Menikahi Mantan Kekasih Ibu Tiriku

Menikahi Mantan Kekasih Ibu Tiriku
Kontraksi palsu


__ADS_3

Azka memasuki ruangan kantornya. Pandangan pertama saat ia masuk ke ruangan pribadi di kantor nya langsung tertuju pada istri kecilnya yang sedang terlelap di atas tempat tidur.


Pria berusia tiga puluh dua tahun itu melonggarkan dasi dan melepaskan kancing kemeja bagian lengan. Ia melipatnya hingga ke siku.


Wajah istrinya yang begitu menggemaskan sungguh rasanya ingin Azka sentuh saat itu juga. Tapi...jika ia melakukannya, ia takut mengganggu istirahat Nana.


.


.


Aku mengerjapkan mataku beberapa kali. Aku tidur cukup lama di ruang pribadi azka. Hidungku mencium parfum suamiku. Indra penciuman ku sangat tajam untuk sekedar mengenali aroma tubuh khas suamiku.


Aku membuka pintu ruangan pribadi azka. Kulihat Azka masih bergelut dengan laptop nya.


"Sejak kapan kamu pulang meeting mas?",tanyaku sambil merangkul bahunya yang bersandar di punggung kursi kebesarannya.


"Eh... sayang? Udah bangun aja, mas ga tega bangunin kamu tahu!", Azka mencolek dagu ku.


Aku mendengus kemejanya. Ada aroma lain di tubuhnya.


"Mas!"


"Kenapa sayang?", Azka menarik ku hingga aku terduduk di pangkuannya.


"Awas iiih...aku kan berat, nanti jatuh gimana?"


"Kan mas pegangin sayang!", jawabnya sambil tersenyum.


"Kok...bau kamu lain mas?", aku mengendus lagi kemeja azka bagian depan.


"Memang nya mas bau apa?"


"Aku paham banget bau kamu mas, meski aku ada di kamar itu dari tadi. Tapi...ini...baunya bukan kamu banget, parfum cewek mas?!", aku langsung melotot. Tapi azka justru terkekeh.


"Sayang, dengerin mas."


Aku masih di pangkuan Azka.


"Bisa turunin ngga, aku berat mas. Nanti kaki mu pegal."


"Ngga lah sayang, mas kuat kok!"


"Ya sudah, terserah!"


Azka mengusap kepala ku dengan lembut.


"Tadi ada insiden kecil setelah meeting."


Aku mendengarkan Azka berbicara terlebih dulu. Ngga bisa dong aku tiba-tiba curiga.


"Dara, dara ngunciin mas di ruang rapat usai meeting tadi."


"Ngunciin mas?"


Azka mengangguk.


"Terus?Eh... tunggu, kalian berduaan di ruangan itu?", tanyaku memicingkan mata.


"Iya."


Hidungku kembang kempis menahan emosi. Bisa-bisanya dia berduaan dengan perempuan lain di dalam ruangan tertutup. Aku hendak bangkit tapi Azka menarik pinggang ku.


"Kemana sayang???", tanya Azka.


"Awas ah! Males aku sama kamu! Kamu selingkuh kan sama Dara!", spontan mulut mengeluarkan kalimat itu.


"Hahahah yang bener aja mas selingkuh! Ga ada niat, ga ada ceritanya juga sayang! Mas udah punya kamu, ngga mau yang lain!"

__ADS_1


"Tau ah, awas minggir!"


"Ssssttt... dengerin mas, jangan marah dulu!"


Aku melipat kedua tangan ku didada.


"Mau cari pembelaan apa? Di depan ku aja kamu nolak Dara, di belakang kalian malah main api."


Azka lagi-lagi tertawa di depan mataku. Apa yang lucu sih??? Harusnya dia membujuk aku dong, bukan malah menertawakan ku!


"Kalo mas emang mau sama Dara, udah dari dulu kali sayang. Ngapain mas udah punya kamu ,masih aja sok-sokan sama Dara. Bukan mas banget itu mah!"


"Terus? Ngapain aja coba kalian berduaan di ruangan tertutup kaya gitu?"


"Dara ngunci mas. Dia emang meluk mas sayang, tapi mas ngga bales lah!"


Aku meremas tanganku dengan kuat. Lalu ku pukul dada suamiku.


"Hei...sayang, dengerin mas cerita dulu!", kata azka sambil menahan tangan ku agar berhenti memukulnya.


"Mau jelasin apa? Mau bandingin aku? Mentang-mentang sekarang aku gendut, gitu?"


"Astaghfirullah sayang, mas makin gemes tahu ngga kalo liat kamu cemburu begini!"


Aku memalingkan wajah ku. Heran! kok dia kaya ngga berasa salah gitu???


"Jadi gini, tadi pas mas tahu kami terkunci eh... tepatnya dara menyandera mas tadi, mas langsung telpon ke papanya Dara. Sengaja mas ngga matiin sambungan teleponnya. Biar papa dara tahu percakapan kami. Alhamdulillah, ngga lama setelah itu papa dara benar-benar datang dan membukakan pintu buat mas."


Aku diam beberapa saat mendengar pembelaannya.


"Masih ragu sama mas? Mas udah jujur lho sayang!"


"Tapi...kenapa mas mau aja di peluk sama dara! Kesal aku!"


"Siapa juga yang mau sayang. Ngga lah!"


"Heheheh udah dong sayang, jangan manyun gitu. Mas jadi pengen gigit tahu!"


"Tahu ah! Awas aku mau bangun!"


"Iya...iya...!", Azka pun membiarkan ku bangun.


"Buka kemejanya!", perintah ku.


"Sayang, kamu mau kita melakukannya di sini?", tanya Azka penuh penasaran.


"Buka kemejanya ku bilang!", ulang ku. Azka pun menuruti perintah ku.


Sekarang Azka hanya memaksa kaos tipis sebagai dalaman untuk melapisi kemejanya.


Dihadapan ku, ada pemandangan menggiurkan bagi kaum hawa. Terkhusus nya aku, sang pemilik tubuh itu.


Tapi imajinasi ku langsung ku patahkan begitu saja saat ingat aroma parfum di kemeja Azka. Aku langsung melemparnya ke sembarang arah.


"Kenapa di buang sayang?", tanya Azka heran.


"Aku ngga mau ya ada bekas bau wanita lain di bajumu!"


Azka yang sadar istrinya sedang dalam mode cemburu pun berusaha membujuknya.


"Iya sayang iya....ya sudah, mau kamu mas begini? Pakai kaos tipis ini?", tanyanya padaku.


"Tapi...kalo mas kaya gini, gimana pulang ngantor? Aku ngga rela mereka melihat tubuh kamu kaya gitu mas!"


Azka terkekeh sendiri. Istrinya benar-benar posesif sekarang.


"Ya ya... tubuh ini, hati ini bahkan apa pun yang mas punya itu milikmu sayang!", kata azka mendekati ku lalu berbisik pelan di sebelah telinga ku.

__ADS_1


"Iya...tapi...mas...jangan gini dong!", aku berusaha mendorong badan nya agar menjauh.


"Memang kenapa sih sayang? Mas kan cuma mau kamu, boleh kan???", tanya nya lagi.


"Tapi ini dikantor mas, bukan di hotel!"


"Dimana saja dan kapan saja ngga masalah sayang. Toh kita punya ruangan khusus!", bisik Azka tepat di telinga ku. Dengan perlahan, Azka mendorong ku hingga kami masuk ke dalam ruangan pribadi tersebut. Tahu lah apa yang kami lakukan setelah nya?


.


.


Usia kandungan ku yang sudah menua membuat ku sedikit kewalahan melayani pak suami. Tapi sejauh ini, dia memperlakukan ku dengan lembut. Usai membersihkan diri setelah pergulatan tadi, aku dan Azka duduk di sofa ruang kerja.


Kami mengobrol ringan, tidak seperti saat aku membuka pada Dara tadi.


Tapi di sela obrolan kami, tiba-tiba perutku merasa sakit. Entah , tak bisa di gambar kan rasanya.


"Awwwssss...!", desisku.


"Kenapa sayang? perut mu sakit?", tanya azka tiba-tiba panik.


"Iya mas. Mendadak sakit. Tapi... sekarang udah ngga!"


"Apa mungkin tadi mas mainnya terlalu kasar ya sayang? Jadi...Dede utun nya protes?"


"Hehehe kamu lucu mas!", kataku. Azka pun turut tersenyum. Tapi tibalah aku merasa sakit perut lagi.


"Aduh mas...kok mendadak sakit lagi sih?", aku menghisap perutku. Azka pun melakukan hal yang sama.


"Kita ke dokter ya sayang?", kata Azka.


Aku menggeleng.


"Jangan bandel! Kita ke rumah sakit sekarang! Maaf mas ngga nurutin ucapan mu. Kemeja mas harus mas pakai selama mas mengantar mu kerumah sakit. Ngga mungkin kan kamu rela mas pakai oblong doang?"


Aku mengangguk setuju. Sakit perutku mendadak hilang lagi. Aku jadi bingung sendiri.


Tiba-tiba aku merasa bagian bawahku basah.


"Mas, aku ngompol!", kataku. Jujur aku malu!


Azka berjongkok di depan ku. Mencolek lalu mencium jarinya.


"Jorok mas ih?!"


"Sayang, ini bukan ompol! Sepertinya kamu mau melahirkan deh. Ini...masih suka mendadak sakit? hilang timbul?"


Aku mengangguk.Azka yang sudah memakai kemeja nya kembali, menyambar tas punggung ku lalu meletakkan ponsel ku. Dia langsung menggendong nya di punggung.


"Berdiri dulu bisa kan sayang? mas mau gendong kamu!"


"Ngga usah gendong mas. Aku baik-baik saja."


"Tapi kalo kamu ngga di gendong, nanti air ketubannya malah tercecer ke mana-mana."


Akhirnya aku pun setuju dengan idenya menggendong ku.


Semua mata tertuju pada kami. Mereka semua mendadak panik dan riuh saat melihat Azka menggendongku dan berlari cepat-cepat.


Mobil Azka langsing melesat menuju rumah sakit.


Benar kah aku akan melahirkan sekarang? bukannya masih bulan depan? Apa ini yang dinamai kontraksi palsu? Tapi ini udah pecah ketuban? Bagaimana ini????


"Sayang, kamu jangan panik oke?"


Aku mengangguk pelan. Meskipun sebelumnya aku tak baik-baik saja menghadapi ritme jantung ku.

__ADS_1


__ADS_2