
"Udah ada rencana apa Lo?" tanya Dara pada Vicky yang duduk di hadapannya. Saat ini Vicky sedang berada di kantor Dara.
"Pelan aja kak. Ngga usah buru-buru. Yang penting kan hasilnya!", sahutnya santai sambil mengangkat salah satu kakinya.
"Gue bayar Lo mahal-mahal, keluarin Lo dari penjara.Masih belum cukup buat mempercepat rencana Lo hah? Berapa lama lagi?", tanya Dara kesal.
"Kak, gue tahu. Gue utang Budi sama Lo. Gue sadar diri kok. Tapi, usaha Lo buat deketin Azka ngga bisa langsung berhasil. Kalo Lo cuma asal-asalan ga ada perhitungan kan percuma."
"Halah! Lo lupa, kenapa Lo bisa masuk penjara? Lo ga memperhitungkan juga efeknya kan? Coba Lo bawa Nana jauh-jauh, ga bakalan Azka nemuin Lo dan jebloskan Lo ke penjara."
"Oke , kak! Iya, tapi justru karena itu. Gue lagi berusaha biar gue ga bikin kesalahan yang sama."
"Ckkk...lama banget tahu ngga!"
"Sabar lah kak!"
"Gimana kalo...gue bikin kerjasama sama Azka, nantinya ya...gue bikin dia jatuh ke ranjang gue!"
"Jebak? Pakai obat perangsang?", tanya Vicky dengan wajah sinisnya.
"Why not!"
"Kak...kak...! Basi lah pake cara kaya gitu! Udah biasa banget! Udah kebaca kali sama netijen!"
"Maksud Lo apa hah?"
"Kak! Cara kaya gitu udah ga banget deh! Kenapa ngga coba cara baru yang lebih baik."
"Cara nya?"
Vicky membisikkan sesuatu pada Dara. Dara hanya mengangguk tipis sambil tersenyum.
__ADS_1
"Ckkk...sadis Lo!", kata Dara.
"Anti-mainstream!", seringai Vicky.
"Tega Lo?", tanya Dara lagi.
''Kak dara kalo mau jahat, jangan nanggung kenapa!", ledek Vicky.
"Tapi bener deh, Lo tega sama cewek Lo!"
"Bodo amat lah! Selama dia masih nurut sama gue, gue pertahanin dia. Dan gue pikir, dia ngga bakal mau lepas dari gue gitu aja."
"Yakin Lo, Aurel bakal bantu kita?"
"Ckkk....Lo ga percaya banget sih Kak.Serahin ke gue!"
"Oke! gue percaya sama Lo! Gue tunggu kabar baiknya!"
"Sip lah kak! Percaya sama gue! Btw, gue butuh duit dong!", kata Vicky sambil memainkan jarinya.
"Beda lah! Gue mau bayaran dari Lo kak!"
"Bocah sialan!", ujar Dara. Tapi tangannya tetap menekan keypad ponselnya.
"Udah tuh! Cukup kan segitu?!"
Vicky membuka ponselnya, lalu dia pun tersenyum.
"Makasih kak Dara!", kata nya riang.
"Hem!"
__ADS_1
"Oke,gue cabut ya! Kangen sama belaian cewek gue!", kata Vicky sambil cengengesan.
"Sono Lo! Jauh-jauh!", teriak Dara. Sepeninggalan Vicky, Dara pun tersenyum sendiri. Ia berharap usahanya untuk mendekati Azka akan berhasil.
.
.
.
"Mas, udah pulang?", sapaku.
"Udah sayang, tuh...di buru-buru sama nyonya besar!", kata Azka sambil menunjukkan mama dengan dagunya.
"Ngga sopan mas!", kataku.
"Tahu nih Na. Suami mu keberatan jemput mama. Padahal mama kan kangen sama cucu ganteng mama!", kata mama yang baru keluar dari dapur. Mungkin cuci tangan.
"Bukan ga mau Ma. Tapi mama maksa bener. Kaya ga bisa naik taksi aja. Atau minta supir yang jemput. Harus gitu, aku banget!"
"Na, sejak kapan sih manusia batu ini jadi cerewet? Kok rasa-rasanya mama pengen cubit mulut nya deh!", kata mama kesal.
'' Hahahah dia mah emang gitu Ma. Ya udah nih, cucu kesayangan Oma. Nana mau urusin dulu bayi gede Nana!", kataku. Azka tersenyum padaku.
"Ayok bunda, kita ke kamar. Biar Azki sama Omanya. Kalo perlu sampai malam!"
"Ckkk...inget, belum bisa di daki Ka."
"Apaan sih Ma! Udah ah, yuk sayang?"
"Nana sama mas Azka ke atas dulu ya ma. Titip Azki!"
__ADS_1
"Iya sayang! Tenang, Azki aman sama Oma!"
Aku dan Azka pun naik ke kamar kami.