Menikahi Mantan Kekasih Ibu Tiriku

Menikahi Mantan Kekasih Ibu Tiriku
Aurel jadian


__ADS_3

"Kok ngga jadi makan di sini sih sayang?", tanya Azka yang sudah di seret oleh ku.


"Mendadak pengen red Velvet yang di rumah mas. Yok ah!"


Azka yang bingung dengan mood istrinya yang mudah berubah pun mengiyakannya.


Ke-duanya kini susah berada di dalam mobil. Belum ada yang membuka percakapan hingga akhirnya mobil keluar dari area parkir.


"Jadi ke toko dulu?", tanya azka padaku.


"Eum!", sahutku singkat. Azka yang merasa ada perubahan pada istrinya pun mengusap kepalaku.


"Ada apa sayang? Bilang sama mas?", ujar azka.


"Ngga kok mas!", sahutku.


"Jangan pendam sendiri. Bilang kalo ada hal yang sedang kamu pikirkan! Aku ngga mau kamu kenapa-kenapa lho!"


Aku tersenyum tipis.


"Serius mas, ngga apa-apa!", kataku meyakinkan.


"Hari ini anak-anak gajian kan?", tanya Azka.


"Iya mas. Makanya mau itung gaji dulu abis ini."


"Biar mas yang kerjain. Ntar kamu fokus aja sama red Velvet yang lagi kamu pengen!"


Aku mengangguk. Setelah itu aku meraih ponselku yang ada di pouch kecil ku. Aku mengecek saldo yang dari kemarin sudah bertambah.

__ADS_1


"Mas, ke gerai ATM dulu ya? Kayanya omset nya ga bakal cukup buat bayar anak-anak."


"Iya, nanti di depan mas ambil."


"Oh iya, aku juga mau pesan makanan buat anak-anak ya mas? Via gra*food aja ngga apa kan?"


"Iya silahkan!"


Aku pun mengutak Atik ponselku ke menu berlogo hijau itu. Ku pilih makanan yang kira-kira bisa di nikmati semua anak-anak. Maksudnya karyawannya.


"Udah?", tanya azka masih fokus dengan kemudinya.


"Udah. Aku pesan sejumlah anak-anak sama buta bibik. Mas mau juga?", tanyaku.


"Ngga ah!"


"lho? Emang ga laper?", tanyaku.


"Dihhh...mulai mesumnya!", sahutku ketus. Tapi justru di balas gelak tawa oleh Azka.


"Sayang, mana sini ATM nya. Mas aja yang ambil. Kamu tunggu di sini aja!"


Aku pun menyerahkan kartu ATM ku berwarna silver itu.


Sambil menunggu Azka, aku memainkan ponselku. Selang beberapa detik, ada notice dari aplikasi hijau ku. Aurel mengirimkan gambar di room chat nya.


Sepasang tangan yang saling menggenggam.


[Na, gue jadian sama kak Vicky!]

__ADS_1


Begitu caption yang menyertai gambar tersebut.


Aku hanya membaca sekilas.Tak tahu harus berkomentar apa pada Aurel.


[Kok ga di bales sih Na? Lo ga seneng gitu gue jadian sama kak Vicky? Lo lagi ga cemburu kan?]


Mataku terbelalak melihat kata 'cemburu' di chat Aurel.


[Gue ga cemburu Aurel sayang]


Di seberang sana Aurel sedang cengengesan. Iya lah Nana ga cemburu, dia aja sudah punya suami yang tampan dan mapan kan.


[Yakin Lo? ikhlas ya gue sama kak Vicky? Sumpah gue ga nyangka banget kak Vicky nembak gue. Lo tahu sendiri kita kan udah bareng dari kecil.]


[Yakin ngga yakin sih Rel]


[Why?]


[Ga tahu kenapa, gue cuma mau bilang Lo hati-hati sama Vicky rel. Gue sebagai sahabat sayang sama Lo. Jangan salah sangka ya?]


[Maksud Lo apa sih? Ga ngerti gue!]


[Ngga apa2 Rel]


Usai ku jawab seperti itu, Aurel tak lagi mengirimi chat padaku. Entah lah, mungkin dia marah! Atau dia berpikir aku ngga suka dia jadian sama kak Vicky gara-gara aku cemburu? Ah...mana ada begitu.


Azka kembali ke dalam mobil dengan membawa sekantong keresek berisi lembaran uang.


"Nih, kartunya simpen lagi!",Azka menyodorkannya padaku. Memang kartu ini khususnya buat pendapatan toko kue kami. Sedangkan kartu pribadi ku memang di bedakan. Di tambah lagi kartu yang azka berikan padaku ada dua jenis. Yang satu berwarna hitam dan satu lagi bersama emas. Berasa jadi sultan dadakan kalo liat isi dompet berhias bermacam warna kartu.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, mobilku sudah masuk ke area perumahan ku.


__ADS_2