Menikahi Mantan Kekasih Ibu Tiriku

Menikahi Mantan Kekasih Ibu Tiriku
Ngidam


__ADS_3

Aku memainkan gitarku di kolam ikan samping rumah. Kulihat jam besar di ruang tengah sudah menunjukkan jam delapan malam. Tapi Azka belum ada kabar. Apa Azka berhasil membujuk Papanya?


Aku pasrah saja lah kalau memang aku harus putus sekolah. Memang ini salah ku, calon anak dalam rahimku tak salah apa-apa. Bukan tak mengharapkan kehadirannya, hanya saja mungkin dia hadir di waktu yang belum tepat. Tapi, aku yakin Allah yang sudah mengatur semuanya. Aku percaya, aku bisa melewati ini semua.


Aku kembali memainkan gitarku. Dengan piyama bercelana pendek, ku celupkan kaki ku ke kolam ikan. Petikan gitar dengan lagu melow kumainkan dengan syahdu.


Lagu thousand year nya Cristina Perry. Meski suaraku tak terlalu bagus, dan permainan gitar ku juga tak terlalu mahir tapi aku cukup menghayati lagu itu.


Di depan...


"Sisi, Nana tadi ke sini?"


"Tadi sore pak. Udah makan kok! Barusan juga minta di bawain es coklat sama black forest."


"Oh..oke. makasih Si!"


"Sama-sama pak!"


Azka menuju rumah pokok untuk menemui Najma.


"Sayang...!", sapa Azka saat dia menemukanku sedang bermain gitar di kolam ikan.


"Kamu udah pulang Ka?"


Azka duduk di samping ku, mengecup puncak kepalaku. Lalu meraih gitar yang sudah tak kumainkan.


"Kamu sudah makan sayang?", tanya Azka dengan tatapan penuh cinta.


"Sudah."


"Ya udah, kita istirahat aja di kamar. Memang kaki mu tak dingin dari tadi berendam?"


Aku menggeleng.


"Aku bingung mau ngapain di kamar sendiri. Jadi mendingan disini."


"Kamu kan bisa di depan sama Kak sisi?"


"Tadi toko ramai Ka!"


Azka merengkuhku dalam pelukannya. Memelukku erat sekali seperti orang yang takut kehilangan.


"Kamu dari rumah papa?"


"Iya."


"Lalu? Gimana hasilnya?"


"Papa masih bersikeras untuk mengeluarkan kita. Dan papa akan tetep mencari cara agar kamu bisa ikut ujian."


"Owh...aku pasrah saja lah ka!"


"Jangan sedih dulu sayang..."


"Nggak sedih Ka, udah nggak apa-apa. Mungkin aku di takdirkan hanya selesai sampai disini. Mengurus anak kita dan mengurus kamu."


"Semua belum selesai Na!"


"Maksud kamu?"


"Mama akan memimpin rapat sebagai ketua yayasan dengan komite dan guru-guru sekarang kita. Keputusan papa bukan lah keputusan mutlak. Kita berdoa saja, semoga mama bisa meyakinkan semua agar kamu bisa tetap sekolah di luar kamu adalah menantu keluarga Bhakti."


''Beneran Ka?"


Azka mengangguk mantap.


"Kamu sabar saja, nikmati istirahat mu sebelum kembali ke sekolah!"


"Iya ka! Makasih ya?" aku mendongakkan kepala ku. Lagi-lagi, aku tak tahan melihat leher suamiku. Aku menelusup menuju leher Azka.


"Na...aku...belum mandi...", bisik Azka.


"Aku suka baunya Ka...!"


"Ya udah, ayo ke kamar. Aku mau bebersih dulu. Setelah itu terserah kamu mau apain aku!"

__ADS_1


"Nggak mau!"


Azka hanya pasrah dengan yang istri kecilnya lakukan. Meskipun dia tahu, istrinya hanya akan menggantung hasratnya. Karen dia tahu, istrinya hanya ingin melakukan hal itu tak lebih.


Usai puas menggerayangi leher suaminya, Nana pun duduk kembali di pinggir kolam.


"Aku mandi dulu ya sayang?"


"Mandi bareng mau?", Najma menwarkan diri.


Aduh...akan beda ceritanya Najma! Batin Azka.


"Em...jangan lah, udah malem. Kamu udah mandi kan. Kasian kalau dedeknya ntar masuk angin!"


"Oh, ya udah deh sana! Ntar aku nyusul ke kamar!"


Azka pun bergegas menuju kamarnya lalu mandi di kamar mandi dalam kamarnya.


*****


"Lho, kirain udah tidur sayang?", tanyaku saat Najma berbaring ditempat tidur.


"Gimana bisa tidur, kamu masih di kamar mandi."


ucapan Nana terdengar sangat manja. Apa ini salah satu efek dari hormon kehamilan?


"Ya udah, sini bobok nya Kupeluk ya?"


"Nggak mau!"


"Terus?"


"Aku...aku mau...kita....!", kata Nana tersendat-sendat.


"Ayok!", aku bersemangat.


Senyum sumringah menghias wajah imut Najma.


Setelah tahu Nana hamil, kini aku harus lebih berhati-hati melakukan nya. Masih bisa melakukannya saja sudah bersyukur, dari pada tidak sama sekali.


"Ka...!", bisik Najma di telingaku usai kami melakukan kewajiban kami tadi.


"Kamu sudah beneran cinta sama aku?"


"Kenapa kamu tanya seperti itu sih sayang? tentu saja aku sangat...sangat...sangat mencintai mu!" ku kecup mesra bibir pink alaminya.


"Apa sikapmu akan selamanya begini ke aku Ka?"


"Begini gimana?"


"Kamu akan selalu lembut dan romantis seperti ini?"


"Hem... insyaallah!"


Najma menelusup kan kembali wajahnya di tengkuk ku. Ah, Najma...jangan bikin kepengen mulu kenapa sih?


"Lalu, kamu sendiri apa udah cinta sama aku?"


"Sangat, aku sangat mencintai mu Azka!"


Kueratkan pelukan ku pada Najma.


"Tidur lah, kamu pasti lelah. Besok pagi, kamu ikut aja ke kantor. Aku nggak mau kamu kesepian."


"Aku boleh ikut?"


"Tentu saja!"


"Apa aku tak menggangu pekerjaan mu?"


"Ganggu apa sih?"


"Gimana kalau kamu lagi kerja, aku ingin ini itu. Ingin.... seperti ini misalnya?"


Aku tersenyum geli mendengar ucapan istriku ini.

__ADS_1


"Aku akan meninggalkan pekerjaan ku demi menuruti kemauan kamu!"


"Benarkah?"


"Tentu saja!"


"Terimakasih sayang....!"


"Iya, sekarang kamu tidur ya?"


"Iya, tapi... sekali lagi ya?"


"Hah? kamu nggak capek?"


Najma menggelengkan kepalanya.


Baiklah Najma, dengan senang hati aku melakukannya. Jangankan sekali, berkali-kali pun aku mau asal sama kamu!


Malam romantis kami lewati hingga pagi hari. Najma terlelap dalam pelukan ku.


*****


"Sudah siap?"


"Sudah!"


Azka menggandeng tanganku menuju toko depan. Semua mata tertuju pada kami berdua.


"Biasa we ningali teh....!", kata kak sisi. Aku paham yang kak sisi katakan.


"Tau tuh, kaya nggak pernah liat orang cantik dan orang ganteng aja!"


Karyawan ku tertawa mendengarnya.


"Mau kemana pagi-pagi begini?"tanya sisi.


"Mau ikut Azka ke kantor."


"Nggak bete nungguin suami kerja?"


"Bete ya tinggal jalan-jalan aja. Di hotel juga banyak yang bisa di lihat kan Ka?"


"Iya."


"Ke kantor apa ke hotel?",sisi penasaran.


"Kantornya Azka kan di dihotel Kak sisi!"


"Owh....!"


"Ya sudah Kak sisi, kita jalan dulu ya? Dah...!"


"Iya. Hati-hati lho!"


"Siap kak sisi!"


Mobil pun perlahan menjauh. Saat tiba di perempatan, tiba-tiba Azka menepi.


"Lho, kok berhenti. Mau ngapain?"


"Aku mau beli rujak, tuh...!" ,tunjuk Azka.


"Aku nggak lagi ngidam rujak ko?"


"Ngidam? Nggak, aku yang pengen. Bentar ya?"


"Kamu sepagi ini kok mau makan rujak Ka?"


"Iya, bentar ya sayang!"


Azka pun bergegas meninggalkan ku didalam mobil. Setelah berapa lama dia kembali.


"Cobain dek, enak deh!", Azka menawariku.


"Aku...aku...nggak bisa makan yang asem Ka?!"

__ADS_1


Bagaimana nggak asem, isian rujaknya mangga muda sama dondong muda. Jangan ditanya seperti apa asamnya!


Gue yang hamil, dia yang ngiler sih?


__ADS_2