
Aku masuk ke dalam rumah ku. Kulihat Azka sedang berdiri memegang gelas, bersandar di meja dapur. Azka menelisik wajahku sejak aku masuk ke rumah.
"Sayang? Kamu kenapa?", Azka meletakkan gelasnya lalu menghampiri ku.
Kedua tangannya menakup di kedua pipiku.
"Ada apa sayang?", tanya Azka penuh perhatian. Tanpa menjawab apa pun, aku menenggelamkan kepala ku di dada bidangnya meski sedikit terhalang oleh perut buncit ku. Azka membiarkan ku nyaman di pelukannya untuk beberapa saat. Setelah beberapa menit berlalu, Azka menggiring ku duduk di sofa.
Kami duduk bersebelahan, tangan azka merengkuh bahuku.
"Udah bisa cerita?", tanya azka sambil mengangkat daguku. Aku pun mengangguk.
"Aurel ke sini mas."
"Oh ya? Mana? Kok ngga ikut masuk?", tanya Azka antusias.
Aku menggeleng pelan. Lalu kembali memeluk suamiku.
"Aurel ke sini sama Vicky mas."
Azka masih konsen mendengar cerita dariku.
"Aku bilang sama Aurel kalo Vicky bukan cowok yang baik buat Aurel. Tapi dia ngga terima mas, dia malah ngatain aku cemburu karena pernah menolak Vicky dulu. padahal aku udah bersuami kamu mas. Aurel bilang, dia lebih kenal Vicky dari pada aku karena mereka memang kenal dari kecil. Aku sedih mas. Aku hanya takut kalo Aurel...kalo Aurel jadi korban Vicky mas. Aku ngga mau kalo Aurel kenapa-kenapa."
Azka mengusap kepala dengan lembut dan sesekali mencium puncak kepalaku.
"Aku salah mas kalo pengen jagain Aurel dari Vicky? Vicky ngga sebaik yang Aurel pikir mas."
"Kamu ngga salah sayang. Maksud kamu memang baik. Kamu sayang dan peduli sama sahabat kamu. Tapi...mungkin...kamu mengatakanmya di waktu yang tidak tepat."
Aku meregangkan pelukan kami.
"Maksudnya?", tanyaku sambil mengernyitkan alisku.
"Gini sayang...selama ini, kamu jadi sahabat Aurel tahu ngga kalo dia udah punya pacar atau pernah naksir cowok?"
"Setahuku, Aurel ngga pernah pacaran mas."
"Ngga pernah cerita juga kalo dia naksir cowok?"
Aku terdiam dan berpikir. Apa aku melupakan sesuatu?
"Aku rasa Aurel ngga pernah cerita soal cowok lain. Tapi memang, Aurel dekat sama Vicky dari dulu mas."
"Nah, mungkin dari situ kamu bisa ambil kesimpulan. Aurel merasa jauh lebih mengenal Vicky karena memang mereka kenal dari kecil. Sedangkan kamu, kamu hanya mengenal Vicky sekilas bahkan kedekatan kalian hanya sampai batas pertemanan. Tidak lebih dari itu. Jadi, saat kamu mengatakan semua kejahatan dan kejelekan Vicky...itu sia-sia sayang."
__ADS_1
"Aku cuma khawatir mas. Kalo sampai Vicky nyakitin Aurel gimana?", tanyaku masih dengan cemas.
"Sayang, jangan nethink dulu. Barangkali mungkin hubungan mereka serius. Yang penting Vicky ngga nyakitin kamu sayang. Insyaallah Aurel baik-baik saja. Sepertinya yang dia bilang, mereka lebih mengenal satu sama lain di bandingin kamu."
Azka menowel hidung ku yang sedikit pesek tapi seksi lah...
"Jadi, aku harus biarin mereka gitu aja mas?"
"Yang penting dari awal kamu udah nasehatin Aurel sayang! Urusan dia mau denger kamu atau ngga, ya udah biarin aja. Toh ...peduli itu tidak harus serta merta mencampuri urusan pribadi mereka kan?"
Aku mengangguk paham. Tiba-tiba saja tendangan si utun begitu kencang membuat ku terpekik.
"Awssshhh....!", desisku. Azka yang berada di samping ku mendadak panik.
"Ada apa sayang?", tanya azka sambil mengusap perut ku.
"Ada yang sakit? Kita ke dokter ya? Ayok!", Azka siap-siap mengangkat ku.
"Ngga mas!", aku menggeleng sambil meringis. Azka kembali duduk di samping ku.
"Terus kenapa? Kalo ada yang sakit, bilang sama mas doang."
Aku tersenyum tipis melihat kepanikan Azka.
"Si utun nendangnya kenceng banget mas. Sampe nyeri, hampir kebelet pipis heheheh."
"Issssh...ini ulah utun?", tanya Azka gemas sambil mengusap-usap perutku, sedangkan dia jongkok di depan ku. Dia menciumi perut ku dengan gemas. Di letakkan telinga nya di atas perut ku. Tiba-tiba saja di utun kembali membuat ulah. Dia menendang ayahnya.
"Eh ... anak ayah nendang ayah ya? ihhh....gemes, ngga sabar pengen liat kamu secepatnya sayang!", kata Azka penuh haru. Aku memangku kepala azka, tak lupa aku mengusap kepalanya. Apa dia sebahagia ini memilik anak bersama ku?
"Nanti kalau udah waktunya lahir juga lahir mas." Azka mendongak menatap wajah ku.
"Iya, mas cuma ngga sabar sayang!", sahut Azka sambil tersenyum.
"Mau pulang apa tidur di sini?", tanyaku. Azka melihat jam di tangannya. Sudah hampir setengah lima sore. Arah rumah ku menuju rumah papa pasti sangat padat di jam sibuk seperti ini.
"Kalo mau bobo sini ngga apa-apa kok sayang? Aku kan ngga ke mana-mana."
.Aku pun merasa senang, karena aku memang merindukan kamar ku.
"Ya udah ,kita ke kamar yuk. Apa mau mandi bareng? Kayanya di rumah mama ngga nyaman. Kalo di sini, kita mau mandi sambil ehem...ngga ada yang gerecokin."
Azka menaik turunkan alisnya.
"Serius cuma mandi?", tanyaku sambil melipat tangan di dada.
__ADS_1
"Eum... plus-plus lah sayang."
"Oke, tapi ada syaratnya!"
"Apa?"
"Gendong!", kataku manja. Azka pun tanpa berpikir pun menuruti keinginan ku.
.
.
Saat ini sepasang kekasih baru itu sudah ada di dalam mobil. Kedua remaja itu terdiam dan sibuk dengan pemikiran masing-masing.
Vicky meraih punggung tangan Aurel, lalu mengecupnya. Aurel cukup terkejut merasakan perlukan Vicky.
"Kamu mikirin omongan Nana?", tanya Vicky. Aurel pun mengangguk.
"So...? Kamu lebih percaya sama siapa? Nana atau pacar kamu yang sudah kamu kenal dari kecil?", kini Vicky mengusap pipi Aurel. Aurel tersipu malu meski hanya usapan di pipinya. Nyatanya jantung nya berirama tak menentu.
"A...aku percaya sama kamu kok Kak. Aku cuma ngga percaya aja, kenapa Nana ngomong kaya gitu. Kayanya dia ngga seneng aja liat aku bahagia sama kamu kak. Mungkin dia cemburu, atau nyesel udah nolak kakak dari dulu."
Vicky terkekeh pelan. Lalu ia menepikan mobilnya.
"Lho? Ngapa berhenti kak?", tanya Aurel. Dia celingukan karena mereka berhenti di tempat yang cukup sepi.
Vicky mengelus puncak kepala Aurel dengan penuh kasih sayang. Wajah Aurel bersemu merah. Tanpa aba-aba, Vicky mengecup puncak kepala Aurel. Aurel membeku beberapa saat.
"Kamu harus percaya sama aku ya sayang? Mulai sekarang, ngga usah temuin Nana lagi. Oke?"
Aurel pun mengangguk patuh. Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanan. Vicky mengantar Aurel sampai ke depan gerbang.
"Mau mampir kak?", tanya Aurel basa-basi.
"Lain kali Rel. Aku langsung pulang ya?", pamit Vicky. Aurel pun mengangguk sambil tersenyum manis.
Vicky kembali mengendarai mobilnya menuju apartemen yang di beri oleh dara. Belum terlalu jauh, tiba-tiba ponselnya berdering. Dan...Dara yang menghubunginya.
[Ya kak?]
[Lo, udah deketin Aurel?]
[Udah. Semua berjalan sesuai rencana kak.]
[Oke. Lo tunggu tugas dari gue selanjutnya]
__ADS_1
[Siap kak!"]
Panggilan itu pun usai. Vicky tersenyum smirk. Dia tak pernah mau rugi. Dia bisa mendapatkan apa yang dia mau sekaligus melakukan pekerjaan dari Dara, bos nya saat ini.