
Aku dan Azka baru saja selesai mandi siang ini. Bagaimana tidak?
Kegiatan panas kami menyita banyak waktu hingga kami hampir saja melewatkan solat dhuhur kami. Sudah jam dua siang lewat lima belas menit kami justru baru mau menghadap sang penguasa alam.
"Sayang, mumpung aku sedang tidak ke kantor apa kamu pengen kita jalan-jalan?", tanya Azka sambil melipatkan mukenah ku.
"Jalan ke mana ya mas?", tanyaku sambil membenarkan dasterku. Saat ini aku merasa lebih nyaman dengan daster selutut meski daster ABG bukan kaum emak-emak.
"Mau ngafe mungkin?", tanya Azka.
"Ngapain ngafe, di depan aja kaya kafe kok. Malah gratis!", jawabku.
Azka duduk di samping ku. Menempatkan kepalanya di pangkuan lalu menghadapkan wajahnya tepat di depan perutku yang sudah mulai membuncit.
"Kesayangan Daddy...sehat selalu ya Nak. Daddy sama mommy sayang sama kamu!", Azka menciumi perutku. Aku tersenyum melihat kelakuan calon bapak ini.
"Kenapa sih manggilnya harus Daddy mommy sih mas? Kaya yang di novel-novel gitu ya?", ledekku.
"Bukannya kamu yang pengen ?", dia menatapku.
"Hahaha lucu aca gitu. Muka kita kan lokal mas, ngga ada bule-bule nya masa manggilnya mommy Daddy???"
Azka terdengar menghela nafas. Namanya bumil, masih suka berubah-ubah pikiran. Sebentar Daddy, sebentar papa, sebentar ayah, jangan bilang nanti tinggal minta di panggil bapak?!
"Mau nya kamu aja apa yang???", kata azka sambil menciumi perut ku.
"Nanti kita pikirkan kalo dedeknya udah launching ya mas!"
__ADS_1
Azka menggangguk.
"Jadi, intinya kita ngga kemanapun sayang?", Azka Mengusap pipiku.
"Aku mau ngabisin waktu sama kamu seharian ini mas!", kataku lirih.
"Jadi...kamu mau kita begini terus?", tanyanya memicingkan sebelah mata nya.
"Heummmm...gimana ya mas. Pengen nya sih kaya tadi lagi. Tapi kayanya kamu capek!", kataku sedikit malu-malu.
Azka bangkit dari pangkuan ku.
"Kaya tadi lagi? Memang belum puas ?" bisiknya tepat di telinga ku.
"Kan kamu yang kerja mas, aku pasrah aja menikmatinya."
"Hehehe becanda sayang....!", aku menoyor pipinya. Sedang Azka sendiri justru melotot padaku.
"Ngga bisa gitu lah sayang. Kamu harus tanggung jawab!", katanya.
"Aku mau...aku pengen...tapi kasian kamu mas... aku takut kamu kecapekan?", aku menakupkan kedua tanganku ke pipinya.
"Untuk hal lain mungkin capek, tapi untuk menyenangkan istri ngga ada istilah capek sayang!"
Dan siang menjelang sore ini kami kembali memadu kasih.
.
__ADS_1
.
.
Pagi hari sebelum nya....
"Terimakasih sudah menjamin kebebasan ku ,kak Dara!", kata Vicky.
Vicky mengenal Dara sebagai anak dari rekan bisnis papanya.
"Tapi ini ngga gratis Vicky!", kata Dara.
"Apa pun itu, asal tidak membuatku kembali ke tempat laknat itu!", kata Vicky emosi. Iya, Vicky jadi bulan-bulanan penghuni sel yang sama dengan nya. Badan nya yang atletis dan rupawan hampir tak berbentuk lagi karena ulah preman-preman yang ada di sel itu.
"Tidak akan! Semua akan aman selama kamu mau mengikuti perintah ku!"
"Katakan Kak, apa yang harus ku lakukan!"
Dara memberikan kunci apartemen dan mobil kepada Vicky.
"Tinggal lah di apartemen ku, dan itu kunci mobil. Untuk sementara kamu beristirahat sampai kamu siap untuk beraksi. Mengikuti semua perintah ku!", ucap Dara.
"Ambillah, kamu akan membutuhkan nya!", Dara melempar setumpuk uang.
"Terimakasih Kak!", ucap Vicky.
"Aku sudah kirim alamat apartemen mu!", dara pun meninggalkan Vicky.
__ADS_1
Lelaki tampan itu menatap punggung perempuan yang sudah membebaskan nya dari jeruji besi.