
Azan subuh sudah berkumandang. Azka mengusap wajahku dengan lembut.
"Sayang, solat subuh dulu!"
Aku menggeliat. Perasaan baru tidur deh, udah pagi aja sih.
"Iya mas ...!"
Aku bangkit dari kasur ku lalu menuju kamar mandi. Setelah keluar dari kamar mandi, aku melihat suamiku sudah rapi dengan baju Koko dan peci nya.
"Jamaah ya sayang?!"
"Iya mas."
Kami pun menunaikan kewajiban kami selama beberapa menit. Tak lupa pula kami panjatkan doa dan juga meminta ampunan pad sang kuasa.
Hampir setengah enam kami masih duduk di atas sajadah.
"Mandi dulu gih. Bentar lagi kita berangkat!", kata Azka sambil mengusap kepala ku.
"Berangkat ke???"
"Puncak!"
"Puncak? Benarkah?".
"Iya. Kita ke sana. Makanya, siap-siap mandi. Aku tunggu di bawah sambil nurunin koper dan barang-barang yang akan kita bawa."
"Memang nya kamu udah beberes mas?"
"Udah. Hemm.... sayang?!"
"Iya. kenapa?"
"Udah konsisten manggilnya Mas???"
"Hehehe iya mas Azka ku sayang....!", kataku sambil mengusap pipinya. Dia tersenyum sangat tampan.
"Makasih....!", tangannya meraih tanganku yang ada di pipinya.
"Ya udah, aku mandi dulu."
__ADS_1
"Iya."
Dua puluh menit kemudian.....
Aku menuruni tangga perlahan. Kulihat Azka sudah duduk di meja makan. Dan bibik pun sudah menyiapkan makanan di atas meja.
"Sarapan dulu Non!", pinta Bibik.
"Nggak ah. Belum pengen makan. Apalagi makan nasi. Masih pagi banget."
Aku duduk di sebelah Azka yang sedang meminum susu. Aku memandangi yang sedang sibuk dengan ponselnya. Tapi dia tersadar saat aku memperhatikan nya.
"Kenapa sayang? Mau susu nya?", tanya Azka sambil menulis gelasnya padaku.
Aku menggeleng.
"Lalu??"
"Aku mau sarapan pakai sate!"
"Hem...ya udah, nanti kita beli di jalan. Mau?"
Aku mengangguk.
"Ya udah deh. Aku ke depan aja dulu. Mau minta pastry aja. Kamu habiskan saja kopinya dulu. Aku tunggu di depan."
"Iya. Sebentar lagi aku juga ke depan."
Bibik memperlihatkan interaksi keduanya.
"Sudah bisa saling menerima bukan?", tanya bibik. Azka pun tersenyum.
"Anak itu menggemaskan bik. Untuk apa saya menolak nya?", kata Azka.
"Semoga kalian selalu bahagia ya. Bibik seneng, liat Non Nana bisa ceria lagi."
"Insyaallah bik. Saya akan berusaha membuat Nana bahagia bersama saya."
"Bibik doakan pak. Semoga kebahagian selalu menyelimuti keluarga kalian. Dan Allah senantiasa melimpahkan rahmat-Nya dan melindungi kalian."
"Aamiin... makasih bik. Oh iya bik, boleh minta tolong?"
__ADS_1
"Tolong apa?"
''Titip toko sama rumah ya selama kami pergi."
"Iya pak,tenang aja."
"Satu lagi."
"Apa?"
"Bawain bekel buat di jalan. Nana bilang belum lapar,tapi siapa tahu nanti di jalan tiba-tiba pengen makan. Kan biasanya nggak bisa di bilang nanti dulu."
"Haha iya, namanya juga orang ngidam."
"Saya ke depan deh. Mau naroh koper bagasi. Nanti bibik tolong langsung bawaan ke mobil aja ya kalau udah beres."
"Siap pak?!", kata bibik.
Azka pun meniggalkan meja makan lalu mengangkut koper nya untuk di letakan di bagasi.
Azka juga sudah menyiapkan tenda, barangkali Nana ingin camping di sana. Tapi....hanya di depan vila. Minimal, dia merasakan sensasi tidur di tenda. Lagi pula, cuaca di puncak tidak bisa di prediksi. Dari yang cerah, tiba-tiba hujan.
Azka sudah membereskan mobilnya. Bibik pun sudah membawa kan bekal untuk Nana.
Azka pun menuju ke toko kue nya. Dilihatnya sang istri masih duduk manis sambil menikmati jus jeruk hangat dan memakan satu slice piza.
"Sudah sarapan nya?", tanya Azka yang duduk di hadapan ku.
"Sudah mas. Kalau udah selesai semuanya, bisa berangkat sekarang? Takut macet!"
"Sudah siap semuanya nyonya Azka!", candanya. Aku pun terkekeh geli, aku di panggil nyonya???
"Sisi belum berangkat?", tanya Azka.
"Belum. Ternyata dia sakit karena mengalami morning sickness mas. Alhamdulillah, kak sisi hamil juga."
"Alhamdulillah!"
"Ya udah kita jalan sekarang?"
"Ayok!"
__ADS_1
Aku pun berpamitan dengan bibik. Dan kami pun segera melesat dengan mobil Azka yang ukurannya lebih kecil dibandingkan milik bunda. Meski kecil, kami merasa lebih nyaman menggunakan nya.