Menikahi Mantan Kekasih Ibu Tiriku

Menikahi Mantan Kekasih Ibu Tiriku
Gila!


__ADS_3

Meeting yang diadakan oleh pihak Andara Co. sudah dimulai sejak sepuluh menit yang lalu. Andara Co. yang tak lain adalah perusahaan milik orang tua dara yang sejak beberapa tahun terakhir di kelola olehnya.


Selain pihak Dara, hadir pula Azka yang mewakili Bhakti Group serta salah satu investor asing yang berada di ruang rapat itu. Kesepakatan kerja sama pun terjalin di antara mereka semua.


Investor asing itu pun sudah keluar dari ruangan tersebut. Tersisa Dara, asisten nya serta Azka. Azka datang sendiri karena Rania ijin tidak masuk bekerja hari ini.


Dara memberi kode agar asisten nya keluar lebih dulu. Saat Azka hendak beranjak, Dara memanggilnya.


"Tunggu Ka, aku mau bicara sama kamu!".


"Meeting udah selesai kan?", tanya Azka balik.


"Heum! Urusan pekerjaan memang sudah selesai, tapi urusan pribadi belum."


Azka memutar bola matanya jengah. Dia seolah tak memperdulikan ucapan dara. Kakinya terus melangkah menuju pintu keluar ruangan tersebut. Sayangnya, pintu itu terkunci dari luar.


Sial! Batin Azka.


Azka mengutak-atik ponselnya beberapa saat lalu kembali memasukkan nya kembali di saku celananya.


Dara menyeringai licik. Lalu menghampiri Azka.


"Aku sudah bicara baik-baik sama kamu Ka, tapi kamu malah ketus begitu!", kata Dara sambil memainkan kancing kemeja Azka.


Azka memundurkan badannya, menjauh dari Dara.


"Kamu sengaja mengunci ku di sini?", tanya Azka dengan wajah datarnya.


"Iya. Kenapa? Keberatan? harusnya sih ngga ya?!", kata Dara yang kini duduk di meja sambil menyilangkan kakinya di hadapan Azka.


"Maaf Dara, aku harus keluar. Istri ku menunggu di kantor!", kata Azka. Dara yang tadi nya tersenyum, kali ini merubah mimik wajahnya menjadi kesal.


"Tapi...aku pengennya kamu di sini Ka. Gimana dong?", kata Dara tiba-tiba mengubah raut wajahnya.


"Maaf Dara, aku ngga mau ada fitnah setelah ini. Aku sudah sering bilang sama kamu. Berhenti melakukan hal bodoh seperti ini! Aku laki-laki beristri! Jadi, please jangan pernah melakukan kebodohan apa lagi mempermalukan dirimu sendiri!"


Dara melipat kedua tangannya di dada.

__ADS_1


"Azka sayang....!", Dara kembali mendekati Azka bahkan sekarang lebih berani. Dara mengusap rahang tegas milik Azka.


Azka menampiknya tapi Dara menggenggam tangan Azka lalu menciumnya.


"Jangan gila kamu Dara!", kata Azka sambil menepis nya dengan kasar.


"Sayang...kok kamu kasar banget sih?", tanya dara semakin berani.


"Dara! Stop! Aku harus keluar dari sini. Aku masih bisa menahan diri agar aku tidak bersikap kasar padamu."


"Mau dong di kasarin....!", kata Dara dengan suara manjanya.


"Gila!", Azka mendorong tubuh Dara dari hadapannya.


"Kamu yang bikin aku tergila-gila tahu Ka. Kamu!", bentak Dara.


"Dara, please! udah sering aku bilang, kita hanya berteman tidak lebih! Jangan memaksa perasaan orang lain untuk terima perasaan kamu dong. Oke, aku hargai perasaan kamu selama ini. Tapi maaf, sampai kapan pun aku hanya menganggap mu teman. Hanya teman!"


"Apa sih kelebihan bocah itu Ka? Apa? Aku jauh lebih cantik! Lebih dewasa! Apa kurang ku Ka?"


"Bukan tentang kelebihan dan kekurangan Dara. Aku dan istriku saling mencintai, itu saja!"


"Jaga ucapan mu Dara!", hardik Azka. Dia tidak terima jika istrinya di salahkan oleh Dara.


"Aku cinta sama kamu Azka! Cinta!", katanya lagi.


Azka sudah lelah melihat drama Dara.


"Maaf Dara, aku harus pulang!", kata Azka sambil menggedor-gedor pintu meminta siapapun di luar membukakan pintu.


"Kamu ingin keluar dari sini?", tanya Dara yang tiba-tiba sudah memeluk dari belakang Azka. Azka sedikit terkesiap.


"Lepas dara!", bentak Azka.


"No!", Dara mengeratkan pelukannya sambil sekuat tenaga menghentakan tangannya yang melilit perut ku. Dan benar saja, Dara langsung mundur menjauh dariku karena tangan ku berhasil menghalau tubuhnya.


Aku menggedor pintu.

__ADS_1


"Tolong siapa pun di luar! Bukakan pintu ini!", teriak Azka.


Brak...brak...brak...


Tak ada yang membukanya. Dara yang merasa menang pun menyeringai puas.


"Ini kantorku azka. Mereka tentu saja lebih mendengar perintah ku dari pada siapa pun."


Apa azka selemah ini? Tidak, di hanya sedang menciptakan drama!


Brak...brak...brak....


"Tolong siapa pun di luar, bukakan pintu ini!", teriak Azka dari dalam.


Dan tiba-tiba saja pintu ruangan itu pun terbuka. Siapa yang membukanya????


"Dara?!", pekik orang itu setelah berhasil membuka pintunya.


"Papa?", gumam Dara.


"Om!", sapa Azka. Ya, papa nya Dara yang membuka pintu ruangan itu.


Setelah tahu pintu ruang itu terkunci dari luar, Azka menghubungi papanya Dara yang ada di lantai atas. Azka menyalakan panggilan itu kepada papanya Dara. Papa dara mendengar semua percakapan antara Azka dan Dara. Azka tidak ingin nantinya ada ucapan buruk yang menimpa dirinya.


"Maaf om, jika saya merepotkan. Tapi kali ini saya buru-buru, istri saya menunggu di kantor."


"Iya Ka, maaf ya!", kata papa Dara menepuk bahu Azka. Azka pun mengangguk hormat setelah itu meninggalkan dara dan papanya.


"Keterlaluan kamu dara! Dimana harga diri mu sebagai wanita. Bisa-bisanya kamu mengunci suami orang di ruangan tertutup seperti ini. Bagaimana kalo jadi fitnah ? Pikir dong dara!"


"Papa dengar semua?", tanya Dara memastikan.


"Ya! Papa dengar semuanya!"


Dara menatap jengah papanya.


"Kalo kamu masih saja mengganggu rumah tangga Azka, terpaksa! Papa akan menjodohkan mu dengan pria pilihan papa! Paham kamu!", kata Papa Dara sambil berlalu dari ruang rapat itu.

__ADS_1


Dara semakin emosi mendengar penuturan papanya. Dia melempar apa pun yang ada di ruangan itu.


"Aaarrrggghhh....Azka! Kamu cuma milikku Azka! Cuma milikku!", Dara berteriak di dalam ruangan itu. Tak ada seorang pun yang berani mendekat termasuk asistennya.


__ADS_2