalnya bunda."
"Oh...iya Vic, ngga apa-apa kok."
"Btw,gue udah dalam perjalanan ke Jakarta lho. Gue mau kuliah di Jakarta aja. Biar...bisa Deket sama Lo lagi."
Vicky kembali ke Jakarta lagi?
"Em...vick, sorry ya gue mau bantuin anak-anak toko dulu. Lagi ramai banget nih, bye."
Klik
Kumatikan panggilan dari Vicky tadi. Vicky adalah kakak kelasku dulu. Dia sempat menyatakan cintanya padaku kala itu. Tapi, sesuai titah dari bunda. Aku nggak boleh pacaran, kalau masih nekat pacaran bunda mau menikahkan aku saat itu juga.
Pernah aku protes, kalau aku gak boleh pacaran kenapa bunda justru menjalani hubungan dengan om Azka, sampai tiga tahun pula.
Apa jawaban bunda?
Bunda hanya ingin memastikan jika om Azka pantas menjadi anggota keluarga kita.
Aku sempat bilang pada bunda, rasanya tak adil sekali. Bunda yang dewasa boleh pacaran, sedang aku nggak boleh. Dengan mengingat itu, aku jadi kangen bunda.
Ah ...bunda, secerewet apa pun bunda adalah bunda terbaik ku.
"Kenapa neng? Kok kusut gitu mukanya?"
"Nggak apa-apa kak. Ya udah, Nana masuk ya. Mau mandi."
"Ya udah sana."
__ADS_1
Aku pun meninggalkan toko. Kulirik jam tangan ku sudah lewat dari jam empat sore.
Aku berjalan ke arah belakang ,mengambil handukku di jemuran khusus.
Biasanya, bunda suka sekali duduk santai di jam segini di tempat ini.
Usai mandi, aku menghampiri bibik yang sedang menyetrika.
'' Bik, tadi papa om Azka kemari?"
"Bukan papa nya non, tapi orang suruhannya."
"Iya itu maksudnya."
"Maaf ya non. Tanpa persetujuan Non, bibi udah serahain dokumen buat kelengkapan pernikahan non sama pak Azka."
"Iya bik, saya yang harusnya terimakasih."
"Yang sabar ya non, insyaallah ini jalan dari Gusti Allah buat masa depan non yang lebih baik."
"Iya bik, makasih."
"Mau makan non, bibik panaskan makanannya?"
"Nggak, ntar malem aja."
"Oh, ya sudah."
Aku pun meninggalkan bibik. Ku masuki kamar bunda sebagai pengobat rinduku padanya.
Aku membuka lemari bunda. Ada setumpuk dokumen penting peninggalan papaku.
Beberapa kotak perhiasan. Bunda orang yang sederhana. Meskipun ia memiliki banyak perhiasan, hanya cincin dari papa yang menghiasi jari bunda hingga akhir hayatnya.
Bunda...
Kenapa sih bunda mempersiapkan om Azka buat Nana?
Memangnya Nana nggak bisa pilih pendamping Nana sendiri?
Aku bermonolog dalam hati.
Berbaring di tempat tidur bekas bunda, membuatku merasa nyaman. Wangi bunda masih begitu terasa.
Bunda, apakah menikah dengan om Azka itu benar-benar keputusan yang tepat? Bukankah semua terkesan buru-buru?
Meskipun nyaman, aku tak bisa memejamkan mataku.
Duduk dibibir ranjang, ku buka laci nakas di samping ranjang.
Kunyalakan ponsel bunda. Saat menyala, wallpaper di ponsel bunda adalah foto kami bertiga. Papa, bunda dan aku.
Bunda masih menggunakan foto itu meskipun dia sudah berhubungan dengan om Azka. Apakah bunda masih menyimpan cinta nya buat papa, sampai... berhubungan dengan om Azka hanya sebuah status?
Ku buka galeri foto di ponsel bunda. Isinya hanya fotoku dari kecil hingga dewasa. Nggak ada satupun foto om Azka. Sebenarnya, hubungan macam apa yang bunda jalani dengan om Azka selama tiga tahun ini?
Tok...tok...
"Non....", panggil bibik.
"Iya bik, masuk."
"Ternyata non dikamar ibu. Itu non, ada pak Azka."
"Mau apa dia kesini? Sudah mau magrib masa bertamu?"
"Nggak tahu non, temui saja dulu. Kalau keburu magrib kan bisa dilanjutkan nanti."
Dengan malas aku pun keluar dari kamar bunda. Ku susul bibik yang sudah terlebih dahulu mengahampiri om Azka.
"Kalau begitu, bibik tinggal dulu ya."
Aku dan om Azka mengangguk.
"Kenapa om? Ada perlu apa?"
"Surat-surat sudah diserahkan ke KUA. Besok bada Jumat, kita bisa melaksanakan ijab qobul Na."
Azka mengatakan dengan pelan .
" Besok?"
"Iya. Bukannya, niat baik harus segera dilaksanakan?"
"Tapi om...menikah itu bukan hal mudah. Kita aja nggak dekat kok selama ini. Bagaimana mungkin tiba-tiba kita menjalani kehidupan layaknya suami istri? Om juga tahu, Nana masih sekolah. Nana masih mau melanjutkan ke jenjang perguruan pilihan Nana. Nana mau....."
"Saya tidak akan membatasi itu semua Na, selama masih dalam tahap kewajaran."
"Okey...tapi, saya punya permintaan."
"Iya."
__ADS_1
"Permintaan apa? Selagi saya bisa, saya akan laksanakan. Tapi kalau tidak bisa, ya maaf."
"Harus bisa lah."
"Coba ,sebutkan!"
"Pertama. Besok, kita hanya akan ijab qobul. Tanpa pesta. Pernikahan kita tidak boleh di ketahui orang banyak. Selain keluarga om dan keluarga Nana."( maksud nana, bibik dan karyawan nya saja)
"Kita menikah secara negara Nana. Jelas kita melibatkan pejabat sini."
"Oh...baiklah, bilang sama pak RT. Untuk merahasiakan ini semua."
"Lalu yang kedua?"
"Om Azka yang tinggal disini, bukan Nana yang ikut kerumah Om. Karena setau Nana, biasanya perempuan yang ikut suaminya."
"Ketiga, jangan mengekang Nana. Karena Nana tahu batasan Nana "
"Keempat...."
"Banyak sekali sih Na...."
"Om diem dulu!"
"Baiklah."
"Keempat, kak sisi bilang om Azka suka bantuin di toko. Nanti, om juga bantu Nana mengurus toko bunda."
"Udah? ada lagi?"
"Belum Nana pikirkan!"
"Itu, permintaan kamu. saya juga berhak dong meminta permintaan dari Nana?"
"Hemm... tergantung!"
"Nggak adil dong kamu saja yang punya permintaan."
"Oke. Apa permintaan om?"
"Om cuma punya satu permintaan."
"Apa?"
"Setelah kita menikah nanti, biarkan saya menjalankan hak dan kewajiban saya sebagai suami Nana."
"Hak dan kewajiban? Tunggu...maksud om apa nih?"
Aku membenarkan posisi dudukku.
"Hak om apa? Kewajiban apa ?"
"Kamu anak pintar Na, kamu dididik bunda dengan ilmu agama yang baik. Nanti Nana cari tahu sendiri, apa hak dan kewajiban suami istri."
"Apakah tidak ada permintaan lain yang lebih mudah?"
"Berarti, kamu pura-pura tak tahu dengan hak dan kewajiban suami istri?"
Aku bergeming. Bagaimana mungkin aku tak tahu, sedangkan baru kemarin pelajaran agama tentang pernikahan sudah dibahas disekolah.
"Baiklah kalau Nana sudah paham, saya pulang dulu.Oh iya ini, besok pakai ini."
Om Azka menyodorkan paper bag ke arahku. Isi dari paper bag adalah satu set kebaya putih.
"Ingat, bada dhuhur kamu sudah harus ada dirumah ya Na."
Aku menunduk bingung. Secepat ini ya Allah?
"Saya pulang dulu, sampai bertemu besok di sekolah dan disini. Assalamualaikum."
"Walaikumsalam." Ku jawab salam om Azka dengan lesu.
Hak? Kewajiban? Mendengar penjelasan Pak imam saja sudah membuat ku ngeri, bagaimana kalau sampai menjalankan nya dengan om Azka?
"Non!"
"Iya bik. Besok, usai ijab qobul bibik langsung pulang ya. Bibik udah pesan travel."
"Hah? Buru-buru banget sih bik? Bibik tega ninggalin Nana berdua sama om Azka?"
"Heheh non Nana lucu. Kan emang udah dari awal rencananya begitu. Kalau sudah ada pak Azka, bibik tenang ninggalin non Nana."
Aku terduduk lesu bersandar ke punggung sofa.
"Berdoa non, biar semua dilancarkan. Atau sebaiknya non Nana nggak usah berangkat sekolah saja?"
"Ngga bik, besok nana tetap ke sekolah. Ada ulangan. Lagian besok jam sebelas juga Nana udah pulang sekolah kok."
"Ya sudah, non Nana makan dulu apa mau solat magrib dulu?"
"Solat dulu deh bik, makasih ya bik."
__ADS_1
"Iya non."
Hufttt....apakah ini mimpi buruk ??