Menikahi Mantan Kekasih Ibu Tiriku

Menikahi Mantan Kekasih Ibu Tiriku
Keberanian Vicky


__ADS_3

"Sayang, kalo butuh apa-apa bilang sama bibir ya! aku ngga mau kamu kecapekan!", kata Azka mengusap kepala ku.


"Iya mas...tenang aja. Aku pastikan bibik akan menjaga dan menebus apa pun yang kuminta dan dedek utun minta hehehe....", sahutku. Azka mengulas senyum di wajah tampan nya.


"Bik, nitip Nana ya. Jangan biarkan Nana kecapekan ya bik!", titah Azka pada art nya itu.


"Siap pak , insyaallah saya jaga non Nana. Kalo perlu saya ikutin kemana non Nana melangkah!"


"Ngga segitunya juga kali bik....!", aku memanyunkan bibirku. Azka dan bibik pun tertawa lepas.


"Ya udah ,mas berangkat ya? Kalo bisa nanti mas usahakan pulang makan siang, kalo ngga bisa nanti mas kabarin. Oke?"


"Siap pak suami!", kataku menaruh telapak tangan ku di kening seperti orang yang bersikap hormat.


"Gemes banget sih!", Azka mencubit pipiku.


"Sakit Daddy...!", pekik ku.


Azka kembali tertawa. Melihat dia tertawa seperti itu membuat ku bahagia. Wajahnya yang tampan kian mempesona . Pengen rasanya menyimpan suamiku di kamar saja.


Ehhh....???


"Ya udah Sono jalan. Ngga berangkat-berangkat dari tadi."


Aku mendorongnya pelan punggung nya.


"Sebentar, pamit dulu sama dedek utun."


Azka berjongkok di depanku, lalu mengecup dan mengusap perut ku.


"Daddy berangkat ya nak. Ajak mommy makan yang banyak, biar kalian sehat terus!", bisik azka. Aku terus, dan tanganku spontan mengusap kepala suamiku.


"Iya dad!", ucapku menirukan suara anak kecil.


"Mas jalan ya, assalamualaikum!",pamitnya.

__ADS_1


"Walaikumsalam!", jawabku. Azka pun meninggalkan ku di dalam rumah. Aku tak ikut mengantar nya kedepan karena saat ini aku tak berhijab. Hanya piyama celana dan lengan pendek saja.


"Non, bibik ke pasar ya. Bahan dapur pada abis!"


"Oh, iya bik. Bentar, Nana ambil uang dulu ya!", aku pun beranjak ke kamarku. Setelah mengambil beberapa lembar uang, aku pun kembali ke lantai bawah.


"Ini uangnya bik!", ku serahkan beberapa lembar uang itu.


"Makasih non. Em..mumpung bibik mau ke pasar, non Nana mau nitip apa?"


"Em...apa ya bik? Kalo rujak atau asinan Bogor enak kali ya bik?"


"Wah...iya tuh seger, cocok di makan pas panas begini!"


"Ya udah itu aja bik!"


"Ada yang lain ngga nih?"


"Ada dong!", sahutku cepat.


"Hahaha tuh bibik pinter!"


"hahaha bibik gitu lho, ya udah bibik berangkat ya."


"Iya."


Sepeninggal bibik, aku pun ke kamar ku untuk membersihkan diri. Merapikan dan membersihkan kamar adalah hal yang wajib ku lakukan tiap hari nya. Susana kamar yang bersih dan nyaman itu mutlak. Setelah aku selesai sekolah, aku memang lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamarku.


Saat merasa bosan berada di kamar, ku putuskan untuk duduk manis di toko. Hari ini kak sisi tidak masuk kerja. Aku memaklumi keadaannya yang sedang hamil muda itu.


"Teh Salma, bikinin coklat panas dong!", pintaku pada salah seorang pegawai ku.


"Siap non!", ujar teh Salma. Aku pun menghampiri etalase yang di pajangi beberapa kue dan cak ulang tahun.


"Teh Arin, aku mau donat glaze dong, eum...atas nya di taburi kacang almond boleh ngga hehehe!"

__ADS_1


"Boleh atuh non!", sahut teh Arin. Dia pun menyiapkan makanan itu untuk ku.


"Aku duduk di sana ya teh!"


"Siap non!"


Aku mengambil posisi duduk di meja yang memunggungi pintu masuk. Makanan dan minumannya yang ku pesan sudah datang saat aku tengah mengambil ponsel disaku daster ku.


Aku tersenyum, ada chat dari suamiku yang mengatakan dia akan pulang ke rumah untuk makan siang.


Saat tengah ku nikmati makananku, seseorang duduk di samping ku. Aku pikir dia pembeli yang akan memesan kue tapi setelah aku mendengar suara nya, badanku tiba-tiba merasa tegang sekaligus takut.


"Hai Nana sayang? Apa kabar?", dia mengusap kepala ku. Sontak aku language berdiri dan mundur ke sisi yang lain.


"Vick... Vicky...ka...kami di sini?", tanya ku tergagap.


"Ya...tentu saja sayang, aku sangat merindukanmu!", kata Vicky yang masih duduk di bangku nya. Aku menarik diri menghampiri teh Arin yang paling dekat dengan ku. Arin yang bingung pun akhirnya memeluk ku.


"Ada apa non?"


"Ak..aku takut teh!", badanku gemetar. Dan saat pandangan Arin menuju ke Vicky, Arin menyadari jika ketakutan bos nya bersumber dari cowok itu.


"Kamu siapa? Jangan macam-macam dengan nona kami!", bentak Arin. Yang secara fisik dia memang tinggi besar.


"Lo cuma kacung di sini, ngga usah ikut campur!", jawab Vicky santai.


"Jika ada yang mengganggu bos saya, tentu itu jadi urusan saya juga!"


Vicky tersenyum tipis.


"Aku akan kembali sayang, liat saja nanti. Cepat atau lambat kamu akan kembali padaku dan suami mu guru mesum itu akan dengan sukarela melepaskan mu untukku."


Usai mengatakan hal itu, Vicky pun meninggalkan toko. Badanku masih membeku di tempat. Aku takut jika sesuatu terjadi pada Azka. Aku seperti tak mengenal Vicky lagi.


"Saya anterin ke kamar ya Non!", kata Arin merenggut bahuku. Aku pun mengangguk.

__ADS_1


Arin mengabari bos nya jika ada masalah di rumah. Usai meeting, Azka langsing meluncur ke rumah meski belum jadwal makan siang.


__ADS_2