
Kami berpamitan pada dokter Riska.
"Mas... gendong!", kataku manja.
"Mas???", tanya Azka.
aku pun mengangguk.
"Malu Nana!", katanya pelan.
"Pokoknya aku mau di gendong mas, sampe mobil!"
"Nanti aja di rumah Nana!"
"Nggak mau, aku mau sekarang! Kalau di sinetron, di novel-novel... sering tuh...maksa istrinya biar bisa di gendong. Lha aku? Aku malah minta, kamu nggak mau!", kataku sambil meninggalkan Azka.
"Sayang...bukan begitu!"
Aku pun tetap melangkah kan kaki ku. Tapi tiba-tiba saja, Azka mengangkat tubuhku. Dia sudah tidak peduli dengan pandangan orang sekitar. Tapi, Azka masih memasang wajah kesalnya. Aku pun iseng melepaskan kacamatanya.
"Nana! Ngapain di lepas!", tanyanya.
"Suamiku lebih ganteng nggak pake kacamata mas!", rayuku.
"Tapi Nana... pandangan ku kabur ini."
"Kan ada aku yang jadi matamu", sahutku.
Ah, dasar bocah! Semakin di tegur semakin menang dia. Mentang-mentang hamil, Najma!!! Pekik Azka dalam hati.
Isengku pun bertambah. Aku menelusupkan wajahku ke cerukan leher nya.
"Ish....Nana!", katanya tersendat.
"Kenapa sayang?", godaku.
"Jangan seperti ini! Jangan di sini!", katanya pelan.
"Tapi aku mau Ka....?!", kataku lagi. Azka menghela nafasnya. Akhirnya, kami sampai ke mobil.
"Mas....!", rengekku saat kami sama-sama sudah duduk.
"Apa lagi sayang????", kata Azka geregetan.
"Kamu marah???!", bentakku.
"Nggak. Siapa yang marah sih?"
"Nah itu, mukanya di tekuk!"
"Mas nggak marah Nana?!"
"Ya udah, Kalau nggak marah sekarang ci*m aku!"
"Na...ini masih di parkiran rumah sakit sayang....?!!!", Azka mengusap wajahnya.
"Memang kenapa? ini di dalam mobil. Lagian kita suami istri mas???"
"Iya...sayang, iya. Tapi malu Na. Kalau ada yang liat gimana?", Azka mengusap kepalaku.
Aku memalingkan wajahku ke arah jendela. Dan akhirnya....
Azka melu*at bibirku. Tidak hanya itu, dia menggigit dan menghisapnya pelan untuk beberapa saat sampai akhirnya aku yang melepaskan nya sendiri.
"Udah?", tanya Azka padaku. Aku pun mengangguk.
"Kita pulang!", seru Azka santai.
*****
"Gimana Non? Ada yang sakit? Nggak ada yang perlu di khawatirin kan non?", bibik cemas.
"Nggak ada bik. Santai aja. Nana ke kamar dulu ya!", kataku.
"Pak...Nana???", tanya bibik.
"iya, bik. Nana nggak apa-apa kok!"
Azka pun mengekor di belakang ku. Aku langsung merebahkan diriku di kasur. Memeluk guling ku menghadap tembok.
Ceklek! Aku mendengar Azka mengunci pintunya.
Sejak dari rumah sakit tadi, azka mendiamkan ku. Aku jadi kesal sendiri.
Azka langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Aku pun pura-pura tertidur.
"Kalau dari luar, bebersih dulu. Baru tiduran!", kata Azka. Aku pun langsung melek dan bergegas menuju kamar mandi. Azka hanya menggeleng kan kepalanya melihat kelakuan istri kecilnya.
__ADS_1
Aku sudah mengganti pakaian ku dengan daster rumahan. Toh, aku sudah tidak akan ke mana-mana lagi.
Aku langsung berbaring di tempat aku tidur. Azka pun sama. Hanya bedanya, dia masih memainkan ponselnya. Hal itu membuat ku jengah. Aku pun kembali memunggungi nya. Setelah beberapa saat, tangan Azka melingkar di perutku.
"Maaf ...!", bisiknya.
Aku pun tak bergeming. Masih memeluk guling ku.
Tapi, Azka segera memutar tubuhku.
Kini, dia berada di atas ku.
"Aku minta maaf sayang....!"
"Kamu jahat ka!"
"Jahat kenapa?"
"Kamu lebih pentingin kerjaan kamu dari pada aku!"
Azka pun tersenyum. Lalu mengecup kening ku.
"Maaf ...!", hanya kata itu.
"Sekarang, aku sama kamu. Kamu mau apa Hem?", tanya Azka yang tak juga turun dari atas tubuhku.
"Nggak mau apa-apa!"
"Yakin?", tanyanya lagi.
Aku pun melengos. Tapi Azka kembali membuat ku bersitatap dengan nya.
"katakan padaku, kalau kamu menginginkan nya?"
"Ingin apa?"
"Ingin apa ? Kamu ingin apa Nana?"
"Awas ah...nggak jelas!"
Hap!!!!!
Azka melu*at habis bi*Ir ku. Tanpa jeda, tanpa ampun. Tangannya bergerilya menapaki miliknya yang ada pada tubuhku. Setelah itu, hanya Leng*Han dan de*ahan yang keluar dari mulutku.
"Ka....!", kataku sambil menjambak rambut nya.
"Katakan, kamu menginginkan nya!", bisik Azka di sebelah telingaku.
"Katakan Nana, kamu menginginkannya. Kamu mencintai ku!", bisik Azka lagi.
"Aku mencintaimu Ka!!!", aku pun merasa kebelet pipis karena huja*an Azka semakin terasa.
Akhirnya Azka pun mengerang panjang. Kami sama-sama mendapatkan kepuasan.
Tubuh Azka yang berkeringat menandakan betapa lelah dan panasnya saat ini.
Sedangkan aku? Aku memilih untuk memandangi suamiku. Sadar sedang di perhatikan, Azka pun menoleh dan memutar badannya menghadap ku.
"Kenapa?", azka mengusap kepalaku.
"Kamu lelah Ka?", tanyaku.
"Kok Ka lagi? Nggak mas???"
"Belum terbiasa mmmass!"
Azka pun tertawa geli dengan tingkah istrinya.
"Sayang, lain kali...kalau kamu emang pengen... bilang yang bener sama aku. Biar kita nggak salah paham lagi."
"Aku malu lah mas kalau minta Mulu!"
"Hehehehe kenapa malu? Kita suami istri lho?"
"Iya sih!", jawabku. Aku memeluk erat tubuh suamiku.
"Nanti, abis dhuhur...aku boleh ke kantor kan?", tanya Azka ragu-ragu.
"Kamu nggak mau nemenin aku?"
"Bukan gak mau sayang....!"
"ya udah deh sana. Tapi ada syaratnya!"
"Apa? Mau satu ronde lagi?", Azka memicingkan matanya.
"Iiih.... enggak!"
__ADS_1
"Terus apa?"
"Aku mau makan pake sarden plus Pete, tapi kamu yang masak Ka!"
"Oke...oke...aku buatin! Tapi, aku mandi dulu ya?"
"Iya."
Azka pun mandi. Setelah itu dia mendirikan empat rakaat nya. Aku pun bergantian masuk ke kamar mandi.
****
"Bibik....!" teriak Aurel.
"non Aurel....!", kata bibik senang.
"Bibik apa kabar?? Kapan balik?"
"Alhamdulillah baik Non. Baru dua hari ini kok non!"
"Nana mana bik?"
"Ada di kamar, bentar ya bibik panggil."
"Aurel aja yang ke kamar bik!"
"Eh... Jangan....kan sekarang non Nana sudah bersuami. Kamar nya udah privasi mereka berdua. Bibik panggil aja y?"
"Oh...iya lupa bik."
Bibik pun memanggil Nana. Di saat yang sama, Azka sedang memasak di dapur.
"siapa yang masak? Bibik kan lagi panggil Nana?" tanya Aurel sendiri.
"Aurelllll!" Nana menghambur ke pelukan sahabat nya.
"Gue kangen Na!"
"Sama!"
"Eh, ada yang masak ya Na. Siapa? kan bibik manggil Lo!"
"oh, kali gue!"
"hah? Pak Azka masak?"
"Iya!"
"What??"
"Anak gue pengen bapaknya yang masak!"
"Alah....alesan aja Lo!"
Beberapa saat kemudian.....
"Eh, ada aurel!", sapa Azka.
"Eh, iya pak. Boleh main sama Nana kan pak?"
"Boleh!"
Aurel terkesima melihat penampilan suami nana. Azka tampak berbeda saat memakai baju rumahan seperti ini. Ganteng nya kuadrat! Pantes aja Nana nggak nolak di jodohin sama pak Azka. Gantengnya kelewat. Siapa yang bakal nolak pesonanya pak Azka???
Nana aja sampe mau di 'anu'in sampe hamil, orang ganteng war biyasahhhh....
"Rel??? Otak Lo nggak mikir macem-macem liatin laki gue kan???"
Aku menarik Azka duduk di samping ku. Azka yang tak paham jadi terpaksa ikutan duduk.
"Hah? Enggak kok!"
"Ya udah Na. Ajak Aurel makan. Sarden petenya udah jadi. Aku mau siap-siap ke kantor dulu!"
Sepeninggal Azka ke kamar, aku dan Aurel pun makan siang. Kami bercanda dan bercerita tentang sekolah kami.
"Na...aku berangkat dulu ya!", Azka mengecup kepalaku.
"Iya sayang. Hati-hati!"
"Nanti kamu mau aku beliin apa?"
Aurel hanya melongo menyaksikan kemesraan di depan nya.
"Apa aja lah Ka."
"Oh, ya udah. Mari Rel. Assalamualaikum!"
__ADS_1
"Walaikumsalam!"
Aku dan Aurel kembali melanjutkan ngerumpi ku.