
"Mas, bisa lebih cepet nggak?"
"Memangnya Kenapa harus cepat-cepat? Ini kan memang jam macet sayang."
"Ka, aku lupa. Hari ini kan anak-anak gajian. Kenapa aku nggak siapin dari semalam. Aduh!", aku memegang kepalaku sendiri.
"Udah sih santai aja kenapa. Anak-anak juga nggak bakalan demo kalo sampe telat sehari."
"Bukan gitu ka, itu kan kewajiban kita. Malah, seharusnya kita bayar mereka sebelum keringat mereka mengering!"
"Mereka kan di ruang AC , nggak keringatan."
"Please Azka!", kataku mulai kesal. Tapi Azka justru tersenyum.
"Eh, aku kok pengen kebab ya Sayang!"
"Kebab?", tanyaku.
"Iya. Nah... kebetulan, itu di depan minimarket ada yang jualan kebab. Ayok Na, kita beli."
Azka pun menepikan mobilnya ke area Park minimarket.
"Kamu mau yang apa Na, pedes manis...asin...?"
"Aku doyan, cuma nggak terlalu suka Ka!"
"Oke kalau begitu.... Mas! Bikin dua puluh porsi ya! Kalau bisa cepetan!"
"Azka!", teriakku. Dan teriakan ku mengundang orang lain untuk menatap kami berdua.
"Kenapa sayang? aku mau , aku pengen banget!", kata Azka.
"Tapi nggak sebanyak itu Ka!", aku mencoba mengecilkan volume suaraku. Malu dilihat oleh orang yang sama-sama sedang mengantri.
'Anak kecil begitu pacaran sama om-om?' batin salah seorang pembeli.
'Mereka itu kaya om sama ponakannya, tapi kok manggilnya nama sih?' batin yang lain.
"Mas, bisa lebih cepet nggak?", tanya Azka.
"Sabar mas, antri dong. Kita juga mau beli lho, nggak minta!", sahut pembeli yang lain.
"Saya dulu deh, satu dulu nggak apa-apa deh. Saya pengen banget!", rayu Azka.
"Kamu jangan bikin aku malu Azka!", aku mencolek tangannya.
"ngapain malu, orang aku pengen."
Para pembeli hanya menggeleng-gelengkan kepala mereka.
"Maaf mas, yang lain aja dulu!", aku bilang ke penjualnya.
"Gini aja mas, mas kasih saya satu dulu. Nah, yang lainnya...mau beli berapa silahkan. Saya yang bayarin!", seru Azka.
"Serius mas?", tanya pembeli yang lain.
"Iya!", sahut Azka. Aku sampe nggak tahu harus ngomong apa lagi.
"Saya kasih lima ratus ribu cukup nggak mas, buat dua puluh porsi milik saya? sisanya buat mereka?", tanya Azka.
"Cukup mas...cukup!", kata si penjual. Azka pun memberikan lima lembar uang berwarna merah.
"Tapi maaf ya mbak, mas. Saya makan satu dulu ya!!", kata Azka.
"Ka! Kamu kenapa sih? Barusan kan kita makan? Nah, itu beli segitu banyak buat apa?"
"Buat anak-anak juga lah. Hari ini kan kamu telat ngasih mereka gaji, paling nggak ini kan ungkapan maaf atas keterlambatan gaji mereka Nana sayang!"
Azka berjongkok di depanku sambil mengusap perut ku.
__ADS_1
"Nak, Daddy makan kebabnya duluan ya? Kamu sama mommy nanti aja ya!"
Sontak, mata mereka menuju ke arah kami.
'Pantesan... ternyata lagi ngidam tuh masnya.'
Batin si pembeli.
Aku melihat Azka begitu menikmati makanannya.
"Sayang, kamu duduk dulu ya. Capek kan berdiri terus!", Azka menyodorkan bangku untukku.
"Mas nya yang ngidam ya mas?", tanya salah seorang ibu.
"Ngidam?", tanya Azka.
"Iya, istrinya hamil kan?", tanya si ibu.
"Iya, istri saya memang lagi hamil Bu. Doain ya, semoga istri dan calon anak saya sehat terus."
"Aamiin.... ngomong-ngomong makasih ya udah di traktir kebab nya."
"Sama-sama Bu, saya malah yang harusnya terimakasih. Kalian mau mengalah sama saya, padahal kalian duluan yang antri!"
"Nggak apa-apa mas!"
"Ka, kamu ngidam lagi? Tadi pagi rujak mangga? Sekarang kebab? Nanti malam apa?", tanyaku. Sontak pertanyaan ku membuat ibu-ibu di sebelah tersenyum-senyum.
"Biarin kenapa sih sayang!", kata Azka masih dengan mengunyah makanannya.
"Ini udah magrib Ka!", kataku.
"Masih lama nggak mas?", tanya Azka.
"Dua porsi lagi mas!", jawab si penjual.
"Udah mas, segitu aja nggak apa-apa. Serius!", kataku.
"Masyaallah...Ka! Kamu mau nyaingin gedenya perut ku???"
"Gampang, ntar tinggal fitnes lagi kan bisa. Kalau kamu kan paling nggak sampe Dede bayinya lahir."
"Terserah kamu deh Ka! Tapi abis ini cepet ya nyetirnya. Aku belom siapin gaji anak-anak.x
"Sayang, santai aja. Semalam udah aku siapin kok. Udah aku titipin ke Sisi juga. Nanti sisi tinggal ngasih amplop ke mereka!"
"Hah? Masa sih?", tanya ku setengah tak percaya.
"Iya, semalam habis kamu tidur aku bikin laporannya. Kecil lah, cuma laporan gitu doang."
Ternyata obrolan kami membuat seseorang memberanikan diri untuk bertanya.
"Adek ini, pengusaha?", tanya nya padaku.
"Hem, bukan bu. Cuma punya toko kue kecil-kecilan aja kok!", kataku.
"Suaminya?", tanya si ibu lagi.
"Saya? Saya cuma guru honorer yang baru di pecat Bu hehehej!", kata Azka.
"Ka! Bikin malu aja sih kalau ngomong. Kenapa kamu jadi aneh begini sih?????", tanyaku heran.
"Pak Azka? Nana?", tanya Rania.
"Kak Rania?", tanyaku kaget.
"Kok kalian di sini?", tanya Rania heran.
"Tau tuh bosmu Kak. Ngebet banget sama kebab."
__ADS_1
"Enak tahu Ran, kamu mau? Pesen aja ,nanti aku yang bayar!"
"Iya pak, makasih!", jawab rania.
"Mbak Rania, memang mas itu siapa?", bisik seseorang yang ternyata tetangga Rania.
"Itu bos saya Bu!", bisik Rania tak kalah pelan.
Hah? Bos nya Rania? Jadi...mas itu yang punya hotel tempat Rania kerja? Dan...itu istrinya? Luar biasa....batin si ibu.
"Alhamdulillah. Sudah selesai semua mbak, mas!", kata si penjual.
"Oke, makasih ya mas. Makasih semuanya yang sudah mau mengalah demi saya."
Mereka semua hanya mengangguk.
"Kak Rania, kami duluan ya. Mari ibu-ibu, mas mbak!", sapaku.
"Iya mbak, silahkan!", jawab mereka kompak.
Aku dan Azka pun kembali ke mobil.
"Rania, dia beneran bos kamu?", tanya si ibu masih penasaran.
"Iya, kenapa Bu?"
"Kok mau sih beli di tempat begini? Dia kan orang kaya? Maap mas Jul, bukan maksud lho ya???"
"Santai aja buk!", jawab mas Jul.
"Bos ku emang gitu Bu. Baik banget, nggak sok lah pokoknya. Dirumah istrinya aja, dia masih mau lho nyapu ngepel!", jawab rania sekenanya.
"Masa sih????", pembeli yang masih antri sontak terkejut.
"Biasa aja kali."
Rania kembali mengambil posisi duduk.
"Tapi, istri nya masih...muda banget ya?", tanya yang lain.
"Iya jodohnya buk." Rania tak mau menanggapi lebih lagi.
******
"Assalamualaikum!"
"Walaikumsalam!", jawab anak-anak kompak sambil berbaris di depan etalase.
"Ada apa ini?", tanyaku heran. Mereka semua hanya senyum-senyum.
"Terimakasih Nana dan Pak Azka! Gaji sama bonusnya banyak sekali. kami jadi seneng banget!", seru kak sisi.
"Oh ya? Benar begitu mas?", tanyaku pada Azka.
Azka hanya mengangkat bahunya.
"Oh iya, ini. Tadi Nana beli kebab buat kalian, bagi rata ya!", Azka memberikan kantong makanan untuk karyawanku.
Ya Allah Azka, kamu memperhatikan mereka banget ya? Sedangkan aku? Aku malah tak melakukan apapun.
"Terimakasih Nana...pak Azka!", kata mereka kompak.
"Ya udah ya kita masuk ya. Belum solat magrib!"
"Iya, silahkan!"
Aku dan Azka pun masuk ke dalam rumah. Bergantian mengambil air wudhu. setelah itu kami solat magrib berjamaah.
"Na, bentar lagi isya. Sambil nunggu azan isya, tadarusan aja dulu ya?"
__ADS_1
"Boleh!", aku pun setuju dengan usulnya.
Kami sudah membaca surat Yusuf dan Maryam bersama-sama. Semoga kelak anak ini akan menjadi anak yang salih atau saliha.