Menikahi Mantan Kekasih Ibu Tiriku

Menikahi Mantan Kekasih Ibu Tiriku
Aurel Vicky


__ADS_3

Aku dan Azka masuk ke dalam ruangan khusus milik Azka. Sambil menunggu Azka yang sibuk dengan berkasnya, aku berdiri di dekat jendela kaca. Mataku tertuju pada gedung bertuliskan almamater sekolah ku. Banyak kenangan yang terukir di sana. Tapi...siapa sangka, aku bahkan tak bisa mengikuti euforia kelulusanku.


Cuaca tak terlalu panas tapi juga tidak mendung. Jika suasana sedang begini, biasanya bunda akan membuatkan salad buah untuk ku. Bunda memang serba tahu apa yang aku butuh dan ku inginkan.


Tiba-tiba... aku merasa rindu sama bunda. Ku lafalkan Al-fatihah dalam hatiku yang ku tujukan untuk bunda. Eh ... untuk yang kuasa lebih tepatnya dan semoga sampai untuk bunda.


Di tengah kegalauan ku, tiba-tiba sepasang tangan melingkar di perut buncit ku. Aku langsung tahu tangan milik siapa itu.


"Kok melamun sayang? Bete ya di tinggal kerja sama aku?", tanya azka sambil mengusap pipiku.


"Iya mas. Ngomong-ngomong kak Rania mana? Ngga keliatan dari tadi?"


"Ngga masuk. Suaminya sakit."


"Owh...!"


Kami kembali hening tapi Azka masih betah di posisi sebelumnya.


"Sayang!", panggil ku lirih.


"Heum? Kenapa? Ingin sesuatu?"


Aku mengangguk pelan. Setelah itu, Azka memutar badanku agar kami saling berhadapan.


"Kamu pengen apa sayang?"


"Eum... aku kangen sama bunda mas. Kapan ada waktu kita ziarah makam bunda sama orang tua ku yuk?"


Azka tampak berpisah sejenak.


"Boleh. Lusa insyaallah mas ngga sibuk. Kita bisa ke sana sayang."


"Beneran mas? Ah... makasih!", aku memeluk tubuh tinggi suamiku itu dengan sayang.


"Iya sayang, sama-sama."


"Sama itu mas, satu lagi."

__ADS_1


"Apa?"


"Aku pengen makan salad buah. Biasanya kalo cuaca ngga menentu begini, bunda suka bikinin aku salad mas."


"Oh...oke, mas beliin sekarang!", kata Azka semangat.


"Kamu mau beli sendiri gitu?"


"Ngga lah, nyuruh ob. Tapi kalo kamu minta mas yang beliin juga ngga masalah kok sayang. Kan demi istri dan dedek utun."


"Aaah...sweet banget sih suami aku!", sekarang aku yang nemplok. seperti cicak pada tubuh tegap Azka.


Entah karena aku terlalu bahagia, ada aktivitas kecil di dalam perut ku yang membuat aku sedikit nyeri.


"Aww...!", pekik ku.


"Kenapa sayang? Ada yang sakit?", tanya azka cemas.


"Hehe ngga mas. Sepertinya dedek utun ikutan seneng mas mah di beliin salad sama ayahnya."


"Heheheh bisa begitu?", tanya Azka.


"Mas lanjutkan kerja nya aja. Biar nanti makan siang, kita bisa nyari salad sama-sama."


''Emang ngga apa-apa belinya nanti? Kalo udah pengen banget nanti mas suruh ob aja."


"Ngga usah mas. Nanti kita cari bareng aja."


"Oh ya sudah. Mas kerja dulu ya. Sebentar lagi selesai kok."


Aku pun mengangguk patuh. Azka kembali berkutat dengan berkas nya.


.


.


Aurel dan Vicky saat ini sedang berada di dalam resto yang ada di hotel Bhakti milik Azka.

__ADS_1


"Kenapa kita makan di sini sih Kak?", tanya Aurel yang baru saja memilih bangku.


"Ngga kenapa-kenapa sih. Pengen aja. Kan makanan di sini emang enak."


"Iya sih, tapi kaya ngga cocok banget deh anak muda kaya kita nongkrong nya di resto begini. Ngga anak muda banget heheheh."


"Tapi kan kita sering ikut bonyok makan di sini Rel. Jadi ngga masalah kali."


"Its okay!", kata Aurel pada akhirnya.


Keduanya menatap buku menu saat seorang pelayan menyodorkan buku itu.


Aurel fokus dengan memilih menu, tapi tidak dengan Vicky. Matanya melirik ke segala penjuru hingga berhenti ke seorang yang sedang ia incar.


Beberapa detik kemudian, mata mereka bertemu. Terlihat jelas ada ketakutan di wajah orang yang sedang ia incar. Tapi...Vicky sengaja menabuh perang dengannya dengan cara halus.


"Rel?", panggil Vicky.


"Apa kak?", tanya Aurel bingung.


"Lo mau ngga jadi cewek gue, gue yakin bonyok kita pasti setuju."


"Wait? Cewek Lo kak? Yang bener aja sih, bukannya Lo suka sama Nana ya kak?", tanya Aurel.


"Dulu iya, sekarang ngga. Lagian ada yang single kaya kamu ngapain mau macarin istri orang."


Aurel terdiam beberapa saat.


"Gue serius Rel. Lo kaya baru kenal gue sih. Kita dari orok udah bareng-bareng Rel."


Setelah cukup lama diam, akhirnya Aurel mengangguk dan menerima pernyataan cinta Vicky.


Tangan Vicky mengusap kepala Aurel dengan penuh kasih sayang.


Tapi mata Vicky kembali ke arah orang itu. Orang itu yang tak lain adalah Nana, ia merasa khawatir dengan sahabatnya yang sedekat itulah dengan Vicky. Padahal dia tahu sekali jika Aurel dan Vicky memang sudah berteman dari kecil.


Nana menyeret suaminya pergi dari resto padahal keduanya belum pesan apa pun. Tapi pada akhirnya, Nana pergi dari resto tanpa memberi tahu Azka jika Vicky ada di sini bersama Aurel.

__ADS_1


Rencana Vicky sepertinya berhasil.


__ADS_2