Menikahi Mantan Kekasih Ibu Tiriku

Menikahi Mantan Kekasih Ibu Tiriku
Ulah Dara


__ADS_3

"Rania, apa masih ada lagi yang harus ku kerjakan?", tanya Azka pada Rania.


"tidak ada pak."


"Jadi, saya sudah bisa keluar dong?"


"Pak, yang jadi bos kan pak azka. Bebas lah pak!", sahut Rania. Azka hanya menanggapinya dengan tersenyum.


"Ya sudah, saya mau balik aja deh. Kasian Nana di rumah."


"Ciye...pak bos, sejak punya istri jadi romantis gitu."


"Romantis apa sih Ran?"


"iya... gitu lah pak."


"Udah ah, saya mau pulang!", Azka berdiri dibelakang kursinya. Tiba-tiba saja pintunya terbuka kasar.


Brakkk....


Seorang wanita cantik memasuki ruangan Azka.


Dara? Batin Azka. Tapi kenapa dia nggak pakai jilbab lagi?


Resepsionis berlari tergopoh-gopoh menyusul Dara di belakang nya.


"Maaf, pak Azka. Nona ini memaksa masuk."


Azka pun mengiyakan, lalu menyuruh resepsionis itu kembali. Begitu juga dengan Rania.Azka meminta Rania keluar dari ruangan nya.


"Ada apa kamu ke sini Dara?"


"Azka! Tinggalkan bocah ingusan itu. Aku lebih pantas jadi istri mu Azka!"


Azka tersenyum mengejek.


"Kamu bilang apa Dara? kamu lebih pantas jadi istriku? Yang benar saja!"


"Bertahun-tahun aku nunggu kamu Azka. Kenapa? Kenapa tak sedikit pun kamu memandang ku Azka? Kamu lebih memilih janda di bandingkan aku? Ku pikir setelah janda itu mati, kamu bisa bersama ku. Tapi kamu malah menikah dengan bocah ingusan itu."


"Dara...dara....kamu lupa , atau pura-pura lupa lebih tepatnya!"


Dara menatap nanar ke mata Azka.


"Bianca, meregang nyawa karena kesalahpahaman yang kamu buat Dara!", Azka menunjuk wajah Dara dengan telunjuknya.


"Salah paham apa? Bianca mati itu karena ulahnya sendiri!"


"Cukup Dara!"


"Azka!"


"Keluar dari ruangan ku!"


"Tidak akan Azka! Aku sudah lelah, lelah menunggu cinta dari mu!"

__ADS_1


"Bagus lah, lalu apa lagi mau mu?"


"Aku akan memaksa mu agar kamu mau bersama dengan ku!"


"Gila! Kamu sudah tidak waras Dara!", kata Azka sambil meninggalkan ruangan nya. Tapi Dara meraih tangan Azka.


"Kita lihat saja Azka! Aku akan memiliki mu!", teriak Dara.


Azka pun menghentakkan cengkeraman tangan Dara. Entah apa yang ada di pikiran gadis itu.


Azka melenggangkan kakinya menuju lobi. Sang satpam membawa mobilnya sampai ke depan lobi.


"Makasih pak!", ucap Azka pada satpam itu.


Dalam perjalanannya, Azka menyempatkan menelpon Nana.


[Assalamualaikum sayang.]


[Walaikumsalam. Iya mas!]


[Lagi apa? Udah mandi]


[Udah lah, udah cantik udah wangi. Tapi kamu yang belum pulang.]


[ Hahhah iya, sebentar lagi aku pulang kok.]


[oke. aku tunggu]


[mau nitip apa?]


[ apa aja, yang lagi pengen kamu makan mungkin]


[Em... emang kamu dimana mas?!]


[Jalan pulang lah sayang!]


[Lewat itu nggak sih mas, es ketan duren yang depan Rutan?]


[Hah? Es ketan duren? ]


[Iya mas, aku pengen!]


[Sayang, lagi hamil nggak boleh makan duren.]


[Dikit aja lah mas...boleh ya?]


Aku masih berusaha mencoba merayu mas Azka.


[Iya iya, tapi agak lama nggak apa-apa ya. Mas kan putar balik dulu]


[Iya deh mas!]


Sambungan telepon pun selesai.


"Bik, mas Azka mau pulang. Lauknya udah Mateng semua kan Bik?"

__ADS_1


"Ya udah atuh Non!"


"Owh...oke!"


"Non Nana butuh sesuatu?"


"Em...bik, emang kalau orang ngidam itu harus di turuti ya bik?"


"Iya...mungkin begitu Non!"


"Emang bener kalo nggak di turuti bayinya ileran?"


"Hahah mitos itu neng. Bayi umumnya ngiler lah. Apa lagi kalau mau tumbuh gigi atau lagi demam. Kebanyakan ngeces!", kata bibik


"Owh...gitu ya?"


"Emang Non Nana ngidam apa sih? Mau bobok masak apa gitu?"


Aku menggeleng.


"Tahu nih bik, Nana pengen Deket terus sama Azka. Bawaannya tuh pengen di manja gitu. Padahal kan Azka juga harus kerja!"


Bibik mengusap kepalaku dengan penuh kasih sayang.


"Hormon kehamilan kebanyakan begitu kali non. Perempuan hamil biasanya ingin di manja ,ingin di perhatikan lebih. Tapi ya... tergantung orang nya aja sih!"


Aku pun manggut-manggut tanda mengerti.


"Non Nana harus sabar, jangan dikit-dikit ngambek. Kasian lho pak Azka. Pulang kerja, udah badan capek eh...sampe rumah istrinya malah manyun, marah-marah nggak jelas. Non Nana udah makin dewasa. Udah jadi seorang istri, jadi seorang ibu. Belajar buat mengimbangi pak Azka. Bibik lihat juga pak azka ngimbangin Non Nana kok. Bibik kenal pak Azka udah lama. Pak Azka bersikap ke bunda sama ke non Nana aja beda kok."


"Jadi, Nana harus gimana Bik? Mas Nana harus dewasa sebelum waktunya?"


"Ya...nggak harus gimana-gimana non. Hanya saja, non harus lebih sedikit bersabar."


Bibik mengusap bahuku.


"Ya udah deh bik, Nana mau belajar. Sebentar lagi kan Nana mau ikut ujian. Materi dari Aurel lumayan banyak yang harus Nana pelajari!"


"Mau bibik buatin susu hangat Non?"


"Nggak bik. Em...tolong air putih aja deh. Mas Azka mau bawain es ketan duren nanti Bik!"


"Oh...ya sudah, Non Nana belajar dulu. Bibik ambilin minum sama kue ya non. Biar nggak bete!"


"Bibik tahu bete juga?"


"Tahu atuh!"


"Hahah bibik pasti gaul sama mbak-mbak komplek ya? Makanya tahu istilah anak muda!", ledekku.


"Hahaha iya non. Kok non tahu sih?"


"Tahu atuhhhh....", jawabku. Akhirnya aku dan bibik tertawa bersama.


****

__ADS_1


Maaf baru bisa aplot 🤗🙏🙏🙏🙏, terimakasih yang sudah bersedia membaca tulisan receh mamak y 🙏🙏🙏🙏✌️✌️✌️👸


__ADS_2