Menikahi Mantan Kekasih Ibu Tiriku

Menikahi Mantan Kekasih Ibu Tiriku
Syukur


__ADS_3

Mobil memasuki parkiran rumah sakit. Azka tak henti-hentinya menggandeng ku. Aku yang merasa tidak nyaman karena perlakuannya.


Penampilan kami yang mencolok, membuat puluhan pasang mata tertuju pada kami berdua. Tapi sepertinya Azka tak mau ambil pusing.


"Aku bisa jalan sendiri Ka!"


"Saya tahu."


"Terus kenapa gandeng-gandeng begini? Kaya truk aja!", kataku bersungut-sungut.


"Biarin lah, kita terikat hubungan yang sah."


"Iya, tapi lihatlah...mereka memandang aneh pada kita!"


Azka mengedarkan pandangannya ke segala arah.


"Kamu tuh, lagi gandeng anak SMA berseragam olahraga!"


"Biarin sih Najma!"


Tiba-tiba ada yang menepuk bahu Azka. Spontan aku dan Azka memutar badan.


"Hei, kalian ngapain ke sini?", tanya Laila.


"Laila!", peluk Azka. Aku hanya melongo melihat suamiku berpelukan dengan tante Laila.


"Lepasin ah! Lo ga malu sama istri Lo? Ntar dia cemburu lagi!"


Azka menatapku sebentar, lalu meraih pinggang ku.


"Memangnya kamu cemburu?", tanya Azka padaku. Aku hanya menggeleng.


"Laila itu udah saya anggap kakak saya sendiri Na!"


Aku pun hanya mengangguk mendengar penuturan Azka.


"Lo ngapain bawa Nana ke sini? Sakit?"


"Nggak. Cuma mau mastiin, berapa usia kandungan Najma!"


"Hah? Usia kandungan? Kamu..hamil Na?"


Aku hanya mengangguk pasrah.


"Azka, Lo gila ya! Gue tahu, dia istri sah Lo. Tapi...bukannya sebentar lagi dia tuh ujian?"


"Ya..gimana, udah terlanjur!"


"Ya udah, gue rekomendasiin dokter Riska deh buat nanganin Nana."


"Makasih dokter Laila!" ucap Azka.


Kini kami sudah berada di ruang dokter Riska.


"Usia kandungan nya masih muda sekali, enam Minggu!", ucap dokter Riska sambil terus menggerakkan alat di perutku.


"Alhamdulillah." Aku dan Azka kompak mengucapkan hamdalah bersama.


Lalu dokter Riska pun menjelaskan berbagai hal yang berkaitan dengan kehamilan.


"Maaf dok, apakah...kami masih bisa melakukan hubungan suami istri seperti biasanya?", Azka bertanya to the poin sekali. Aku hanya menutup wajah dengan kedua telapak tangan ku. Bikin malu saja.


"Tentu boleh pak, tapi jangan terlalu sering."


Azka hanya mengangguk.


"Ini resepnya silahkan bapak selesaikan administrasi nya. Biara Nana di sini saja dulu, tadi dokter Laila meminta agar Nana menunggu nya disini."


"Baik dok."


"Saya tinggal dulu ya Najma!"


Aku hanya mengangguk saja. Sepeninggal Azka keluar dari ruang dokter, dokter Riska pun bertanya padaku.


"Nana, berapa usiamu sekarang?"


"Delapan belas tahun, dok!"


"Masih muda sekali, kamu masih sekolah?"


"Masih dok!"

__ADS_1


"Apa pria dewasa tadi yang memaksa mu sampai kamu hamil seperti sekarang?"


"Maksud dokter apa ya?"


"Nana, maksud saya...apa pak Azka sudah memaksamu untuk melakukan hal 'itu'?"


"Sepertinya dokter salah sangka, kami sudah menikah beberapa bulan lalu dokter. Tentu saja kami melakukan dengan ikhlas tanpa paksaan dokter?!"


"Hah! Maaf, Na. Kalau saya sudah salah sangka."


"Nggak apa-apa dok. Lagi pula untuk kedepannya kita akan lebih sering bertemu."


"Kalau boleh saya jujur, saya iri sama kamu. Di usia segini kamu sudah menikah sudah hamil. Sedangkan saya, sudah dua tahun menikah belum juga di kasih momongan."


"Yang sabar ya dokter. Insyaallah secepatnya dokter segera menyusul. Biar saya diperiksa sama dokter yang lagi hamil juga heheheh..."


"Aamiin...makasih ya Na buat doanya. Baru kali ini lho saya bisa ngobrol santai sama pasien saya. Apalagi pasien saya seusia kamu."


"Dokter Riska juga mengingatkan saya sama bunda, almarhum bunda Anisa mungkin seumuran sama dokter."


"Hem?", dokter Riska mengernyitkan alisnya.


"Anisa, pasien Laila?"


"Iya dok."


"Kamu, anaknya Anisa?"


"Saya cuma anak tiri dok, tapi bunda menyayangi Nana sepenuh hati."


"Iya. Saya tahu, Anisa memang wanita yang sangat baik. Pantas saja, bisa mendidik kamu!"


"Oh iya dok, dokter Laila nya mana?"


"Em...nggak ke sini. Saya cuma pengen ngobrol berdua sama kamu. Jadi , suamimu saya suruh keluar aja dulu heheh."


"Dokter Riska ih...."


Akhirnya kami berdua tertawa bersama-sama.


"Ya udah, saya antar ke depan ya."


Aku mengangguk setuju. Dokter Riska mengantarkan ku ke depan ruangan nya. Ternyata Azka baru saja kembali dari ruang administrasi.


"Iya Ka."


"Dokter, kami permisi dulu ya. Terima kasih."


"Sama-sama pak. Tolong istrinya di jaga sebaik mungkin ya pak."


"Siap dokter!"


Azka pun menggandeng ku menuju parkiran mobil.


"Ka...."


"Hem..."


"Kamu ngapain nanya-nanya soal begituan sih sama dokter, malu tau!"


"Begituan apa sih?", tanya Azka masih sambil menyetir mobilnya.


"Ya itu, kita masih bisa hubungan...badan..."


"Heheheh wajarlah kalau saya tanah seperti itu."


"Malu tau nggak!"


"Kenapa harus malu? Saya kan hanya antisipasi, kalau kita masih bisa melakukannya Alhamdulillah kalau enggak ya...mau gimana lagi."


Aku mengusap kasar wajahku. Suamiku, udah sekali merasakan seperti itu maunya lagi dan lagi.


"Mau makan dulu?"


"Makan apa?", tanyaku lesu.


"Kamu maunya apa?"


"Nggak pengen makan."


"Eh, makan lah. Kan nggak cuma kamu yang butuh makan. Tapi anak kita juga!"

__ADS_1


Tangan kiri Azka mengusap perutku yang masih rata.


"Tapi aku belum pengen makan."


"Ya udah, kita pulang!"


"Langsung pulang?", tanyaku balik.


"Iya. Kenapa?"


"Nggak jadi kerumah papa?"


"Nanti malam saja, setelah urusan kita berdua selesai."


"Urusan apa Ka?"


"Nanti kalau udah di kamar kamu juga tahu!"


"Mmmmakksud kamu?"


"Biasa aja kali!", Azka tersenyum.


Mobil sudah terparkir di depan toko. Kak sisi masih sibuk melayani pembeli. Sampai tak tahu kedatangan kami.


"Mbak...es coklat!", teriak Nana pada salah satu pegawainya. Tak berapa lama es nya lun datang. Azka hanya duduk mematung di hadapanku. Aku heran padanya. Kalau dia berdua dengan ku saja, dia seperti tak ada jaim-jaimnya sama sekali. Tapi, kalau di hadapan orang lain dia akan bergaya dengan sok wibawa nya.


Melihat aku dan Azka duduk, Kak sisi mengahampiri kami.


"Kok kalian bisa pulang bareng? Masih siang ini teh?",tanya sisi sambil melirik jam tangannya.


"Nana dikeluarkan dari sekolah kak Sisi!"


"Hah? Kok bisa kenapa?"


"Najma hamil ,Sisi!"


"What???", sisi menakupkan kedua tangannya di pipi.


"Kok bisa sih Na? Pak Azka?"


"Bisa lah! Orang tiap hari saya nanem saham!", kata Azka lalu beranjak menuju rumah lewat lorong penghubung.


"Kami beneran hamil Na?", bisik kak sisi.


"Iya. Baru enam Minggu!"


"Owhh....tokcer banget ya Na. kamu apa pak Azka yang tokcer ya?"


"Apaan sih Kak sisi?", aku menyeruput es coklat ku.


"Ya kami beruntung lah. Belum lama menikah, udah langsung di kasih momongan. Lihat kak sisi? Sudah setahun lebih, belum ada tanda-tandanya."


Kak sisi berubah jadi sendu. Sudah dua orang dalam seharu yang mengeluh padanya betapa mereka menginginkan adanya anak dalam rahim mereka. Sedangkan aku? Aku yang belum berharap sama sekali justru di kasih langsung sama Allah. Bukankah aku harus bersyukur?


"Sabar kak sisi, mungkin sebentar lagi kak. Kak sisi bakal nyusu aku secepatnya."


"Aamiin... makasih Na. Oh, iya temenin suami kamu aja sana. Toko masih bisa kak sisi handel kok."


"Iya Kak sisi. Nana masuk dulu ya.''


Aku pun segera masuk ke dalam rumah. Baru masuk rumah, aku sudah mencium bau masakan sedap sekali. Ku lihat Azka sedang berkutat dengan peralatan dapur nya. Dia bisa masak? Seorang pemilik hotel bisa masak?


Aku menghampirinya ke dapur. Entah kenapa reflek sekali aku ingin memeluk nya dari belakang yang membuat dia sedikit terkejut.


"Najma, bikin kaget aja!"


Aku menyandarkan kepala ku di punggungnya. Baunya...bau keringatnya kenapa aku suka ya? Dia pakai parfum apa sih?


"Kamu masak apa sih Ka?"


Aku melepaskan pelukan ku, kini justru dia yang memelukku dari belakang.


"Masak sayur sop. Buat istri dan calon anak kita."


Ceklek. Kumatikan kompor yang berada di depanku.


"Kok di matiin sayang, belum matang itu!"


"Kita selesaikan urusan kita berdua dikamar yuk Ka!", ajakku. Azka mulai paham sekarang. Mungkin mood wanita hamil seperti ini.


"Mau berapa kali?", bisik Azka nakal.

__ADS_1


"Sekuat mu aja!", jawabku singkat. Azka pun membopongku menuju kamar kami dilantai atas.


__ADS_2