Menikahi Mantan Kekasih Ibu Tiriku

Menikahi Mantan Kekasih Ibu Tiriku
Hampir keguguran


__ADS_3

"Ka....!"


"Kenapa?"


"Nanti Aurel boleh ke sini kan?"


Azka memandangku dengan tatapan entah apa itu lah.


"Boleh. Tapi di rumah saja, jangan kemana-mana."


Azka masih bercermin dan menyisir rambutnya.


Tampan sekali suamiku....!!!!Aku girang dalam hati.


"Sayang....!" rengek ku.


"Kenapa?", Kini Azka duduk di sebelah ku.


"Kenapa sejak kamu nggak ngajar, malah kamu sibuk di kantor?"


Azka tersenyum.


"Iya karena pekerjaan ku kan sekarang memah di kantor, di hotel kita...bukan disekolah kita lagi."


"Tapi...aku kan jadi susah ketemu kamunya!" aku memeluk tubuh atletisnya. Aku tak peduli dengan ku yang belum mandi. Mungkin bawaan bayi, aku jadi malas mandi. Kecuali memang mandi junub, yang mengharuskan aku mandi sebelum subuh.


"Kata siapa? kita tidur bareng, makan bareng...!", sahut Azka sambil mengusap rambut ku.


"Tapi aku kangen....!", ku eratkan lagi pelukan ku.


"Sayang, kalau kamu manja begini...aku pasti gagal berangkat ke kantor. aku ada janji meeting sayang....!"


"Oh...jadi meeting lebih penting dari aku?",aku langsung melepaskan pelukan ku.


"Bukan gitu Na... kamu jangan salah sangka dulu dong sayang!", Azka memelankan suaranya.


"Udah deh sana, berangkat aja. Kumpulin duit yang banyak!", aku bangkit dari kasur ku.


"Sayang....!", Azka berusaha meraih tanganku. Tapi aku segera menuju kamar mandi. Langsung ku banting pintu kamar mandi dengan keras.


"Astagfirullah...sabar...sabar...punya istri bocah, lagi hamil pula. Harus banyak stok sabarnya."


Keluh Azka.


Sebenarnya dia ingin berpamitan, tapi dirasa percuma saja. Toh, Najma sedang emosi. Azka pun keluar dari kamar.


"Bik, titip Nana ya. Lagi marah-marah tuh!", kata azka sambil duduk di meja makan.


"Marah kenapa atuh ?", tanya si bibik.


"Saya nggak boleh kerja bik, kalau saya nggak ada janji meeting juga mau lah nemenin Nana di rumah."


"Owh...hormon kehamilan mereun....! Makanya suka begitu Pak. Pak Azka mah kudu sabar aja ya. Umumnya wanita hamil teh gitu. Sok marah, sok melow....ah...gitu lah pokoknya mah."


"Iya bik, makanya...saya nitip ya."


"Siap Pak Azka!"


"Saya berangkat ya, assalamualaikum!"


"Walaikumsalam!"


Azka pun keluar menuju mobil yang terparkir di halaman. Azka hanya berharap ,nanti Nana akan melupakan emosi nya.


******


"Azka sudah berangkat ya Bik?", tanyaku.


"Di bilangin, manggil nya mas kek apa abang atau siapa gitu. Jangan manggil nama atuh. nggak sopan!", Bibik menasehati ku lagi.


"Iya bik, pelan-pelan belajar nya ih....!', jawabku.


"Udah atuh, sarapan dulu. Kasian Dede bayinya kelaperan", sahut bibik.


"Iya, nana makan nih...banyak nih!!!", aku menyendok nasi dan kawan-kawannya.

__ADS_1


"Emang kandungan non Nana sudah berapa bulan sih?"


"Em...berapa ya? Tepatnya nggak tahu bik. Mungkin mau atau jalan tiga bulan."


"Usia segitu masih rentan non. jangan capek-capek ya."


"Iya bik , gimana Nana mau capek. Azka melarang Nana ngerjain ini itu."


"Ya... namanya juga sayang non."


"Kok bisa ya bik, azka sayang sama Nana?"


"Bisa lah, non kan gadis pinter cantik lagi."


"kira- kira...apa sih amanat bunda buat Azka? Kayanya buat kita berdua tipis banget. Tapi kalau buat Azka kaya makalah. Tebel bik!"


"Ya nggak tahu juga non."


Aku kembali melanjutkan sarapan ku.


"Bibik ke depan ya non. Mau liat sisi dulu."


"Kenapa kak sisi diliatin?"


"Ya kali, butuh batuan bibik!"


"Owh.... oke!"


Bibik menuju toko depan. Aku yang merasa begah setelah sarapan pagi, berniat untuk olahraga.


Aku pun berjalan menuju samping rumah yang memang ada sedikit ruang untuk bermain basket.


Usai menenangkan perut ku, aku mulai mendribel bola. Sekali dua kali gagal, meskipun pada akhirnya masuk ke dalam ring.


Perutku sudah tak terlalu begah karena kekenyangan, kini saat nya bermain lebih panas lagi.


Aku mulai mendribel sambil berjalan maju mundur ala-ala pemain basket beneran.


Melompat, melempar dan menggantung di ring. Tapi sayang nya tiba-tiba tanganku terlepas dari ring yang membuat aku terjatuh.


Bokong ku mendarat sempurna. Tapi ternyata tak sesederhana itu. Pinggang ku sakit, dan perutku bagian bawah terasa nyeri.


"Aw....!", pekikku. Ya Allah, aku lupa jika aku sedang berdua dengan janinku.


"Non....!", bibik berlari menghampiri ku.


"Bik, perutku nyeri banget!"


"Non Nana ngapain sih?"


"Main basket bik! Ah....!", aku memegang pinggang ku.


"Ya Allah non, kan di bilang nggak usah ngapa-ngapain. Ini malah basket aduh! Kita ke rumah sakit aja ya non. Biar di periksa."


"Jangan bik, nanti Azka marah bik!", rengek ku.


"Bibik juga marah, nggak cuma pak Azka non!", bentak bibi padaku . Iya, aku memang salah. Pantas saja kalau bibik marah padaku, bibik sangat menyayangi ku.


Bibik langsung meraih ponsel di sakunya.


"Bibik mau apa?"


"Telpon pak Azka!"


"Jangan bik, nanti Azka malah marah. Dia kan ada meeting penting Bik....!"


"Penting mana sama istri dan calon anaknya non....???"


Tanpa meminta persetujuan dari ku, bibik pun menelepon Azka.


[Assalamualaikum, pak Azka]


[Walaikumsalam bik, ada apa kok panik?]


[Non Nana jatuh pak. Habis main basket]

__ADS_1


[Nana jatuh? Kok bisa?]


[Nggak tahu nih, non Nana ngeluh perutnya sakit.]


[Ya udah, saya puter balik]


Klik.


Sambungan telepon pun terputus.


[Rania, reschedlue pertemuan dengan klien. Saya nggak bisa ke kantor. Nana jatuh]


[Ok ,siap pak!]


Azka pun putar arah kembali ke rumah.


******


"Nana gimana bik?", tanya Azka.


"Masih duduk di kursi teras samping pak. Bibik nggak bisa bawa ke kamar."


Azka langsung berlari ke teras samping.


"Kamu nggak apa-apa sayang?", tanya Azka cemas.


"Kamu nggak marah sama aku?"


"Kamu kenapa? aku kan sudah bilang, jangan melakukan hal-hal berat. Kamu abis main basket? Kamu abis bergelantungan di ring? Jatuh?", tanya Azka beruntun.


Aku hanya bisa mengangguk.


"Bik, tolong ambilin jilbab Nana. Saya mau bawa Nana ke rumah sakit."


Bibik pun sigap mengambil nya di kamar kami. Azka menggedong ku saat aku Sudah memakan jilbab.


"Kamu marah sama aku Ka?", tanyaku yang ada dalam gendongan nya.


Azka tak menjawab apapun. Dia langsung memasukkan ku ke dalam mobil.


Di perjalanan, aku mencoba mengajak Azka bicara, tapi tak di gubris.


"Aw.....!", pekik ku tiba-tiba. Sebenarnya tak sakit, hanya sedang mencari perhatian Azka.


"Apa sakit lagi?", tanya Azka cemas sambil mengusap perut ku.


"Apa aku harus sakit dulu biar dapat perhatian mu ka?", bentak ku.


Azka membeku.


"Aku hanya ingin selalu di manja sama kamu ka! emang salah? kalau bukan sama kamu, aku manja sama siapa?,"


"Bukan gitu sayang....oke...aku minta maaf!"


Bukan aku namanya kalau tidak menang dalam berdebat.


Mobil pun kini sudah masuk ke parkiran rumah sakit. Azka sudah menelan dokter Riska sebelum mereka berangkat dari rumah.


****


"Alhamdulillah, hasilnya baik Nana. jaga kesehatan ya. Untung bagimu kuat lho! Jangan capek-capek!", ujar dokter Riska yang kini jadi teman curhat seputar kehamilannya.


"Iya dokter...!", sahutku.


"Denger kan apa kata dokter Riska???"


"Iya sayang...iya....!", kataku.


****


Maaf lama nggak aplot. Mamak masih fokus ke


'Mahalnya sebuah kepercayaan' jadi, jarang nengok ke sini.


🙏🙏🙏 terima kasih ya yang sudah berkenan membaca tulisan receh mamak 😁😝✌️

__ADS_1


__ADS_2