Menikahi Mantan Kekasih Ibu Tiriku

Menikahi Mantan Kekasih Ibu Tiriku
Tahu dari bunda


__ADS_3

Tok...tok...


Azka yang baru dari kamar mandi pun membuka pintu kamar kami.


"Punten Tuan, makan siang udah teteh siapkan!".


"Makasih Teh. Kami sebentar lagi turun."


Azka pun menghampiri ku yang baru saja selesai solat dhuhur.


"Sayang, kamu turun dulu deh. Makan siang udah siap, nanti aku nyusul. Kamu bilang aja kurang apa gitu ya. Biar teteh yang siapin!"


"Iya mas."


Aku melepaskan mukenah ku lalu turun terlebih dulu karena Azka baru akan solat dhuhur.


Aku melihat meja makan sudah penuh dengan makanan seperti yang ku inginkan. Ada ikan bakar, sambal dan lalapan. Ada juga minum nya es jeruk. Pinter banget ya nyiapin ini semua.


"Silakan non!", kata teteh.


"Iya teh. Saya nunggu mas Azka dulu."


"Ada yang kurang nggak? Biar teteh siapin kekurangan nya apa?"


"Cukup teh. Teteh sendiri sudah makan?"


"Belum non. Nanti saja suami saya masih di kebun lagi metik mangga. Saya dengar non Najma sedang hamil, makanya suami saya inisiatif metik mangga muda di kebun belakang."


"Oh ya? Wah... senengnya. Makasih ya teh."


"Sama-sama Non. Mari non, saya tinggal ke belakang dulu."


"Iya Teh!"

__ADS_1


Selang beberapa lama, Azka pun turun. Dia menghampiriku lalu mengecup puncak kepalaku.


"Kok belum di makan sih sayang?", tanya Azka sambil duduk di hadapan ku.


"Kan aku nunggu kamu. Masa mau makan sendirian."


"Kali aja kamu udah lapar. Tadi pagi nggak makan , terus barusan di gempur. Kali aja kelaparan dedek bayi kita."


Aku mencebikkan mulutku.


"Kamu emang kelewat doyan mas!", sindirku.


"Kamu nya mau aja!", jawabnya ngga mau kalah.


"Udah ah, makan dulu mas. Itu ikan sama sambel nya udah manggil-manggil minta di icip-icip."


"Bukan ikan sama sambelnya tapi kamu nya yang udah ngiler."


"Bukan mami nya?", ledek Azka.


"Ya dedek bayi sih tapi mami yang jadi perantara nya hehehhe"


Azka tersenyum sambil mengambilkan nasi untukku.


"Harusnya kan aku yang ngambilin nasi buat kamu, eh ini malah kebalik"


"Nggak apa-apa sayang. Nggak ada aturannya juga kan?"


Aku memasang wajah tersenyum. Mas azka memberikan ikan bakar untuk ku yang sudah di buang durinya. Sepele, tapi romantis bagiku. Kami pun memulai makan siang kami.


"Oh iya mas, teteh bilang suaminya lagi metik mangga di kebun belakang lho."


"Oh ya? Bagus dong. Abis ini kita bikin rujak."

__ADS_1


"Iya mas. Enak di sini ya mas. Udah tempatnya adem , pengen buah tinggal metik."


"Tapi mangga nggak tiap bulan ada sayang, ini buah musiman."


"Heum...iya sih, tapi aku senang aja sih kalau adem begini."


"Iya, kamu suka tempat sejuk begini kan? Makanya mas bawa kamu ke sini."


"Tahu dari mana?"


"Bunda."


Aku yang tadinya tersenyum kini menciut. Jadi, azka tahu karena bunda. Eh...gimana ngasih tahunya?


"Kok dari bunda?"


"Kamu kan pernah tanya, kenapa wasiat bunda banyak banget buat aku. Ya...karena isinya banyak tentang kamu."


"Termasuk ini?"


"Iya. "


"Bunda curang!"


"Kok gitu?"


"Iya. Bunda ngasih info semua tentang aku sama kamu. Tapi aku nggak tahu apapun tentang kamu!", kataku kesal tapi masih tetep mengunyah makananku.


"Bukan gitu sayang. Bunda hanya ingin aku melakukan hal yang terbaik untuk mu. Jangan sampai membuat mu tersakiti. Dia tak memberi mu banyak wasiat karena dia tahu, kalau kamu itu penurut."


Aku meneruskan makanku. Mendengar sekilas penjelasan suamiku.


Sedangkan Azka sendiri memandangi istri kecil nya itu. Wajar saja jika hormon ibu hamil memang mudah merubah emosinya. Ditambah lagi, usianya yang masih labil. Sebisa mungkin, Azka mengimbangi istri kecilnya itu.

__ADS_1


__ADS_2