
"Mereka sudah menikah beberapa bulan yang lalu setelah bundanya Najma meninggal."
Kini semua menatap ke arah Azka. Tatapan menyalahkan tentunya.
Papa bangkit dari duduknya, lalu meraih kerah pakaian Azka. Melayangkan bogeman pada Azka.
Bughhh....
Azka tersungkur tak jauh dari tempatku duduk.
"Pah, jangan pukul Azka!", aku menghampiri Azka yang masih duduk di lantai.
"Papa sudah bilang tahan, setidaknya sampai Najma lulus dari sekolah ini."
"Pah, kami sudah dewasa. Kami sudah menikah. Apa yang salah dengan hubungan kami?", tanya Azka.
Semua guru bingung menyaksikan drama di dalam ruang BK.
"Kamu tahu, sebentar lagi Najma ujian. Kalau begini kejadiannya, apa yang akan kamu lakukan hah?"
"Pah, tolong jangan salahkan Azka terus pah."
Aku memeluk Azka.
"Najma!", bentak papa.
"Pah, cuma Azka yang Najma punya pah!", aku mengeratkan pelukan ku.
"Meskipun papa pemilik sekolah ini, papa tetap harus tegas. Kamu harus keluar dari sekolah ini!"
Aku dan Azka saling berpandangan.
"Pah, jangan keluarkan Najma dari sekolah Pah. Azka mohon!", Azka memelas pada papanya.
Aku sudah pasrah dengan semua yang akan terjadi. Jika memang aku harus keluar dari sekolah ini, mungkin ini yang terbaik.
"Benar pak Bhakti, tolong jangan keluarkan Nana pak. Tolong pertimbangkan kembali pak, Nana sudah membanggakan sekolah kita pak."
Kini pak Sam yang memelas pada papa.
"Keputusan saya sudah bulat, Najma harus keluar. Papa bisa mengurus ujian kamu nanti, tapi bukan sebagai alumni SMA Bhakti!"
Papa pun meninggalkan ruang BK.
"Nana....!", panggil pak Sam.
Aku menghambur ke pelukan pak Sam yang sudah ku anggap seperti orang tuaku sendiri. Aku tergugu dalam pelukan laki-laki sepuh ini.
"Kenapa kamu nggak pernah cerita kalau kamu sudah menikah Na?", tanya pak Sam.
Aku menggeleng pelan. Niat hati merahasiakan pernikahan ini, tapi justru terbongkar dengan cara yang mengejutkan.
__ADS_1
"Kita pulang Najma?!", pinta Azka.
"Pak Azka!", panggil pak imam.
"Maaf pak imam...saya lelaki normal, bagaimana mungkin saya membiarkan istri saya begitu saja sedangkan setiap hari kami tinggal seatap?"
"Saya tahu pak Azka. Mungkin,lebih baik anda bicarakan terlebih dahulu dengan pak Bhakti di rumah. Terus terang saya juga terkejut pak Azka, ternyata anda putra dari pak Bhakti", kata pak imam.
"Iya. Kami memang harus bicara di rumah."
"Ayo sayang, kita pulang. Ambil dulu tas mu di kelas", pinta Azka. Aku pun mengangguk pelan.
Ku Salami semua guru yang ada di ruangan ini.
Lalu aku dan Azka keluar dari ruang BK. Tatapan mata tajam seperti menghakimi kami berdua. Padahal mereka berdua tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ini lah yang biasanya terjadi di negeri kita. Buru-buru menghakimi tanpa mencari tahu apa yang sebenarnya terlebih dahulu.
"Ka, aku ambil tas dulu ya."
Azka pun menunggu ku di luar kelas. Aku menghampiri Aurel yang duduk di sebelah bangku ku.
"Rel...!", panggil ku pelan.
Aurel menatap ku sendu.
"Kenapa Lo nggak pernah cerita sebelumnya sih Na?"
"Maaf Rel...."
"Bukan gitu rel...."
Aurel menunjukkan wajah marahnya padaku.
"Rel, gue pamit ya. Gue di DO!"
"Hah?"
"Gue gak percaya kalau Lo bisa melakukan hal kaya gitu Na!"
"Ini semua nggak seperti yang kalian pikirkan."
"Lalu apa yang sebenarnya terjadi Na? Jelaskan! Siapa laki-laki yang harus bertanggung jawab dengan kandungan kamu!"
"Aku sudah menikah Aurel. Aku nggak berzinah!"
"Apa? Menikah?"
"Iya Rel, aku sudah menikah. Aku sudah bersuami!"
"Siapa laki-laki itu?"
"Azka!"
__ADS_1
"Azka siapa?"
"Pak Azka,guru kita!"
"Hah? Yang benar saja Lo Na!"
"Iya, aku dan Azka menikah beberapa bulan lalu setelah bunda meninggal. Kami hanya menjalankan wasiat bunda Na. Tapi... ternyata...kami saling jatuh cinta. Apakah ini salah rel?"
"Lo nggak salah jatuh cinta Na. Tapi...yang bikin posisi Lo sulit ya itu... kehamilan Lo! Lo tahu bentar lagi kita ujian, apalagi ah....!"
"Kepala yayasan adalah papa nya Azka Rel. Papa sudah memutuskan untuk mengeluarkan aku dari sekolah ini!"
"Astaga....!", Aurel mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.
"Gue pamit ya Rel. Tapi kalau Lo masih mau temenan sama gue, pintu rumah gue selalu terbuka buat Lo!"
Aurel membeku. Aku tahu, dia pasti sangat kecewa padaku.
Ku ulurkan tangan ku ke pada Aurel. Tapi Aurel menepis nya. Dia pun berdiri di hadapan ku. Aku mengambil tasku hendak memutar badan. Tapi Aurel merengkuh ku dalam pelukannya.
"Lo kenapa gak pernah cerita ke gue Na!", Aurel tergugu di bahuku.
"Maafin gue Rel!"
"Apa Lo pikir, persahabatan kita cuma sampai segini? Lo tetep sahabat gue!"
Aku menjatuhkan tasku. Membalas pelukan Aurel. Aku pikir, Aurel sudah tidak ingin bersahabat dengan ku lagi.
"Gue pulang ya Rel. Azka udah nunggu gue!"
"Iya, ntar gue main ya kerumah Lo!"
" Gue tunggu! Lo sahabat terbaik gue Rel"
Kami pun saling melepas pelukan. Sekarang aku keluar bersama Azka. Ku biarkan ia menggenggam tanganku. Azka gak peduli dengan tatapan mata orang lain yang ada di sekolah ini.
Azka membuka pintu mobil untuk ku.
"Kita ke dokter kandungan dulu ya Na!"
"Buat apa?"
"Kok buat apa? Ya tentu saja memeriksakan kandungan anak kita!"
"Kamu senang kalau kita aka punya anak ka?"
"Tentu saja senang sayang...anak itu anugerah!"
"Tapi, karena kehadirannya kita jadi keluar dari sekolah ini. Ini...ini...yang ku takutkan selama ini Ka!"
"Sayang... tolong....jangan menangis begini. Kita akan mengahadapi situasi ini dengan kepala dingin. Nanti, kita bujuk papa oke? Aku yakin mama pasti bisa bujuk papa!"
__ADS_1
Aku mengangguk. Mobil pun keluar dari area sekolah.