
Azan ashar berkumandang sejak setengah jam yang lalu. Saat ini aku dan Azka tengah duduk di tepian kolam ikan di samping rumah.
"Mas!", panggil ku.
"Heum. Kenapa sayang, butuh sesuatu?", tanya Azka penuh perhatian.
"Apa kamu benar-benar sudah mencintai ku? Melupakan cintamu sama bunda ku?", tanyaku sambil menatap wajahnya.
Ku dengar Azka menghela nafasnya.
"Tentu saja aku mencintaimu Najma sayang ...! Ngga cuma kamu, tapi juga anak kita!", jawabnya sambil mengelus perut ku yang semakin hari semakin buncit. Dan ternyata usapan tangan azka membuat si utun merespon.
"Eh...sayang, dedek utun nyenggol ayah!", kata Azka riang.
"Ayah, Daddy ,papa atau bapak?", candaku.
"Ishhh... lama-lama ganti lagi deh panggil nya, Abi sama umi!", jawab Azka.
"Hahaha ngga ah, kesannya terlalu alim. Padahal aku mah masih gini-gini aja!"
Azka merebahkan kepalanya di pangkuan ku. Wajahnya menghadap ke perutku. Sesekali menciumi perut buncit ku.
"Sayang, tolong jangan pernah menanyakan seperti apa perasaan ku ke kamu. Apa kamu masih ragu sama ketulusan cinta ku ke kamu selama ini Na?", tanya Azka sambil menatap wajah istri nya dari bawah.
"Aku hanya takut kamu masih menyimpan rasa itu mas. Meski aku tahu, seperti nya tidak wajar aku cemburu pada bunda terlebih beliau sudah tiada!", aku mendesah pelan.
"Terimakasih kamu sudah menunjukkan rasa cemburu mu sayang. Itu artinya, kamu memang sudah mencintai ku dan menerima pernikahan kita seutuhnya." Azka menyentuh pipiku dengan telapak tangannya.
__ADS_1
Aku meraih tangan azka, lalu kami saling menggenggam tangan seolah takut kehilangan.
"Ehemmm!", suara deheman menyadarkan keadaan kami yang sedang bergenggaman tangan.
"Assalamualaikum!", papa memberi salam.
"Walaikumsalam!", jawab aku dan azka bersama-sama.
"Pa!", sapa Azka. Aku pun turut tersenyum tipis.
"Kok sendiri, mama mana pa?", tanyaku karena memang aku tak melihat keberadaan ibu mertua ku.
"Biasa lah mama mu kumpul sama teman-teman sosialita nya Na!", kata papa sambil duduk di sebelah kami.
Aku hanya membulatkan mulut ku.
"No! Apaan sih pa, nggak! Istri aku masih ABG. Ngga rela aku nya kalo Nana bergaul dengan emak-emak rempong macam mama. Big No!", sahut Azka.
"Gitu-gitu juga mama mu Ka!", sahut papa.
"Biarlah Nana bergaul sama teman seusianya. Kalo Nana minta tas branded atau sejenisnya tinggal liat di internet, pasti Azka beliin kok!", kata azka lantang. Aku mencubit pelan pinggang nya.
"Emang kamu pikir istri model perempuan kaya gitu? Maksud papa tuh, biar Nana bergaul. Ngga di rumah mulu, kan kasian ngga ke mana-mana!", ujar papa.
"Sikon nya sedang tak memungkinkan untuk pergi-pergi, kecuali kalo sama aku pa!", kata azka meyakinkan sekali.
"Terserah kamu lah Ka. Dasar bucin!", papa bangkit dari tepi kolam.
__ADS_1
"Kaya sendiri nya aja ngga Pa!", sindir Azka. Tapi papa mengabaikan ucapan Azka.
"Kamu sama papa sekarang berubah ya mas. Beda ngga kaya waktu kamu masih mengajar!"
"Beda nya di mana?" tanya azka merubah duduknya jadi bersila kaki.
"Iya beda, dulu perasaan papa orang yang serius banget. Apalagi waktu tahu aku hamil mas pas di sekolah. Beuuuh....meuni sieun urang, kata kak sisi begitu!"
"Hahaha...Nana...Nana... kebanyakan gaul sama kak sisi jadi kemampuan bahasa daerah mu meningkat!", ledek azka.
"Iya lah!", jawabku bangga.
"Sebenarnya papa ngga setuju kalo mas ngajar. Papa maunya mas lanjutkan bisnis kami. Dan... karena insiden kehamilan kamu yang ketahuan papa, ya ... peluang papa biar aku ngga ngajar semakin besar.Hasilnya kaya sekarang, aku kerja sesuai kemauan papa."
"Asal kamu ikhlas , insyaallah berkah dan bermanfaat kan mas!"
Azka merengkuh bahuku. Lalu mengecup puncak kepalaku.
"Iya, karena mas ingin memenuhi semua kebutuhan kalian. Entah itu materi atau kebutuhan batiniah."
"Semoga Vicky sudah ngga ganggu kehidupan kita lagi ya mas setelah kita di sini. Aku pengen kita tentram seperti kemarin-kemarin!", kataku membalas pelukannya.
"Insyaallah, mudah-mudahan ya sayang. Eh...udah sore, mau mandi lagi ngga ?", tanya Azka.
"Mandi lagi lah mas. Tapi mandi bareng ya?", kataku sambil menaikkan salah satu alisku. Azka tersenyum tipis.
"Dengan senang hati baby!", kata azka sambil mengangkat ku ala bridal menuju kamar kami di lantai atas. Aku pun mengalungkan tanganku ke lehernya.
__ADS_1
Aku merasa aman dan nyaman di rumah mertua ku ini, semoga Vicky tak lagi mengganggu ku.