
Azka mondar-mandir di depan ruang UGD. Perasaannya sungguh kalut saat ini. Cemas dengan kesehatan dan kesejahteraan istri sekaligus calon anaknya.
Dia merutuki dirinya sendiri yang tidak bisa menjaga istri dan anaknya dengan baik. Kesibukan di perusahaan dan hotelnya membuat ia mengesampingkan kepentingan keluarga nya sendiri.
Argggghhh...Azka meremas rambut nya. Dia tidak akan bisa memaafkan dirinya jika sampai terjadi sesuatu pada mereka.
Dengan sedikit lebih tenang, Azka duduk dan mengambil ponselnya. Mencari kontak papanya, lalu ia pun menghubungi orang tuanya tersebut.
[Halo pap?]
[Kenapa Ka?]
[Papa dimana?]
Azka terdengar lirih menghubungi papanya.
[Papa baru selesai rapat di yayasan Ka, sebentar lagi kan acara perpisahan sekolah. Tumben Ka, ada apa?]
[Pap...huhu...]
Azka menangis saat ingin mengatakan keadaan istrinya.
[Azka? Ada apa?]
Papanya yang tadi duduk kini pun bangkit, di ikuti sang mama.
"Ada apa sih pa? Azka kenapa?", tanya mama penasaran. Papa hanya menggeleng sebagai jawaban.
[Ada apa Azka? Jangan bikin papa cemas!]
[Nana pa, nana masuk rumah sakit. Tadi ...dia sempat di culik, di sekap, di lecehkan huhuhu
....]
[Astagfirullah!]
Papa menutup mulutnya dengan telapak tangannya sendiri.
"Ada apa sih pa? mama ingin tahu ih....!", kata mama sambil berusaha merebut ponsel suaminya. Tapi papa tak membiarkan nya. Dia takut, jika nanti istrinya shock.
Mama begitu menyayangi Nana melebihi anaknya sendiri,tidak sekadar seorang menantu .
[Kalian dimana sekarang? Papa dan mama sekarang ke sana!]
[Di rumah sakit Xxx ]
[Oke, kamu tenang. Kamu laki-laki Ka, jangan cengeng! Kami ke sana sekarang!]
Sambungan telepon pun terputus.
"Ada apa sih Pa? Mama tanya dari tadi ngga di gubris ih...!", kata mama dengan kesal.
"Kita ke rumah sakit Ma, menantu kesayangan mama masuk rumah sakit."
"Astagfirullah, anak perempuan mama kenapa pa? Terus calon cucu mama?", tanya Mama panik.
Benar dugaan papa, mama pasti akan kena serangan panik jika mendengar berita yang mengejutkan seperti ini .
"Tenang ma, kita ke sana!", papa merangkul pundak mama.
"Tapi Nana sama calon cucu kita ngga apa-apa kan Pa?"
"Mereka pasti ngga apa-apa ma. Udah ,mama tenang ya. Kita temui mereka sekarang Ma!"
__ADS_1
Mama pun mengangguk dan menggandeng papa menuju mobilnya.
Di sisi lain, di depan ruang UGD pria dewasa itu masih cemas menunggu kabar dari dokter yang menangani istrinya.
Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya dokter keluar dari ruangan menyeramkan itu.
"Dok... bagaimana kondisi istri saya Dok? Dan...dan...calon anak saya Dok? Mereka baik-baik saja kan dok?", cerocos Azka.
"Sabar pak ...sabar! Pasien hanya shock pa. Mungkin juga karena dehidrasi menyebabkan dia pingsan. Soal kandungan nya, alangkah baiknya jika setelah ini, di bawa ke dokter obygn. Agar lebih tahu detail nya seperti apa!"
"Iya dok!"
"Pasien bisa di pindahkan ke ruang rawat, silahkan anda ikuti prosedur nya pak!", pinta dokter.
Azka pun mengurus segala sesuatunya untuk sang istri dengan sebaik mungkin.
Perawat membawa Nana menuju ruang rawat nya. Azka masih mengikuti di samping brankar.
"Sayang...maafin aku!", kata Azka sambil mengelus pipi istrinya setelah semua perawat keluar dari ruangan nya .
Azka merogoh sakunya lagi, memberi tahu kedua orang tuanya yang belum tahu di mana ruangan Nana.
"Sssshhhh....!", aku memegang kepala ku yang terasa berdenyut.
"Sayang....mana yang sakit kasih tahu mas? Biar mas panggil dokter!", kata Azka panik sekaligus bahagia melihat ku siuman.
"Azka...hik...hik...!", aku menangis mengingat kejadian tadi.
"Stop Na, jangan menangis begini. Aku ngga bisa lihat kamu begini sayang. Ada aku disini , maaf....maafkan aku yang lalai menjagamu sayang!", Azka memelukku begitu erat.
"Aku yang salah...aku tak menunggu ijin dari mu Ka. Aku kotor Ka...aku menjijikan!", aku berusaha mendorong tubuh atletis suamiku.
"Ngga sayang....dia tak sampai melakukan itu pada mu Na."
Aku melepaskan pelukan suamiku saat ia melonggarkan pelukannya.
Ku gosok-gosok bibir ku, leherku dengan kasar.
"Sayang, kamu apa-apaan sih? jangan menyakiti diri sendiri Na!", Azka menggenggam tanganku agar aku tak melakukan itu lagi.
"Aku jijik mas, memang kamu ngga jijik sama aku? Ada bekas Vicky di bibirku! Di leherku, di
....ahhhhh!!!", aku meremas rambut ku.
Tapi lagi-lagi Azka merengkuh ku dalam pelukannya. Ada rasa tenang dan nyaman saat aku berada di dada nya.
"Sayang....aku ngga jijik...nggak sayang! Tenang ya!", aku diam dalam pelukannya. Azka menatap mataku yang sudah sembab.
"Aku akan menghapus bekas itu sayang!", kata Azka. Tanpa komando, Azka ******* bibir ku dengan mesra. Meski tak kasar, tapi aku merasa ia menyapu seluruh permukaan bibir hingga wajahku. Menghisap leher jenjang ku yang memang tak sedang berhijab, lalu turun ke dua aset kembar untuk beberapa saat.
Aku terpejam. Bukan menikmati, tapi aku hanya ingin membuang ingatanku tentang hal yang sudah Vicky lakukan seperti yang Azka lakukan padaku saat ini.
Kegiatan itu tak berlangsung lama. Azka kembali menatapku.
"Aku sudah menghapusnya sayang. Hanya ada bekas ku, sisa ku! Tidak ada yang lain!", ia menakupkan tangannya di pipiku.
Aku kembali menangis sambil memeluknya.
"Makasih Ka, kamu udah menerima ku yang...."
"Sssst....sayang, stop!", Azka mengeratkan pelukannya.
Tok...tok...
__ADS_1
Terdengar pintu di ketuk. Setelah itu muncullah mama dan papa.
"Nana, sayang!", mama menghambur memelukku.
"Ma...!", aku memeluk tubuhnya dengan erat.
"Sayang, kenapa bisa begini? Apa yang terjadi?", tatap mama pada anak lelakinya itu.
Lalu Azka menceritakan semuanya tanpa terkecuali kepada keduanya.
"Pokoknya mama mau anak itu di penjara seberat-beratnya Pa!", pekik mama.
"Mama nggak terima anak perempuan mama di giniin!", mama kesal sambil berapi-api.
"Sabar ma...jangan emosi! Kita bisa pikir dengan kepala dingin!"
"Tapi mama benar Pa!", kata Azka. Aku cukup mendengarkan mereka yang pasti membela ku mati-matian.
"Dengarkan papa!", papa duduk di sofa.
Atensi kami semua tertuju pada pria dewasa yang kami kenal bijak selama ini.
"Jangan lapor kan hal ini ke polisi!", kata papa memulai kalimatnya.
"Papa, ini ngga adil dong pa! Lagipula Azka sudah melaporkan Vicky ke polisi, mereka juga sudah meringkus nya!", kata Azka penuh emosi.
"Azka benar Pa!", mama mendukung Azka.
"Bisakah kalian berpikir jernih? Bagaimana jika khalayak tahu, jika Nana pernah di lecehkan? Apa dia akan baik-baik saja saat bertemu dengan orang-orang di luaran sana yang memandang nya miring? Apa kalian memikirkan hal ini?"
Papa benar! Apa aku punya muka jika sampai berita ini keluar ke permukaan? Istri seorang pengusaha muda di culik dan di lecehkan oleh seorang pria yang notabene pernah dekat dengan nya? Aku sepemikiran dengan Papa.
"Tapi pa, alangkah ngga adilnya kalau dia tetap bisa berkeliaran sebebasnya seperti itu!"
"Dia bebas, tapi sengsara!"
"Maksud papa?"
"Kita tarik saham dari perusahaan orang tuanya, papa pastikan mereka semua akan menderita."
"Pa...jangan begitu pa!", kataku pelan.
"Kenapa sayang! Itu yang terbaik, papa udah memikirkan itu!"
"Pa, di sini yang berbuat kesalahan kan hanya Vicky pa, keluarga nya tak tahu apa-apa."
Papa tersenyum smirk.
"Ada hal yang kamu tak tahu tentang perusahaan mereka dengan perusahaan papa Na. Sudah , percaya sama Papa. Bocah tengil itu akan menerima balasan nya yang sudah menyakiti anak perempuan papa!"
Aku jadi merasa terharu. Iya, aku yang yatim piatu, merasa memiliki keluarga yang utuh. Papa mendekati ku dan memelukku.
"Jangan pikir kan hal ini lagi. Serahkan sama papa. Kamu hanya fokus dengan kesehatan dan keselamatan calon pewaris Bhakti group!", kata papa. Aku menganggukkan kepalaku.
"Jangan lama-lama peluknya Pa!", kata Azka sambil mendorong lengan papa dari tubuh ku.
"Ya ampun Ka ,sama papa aja kamu cemburu?", tanya Mama.
"Biarin! Kalo mau peluk, peluk aja mama. Jangan Nana!", kata Azka ngegas.
"Dasar bucin!", kata papa sambil memeluk mama dari samping.
"Sama kaya yang ngomong!",sahut Azka. Aku hanya tersenyum melihat keharmonisan keluarga ku ini. Alhamdulillah.
__ADS_1