Menikahi Mantan Kekasih Ibu Tiriku

Menikahi Mantan Kekasih Ibu Tiriku
Kedatangan Aurel


__ADS_3

Azka membawa turun Azki terlebih dulu. Sedangkan aku membersihkan tempat tidur kami dan mengucek pakaian Azki sekalian ku jemur di balkon kamar. Kenapa ngga pakai mesin cuci saja? Selain cuma sedikit, toh pakaian bayi kecil-kecil jadi lebih mudah di kucek.


"Pagi den Azki!", sambut Ami setelah Azka turun. Ami berdiri di samping Azka.


"Biar den Azki sama saya saja mas, eh... maksud saya pak!", kata Ami.


"Biar sama saya dulu, sebentar lagi saya ke kantor", sahut Azka datar. Aku mendengar ucapan Azka yang begitu datar dan terkesan jutek pada Ami. Sebenarnya buatku tak perlu terlalu kaku juga menghadapi Ami. Toh selama ini, azka juga bekerja dengan karyawan nya ramah-tamah saja.


"Mas, kamu kan mau sarapan?", aku menepuk pelan bahunya. Azka menengok ke arahku.


"Iya sih. Ya udah nih Azki nya!", Azka menyerahkan Azki padaku. Mengecup kening Azki sebentar lalu melengos ke meja makan. Aku melihat Ami yang terlihat murung karena sikap Azka yang dingin itu.


"Mba Ami udah sarapan belum? Kalo belom, sarapan dulu. Nanti tinggal jagain Azki!"


"Sudah non!", sahut Ami.


"Ya udah, saya mau nemenin mas Azka sarapan dulu. Nitip Azki ya! Bawa ke taman samping saja."


Ami mengambil Azki dari gendongan ku.


"Iya non!", lalu Ami pun membawa Azki. Sekarang aku yang menghampiri suamiku di meja makan.


"Mau nambah mas?", tanyaku.


"Ngga sayang! Kamu kan tahu aku ngga bisa banyak-banyak makan nasi kalo pagi!", jawab Azka sambil tersenyum. Duh, manis banget sih....jadi pengen cubit!


"Oh iya mas, kira-kira kapan kamar bunda mau di make over?"


"Nanti mas yang urus sayang. Barang-barang apa aja yang perlu kita beli bisa mas suruh ke anak buah mas. Urusan dekor, ada nanti lah. Eum... atau kamu mau disain sendiri? Biar sesuai keinginan kamu?"


Aku menggeleng.


"Nggak. Aku mah nggak ribet mas. Yang penting nyaman aja dan sama kamu!"


"Udah makin pintar godain suami ya!", Azka mengusap kepala ku.


"Suami sendiri ini. Kalo suami orang baru perlu di bi-na-sakan!"


"Hahahaha sayang! Makin sayang?!"


Cup! Lagi-lagi Azka mengecup puncak kepalaku.


"Mas berangkat ya! Nanti siang insyaallah mas makan siang di rumah."


"Hum! Hati-hati!", kataku sambil mengecup punggung tangannya.


"Ya sayang, nitip Azki ya. Jangan terlalu capek !", ingatnya padaku.


"Iya."


"Ya sudah, assalamualaikum!"


"Walaikumsalam."

__ADS_1


Aku mengantar Azka sampai depan pintu ruang tamu. Perlahan, mobil kami pun menjauh. Aku tak habis pikir, Azka yang dulu jadi guruku sekarang menjadi suamiku. Bahkan karena aku, dia harus memilih untuk mengurus perusahaan papa dan hotelnya dibandingkan dengan passion nya yang ingin menjadi seorang pendidik.


Tapi, mungkin yang terbaik harus seperti ini.


"Non, den Azki mau di mandiin sekarang ya?"


"Iya Mba!", kataku. Lalu aku mengambil Azki dari mba Ami. Kami berjalan bersama menuju kamar ku.


Ami menyiapkan air hangat untuk Azki. Setelah siap, Ami mulai memandikan Azki. Selama ini, bibik yang melakukannya. Tapi berhubung sudah ada Ami, ya sudah. Ami saja yang melakukannya.


Azki sudah segar dan wangi, Ami kembali membawa Azki ke lantai bawah. Di sana memang aku sudah menyiapkan ayunan bayi yang berada di dekat teras samping.


"Jangan lupa pakai anti nyamuk ya mba!", pintaku pada Ami.


"Sudah non!", Ami membawa Azki ke box bayi.


"Mba Ami!"


"Iya non!"


"Maaf, mba Ami usianya berapa ya?"


"Dua lima non! Non sendiri?"


"Mau sembilan belas."


"Masih muda banget udah punya baby ya non heheheh!"


"Nikah muda ngga selamanya buruk mba."


Aku memicingkan mata ku. Jujur sekali mba Ami ya?


"Alhamdulillah!", jawabku seadanya.


"Non Nana beruntung banget ya punya pak Azka. udah ganteng, kerjaannya bagus, penyayang lagi. Lama pacarannya non?"


Woiih....keren nih babysitter, lancar banget nanyanya kaya jalan tol!


"Iya Alhamdulillah mba. Kami ngga pacaran, langsung nikah."


"Hah? kok bisa? Jangan bilang hamil duluan! Soalnya keliatan pak Azka udah dewasa banget!"


"Hahahah ya ngga lah! Kami emang nikah dulu, baru pacaran dan punya anak. Bukan sebaliknya mba!"


Ami manggut-manggut.


"Maaf mba, suami saya sebenarnya baik. Cuma, dia emang terlalu to the point kalo ngga suka sama orang."


"Maksudnya, pak Azka ngga suka sama saya?", tanya Ami. Aku menggeleng.


"Bukan ngga suka dalam artian benci mba. Cuma, mas Azka kelewat peka. Dia tahu kalo mba Ami, maaf ...caper sama suami saya."


Ami membeku. Kebaca sekali kah niatnya?

__ADS_1


"Hahaha...caper sama suami non? Ya ngga lah non. Saya mah sadar diri kali! Heheheh!", Ami masih terkekeh.


"Iya, saya tahu. Tapi suami saya yang over narsis kali."


"Heheh iya non."


"Ya sudah, saya mau ke atas dulu ya. Titip Azki."


"Siap non!", sahut Ami.


Setelah Nana berlalu, Ami memainkan ponselnya. Menunggu Azki yang masih tidur pasti sangat jenuh bukan.


"Permisi mbak!", sapa Arin.


"Iya mba, kenapa?", tanya Ami.


"Non Nana nya di mana ya? Di depan ada tamu."


"Eum, di kamar."


"Bisa tolong panggilin ngga? Aku ngga enak kalo harus ke atas."


"Kok kamu nyuruh saya sih? Saya kan lagi jagain Den Azki!", kata Ami kesal.


"Ada apa ribut-ribut?", tanya bibik.


"Di depan ada tamu bik, Arin kan cuma minta tolong mba Ami panggilin non nana. Eh, malah ngomel!", sahut Arin ketus. Bibik yang paham hanya menggeleng.


"Ya udah bibik aja yang panggil non Nana. Emang siapa tamunya Rin?", tanya bibik.


"Non Aurel!", sahut Arin.


Bibik ragu-ragu akan memanggil Nana, tapi salah juga kalo ngga panggilin.


Tiba-tiba saja Aurel sudah masuk ke dalam rumah.


"Bibik!", pekik Aurel.


"Lho , non!", bibik tampak kaget melihat keberadaan Aurel yang sudah ada di dalam.


"Kenapa aku di larang masuk sih? Ngga mungkin kan Nana yang nyuruh?", tanya Aurel .


"Bukan gitu non...!", kata Bibik tesendat.


"Aurel?", tanyaku saat aku mendengar keributan di bawah.


"Nana!", Aurel menghampiri ku yang masih berdiri di tangga.


Aurel memeluk ku begitu erat! Ya, aku juga sangat merindukan sahabat ku ini.


"Maaf!", dia berbisik di samping telinga ku.


"Aku juga minta maaf Rel!"

__ADS_1


Arin kembali ke toko, bibik juga kembali ke dapur. Membiarkan aku dan Aurel berdua. Sedangkan Ami masih sibuk dengan ponselnya dan menemani Azki.


__ADS_2