Menikahi Mantan Kekasih Ibu Tiriku

Menikahi Mantan Kekasih Ibu Tiriku
Sepemikiran


__ADS_3

Azka membawa segelas susu ibu menyusui dan juga roti yang bibik ambilkan dari toko depan ke dalam kamar.


Aku yang baru keluar dari kamar mandi hanya tersenyum tipis. Ya, itu rutinitas seorang Azka Pradipta setelah aku melahirkan Azki.


"Maaf ya mas, aku bangun siang terus!"


"Ngga apa-apa lah sayang. Mas tahu kamu kan juga ngantuk, capek!", Azka meletakkan susu ku di atas meja.


"Iya sih!"


"Minum dulu susunya!"


Aku pun mengambil gelas itu, lalu duduk dan menghabiskan isinya.


"Haus buk?", ledek azka.


"Ngga sih sebenarnya! Cuma menghargai usaha yang udah susah-susah bawain ke kamar. Kasian , udah mendaki gunung lewati lembah. Sungai mengalir indah ke samudra..."


"Suamimu bukan ninja Hatori Bambang!", kata Azka mencolek hidungku. Aku tertawa pelan. Takut mengganggu Azki yang masih lelap.


"Makin ke sini, urat senyum di wajahmu cukup membaik mas. Ya... walopun cuma buat aku, mama, papa, bibik dan Azki."


"Masa mau tebar pesona, kan aku punya bidadari cantik di rumah!", azka memeluk erat pinggang ku.


"Gom to the bal!"


"Ya kan ini emang bidadari surga ku!", sahut Azka lagi.


"Sayang...!"


"Heum!", gumam Azka yang saat ini malah memangku ku.

__ADS_1


"Gimana kalo kita pindah di kamar bawah aja. Kamar bunda kan luas. Udah gitu, disebelahnya ada space kosong. Bisa kamu pakai buat ruang kerja kamu."


"Kok bisa kebetulan sepemikiran sih sayang? Mas juga ada niatan buat ngomong gitu ke kamu, tapi keduluan!"


"Oh ya? Masa sih?", tanyaku meyakinkan lagi.Azka mengangguk pelan.


"Iya, mas tuh pengen ada ruang kerja sendiri. Jadi ngga gangguin kamu sama Azki kalo lagi banyak kerjaan."


"Bukan kamu yang ganggu tapi kamu yang keganggu sama aku."


Azka mengusap kepala ku lalu mengecupnya.


"Makasih sayang, kamu pengertian banget sama mas. Ternyata kamu lebih dewasa dari usiamu."


"Kamu juga, ternyata ngga tua-tua amat kok!", celetuk ku.


"Kamu kebawa muda mas hehehehe!", lanjut ku.


"Kecil-kecil udah bisa kasih kamu anak kecil, noh!", aku menunjuk Azki dengan daguku.


"Iya, biar kecil tapi udah mahir!", bisik Azka. Sontak, aku jadi teringat soal nafkah batin Azka yang sudah lama tak ia dapat.


"Mas!"


"Hem?"


"Em... gimana ya ngomong nya?"


"Ngomong aja sih , apaan?"


"Aku belum bisa memenuhi kebutuhan biologis kamu, kamu gimana?", tanya ku pelan. Takut dia marah atau tersinggung. Tapi ternyata dia malah tersenyum.

__ADS_1


"Ya gimana, kan kamu memang masih nifas sayang!"


Aku menggeleng.


"Itu aku tahu mas, tapi gimana sama..."


"Mas bisa solo karir, sampe kamu benar-benar sudah siap lagi. Toh, ngga tiap hari kali begituan."


"Hah?"


"Ngga usah mangap gitu, ada lalat masuk lho!", aku otomatis menutup mulut ku.


"Ya kan kasian kamu mas."


"Heheheh sebelum sama kamu, emang mas gimana? Ya main sendiri lah sayang."


"Mas ga butuh bantuan ku?", tanyaku menatap matanya.


"Bantuan?"


Aku mengangguk.


"Iya, aku udah baca kok di beberapa sumber,gimana memenuhi kebutuhan biologis suami saat istri sedang tidak bisa melayani."


Azka tersenyum tipis lalu kembali mengusap kepala ku.


"Mas ngga mau egois sayang. Buat apa mas keenakan sendiri, kamu nya cuma capek! Udah, tenang saja sayang. insyaallah, mas kuat sampai waktunya tiba nanti. Jangan pikirkan kebudayaan begitu-begitu! Kita fokus ke Azki dan pemulihan kamu dulu! Oke?"


Aku mengangguk. Setelah itu ku peluk tubuh tegap suamiku.


Di saat yang bersamaan, Azki terbangun. Aku dan Azki pun menghampiri anak kami.

__ADS_1


__ADS_2