Menikahi Mantan Kekasih Ibu Tiriku

Menikahi Mantan Kekasih Ibu Tiriku
Kedatangan bibik


__ADS_3

Aku bersandar ke dinding sambil memangku bantal. Tanganku masih memainkan ponsel. Sekedar melihat aplikasi dalam ponsel ku. Saat tengah serius, tiba-tiba Azka meraih nya.


"Ka...kok di ambil?", kataku kesal.


"Jangan main hp terus, mainin aku aja!"


"Ih..apaan sih. Siniin ah!"


"Nggak!", Azka meletakkan ponsel ku di atas nakas.


"Kamu jahil amat sih. Perasaan kalo kamu main hp,aku nggak pernah ganggu."


"Aku pegang hp juga urusan kerjaan kan? Kalau kamu kan beda!"


"Tau ah!", aku merebahkan diri karena kesal pada kelakuan Azka.


Tapi justru Azka kembali berulah. Dia tiba-tiba mengungkung ku!


"Apa ada yang kamu lupakan Nana sayang?"


"Ka! Berat ah, awas!"


"Berat apanya? Tanganku menyanggah badanku sendiri lho! Jangan pura-pura lupa!"


"Lupa apa?"


"Melanjutkan yang sempat tertunda di kantor!"


"Emang kamu nggak denger apa kata mama tadi?"


"Nggak. Biarin aja. Aku bisa melakukan pelan."


"Azka...kamu it....!"


Belum selesai aku bicara, dia sudah membungkam mulutku.


******


"Sayang, hari ini aku harus bertemu klien. Kamu di rumah saja. Kalau mau pergi, bilang aku. Aku akan meminta kang Ujang mengantarmu. Nggak boleh bawa motor sendiri apalagi nyetir mobil."


"Iya...Ka...iya...apalagi?"


Azka menghampiriku lalu mengusap rambut ku yang setengah basah itu.


"Jangan salah menerima nya sayang, aku hanya ingin kalian berdua baik-baik saja."


Azka memelukku dari belakang sambil mengusap perut ku.


"Apa kamu mencintaiku?", bisiknya padaku.


"Tidak ada pertanyaan lain?"


"Jawablah sayang!"

__ADS_1


"Kenapa setelah kita menikah, kamu terlihat seperti anak kecil aja sih Ka!"


"Karena yang ku nikahi emang anak kecil. Wajar dong kalau aku juga bisa ikutan manja seperti anak kecil, karena istriku memang kecil."


"Udah tahu kecil, suruh siapa di nikahi!", aku melepaskan pelukannya.


"Malah ngambek....!"


"Udah ah, mau masak!"


"Nggak. Aku ngga mau kamu menyentuh kompor!"


"Kenapa?????!!!", aku kesal sekali.


"Tugas mu adalah melayaniku dan menjaga anak kita."


"Memangnya memasak bukan tugas ku juga?"


"Tidak harus!"


"Terus kita mau sarapan apa?"


Tok..


tok...


tok...


"Buka saja!"


Aku pun membuka pintu kamarku. Seketika mataku membulat.


"Bibik....!", teriakku sambil memeluk wanita dewas itu.


Bibik pun membalas pelukan ku. Aku senang bibik datang kembali ke rumah ini.


"Bibik kapan datang?"


"Semalam."


"Kok bibik nggak bilang sih mau ke sini?"


"Pak Azka pengen ngasih kejutan buat non Nana."


"Bener Ka?" tanyaku.


"Apa non? Non panggil apa barusan?"


"Ka, Azka bik!", jawabku singkat.


"Atuh ngga sopan non. Pamali. Selain pak Azka lebih tua dari Non, beliau itu suami non. Nggak sopan atuh kalau cuma manggil nama aja."


"Gimana dong bik, udah kebiasaan sih!"

__ADS_1


"Ya di benerin atuh. Apalagi bibik denger, bibik mau punya cucu ya?", kata bibik sambil mengelus-elus perut ku.


"Iya bik."


"Nah, kalau anak non lahir terus ikut-ikutan manggil nama ke bapak nya gimana hayo?"


"Iya bik. Nana bakal belajar kok!"


Bibik memelukku lagi.


"Bener kan pak? Nggak susah jatuh cinta sama non Nana. Jangankan jatuh cinta, bikin anak aja nggak pake lama kan pak Azka?" goda bibik. Dan Azka hanya mengusap tengkuknya.


"Bibik jangan godain suamiku terus bik. Nanti dia ngambek, Nana yang jadi sasaran nya."


"Ya maap...heheheh!", sahut bibik.


"Sarapan sudah siap kan bik?"


"Sudah pak Azka."


"Bibik masak apa?"


"Sayur bayam, ayam goreng lengkuas, sambel terasi sama bakwan jagung."


"Wah, enak sekali....!", aku bertepuk tangan.


"Ayo Ka, kita sarapan. Aku kangen masakan bibik!"


Bibik sudah lebih dulu menuju meja makan.


Tapi Azka malah diam saja.


"Kamu nggak denger nasehat bibik barusan?"


"Soal apa?"


"Panggilan mu padaku?"


"Baiklah, ayo Daddy...kita turun. Sarapan dulu yuk?", aku menggandeng lengan nya. Azka pun tersenyum menanggapi ku.


Tapi tiba-tiba dia menghentikan ku.


"Amunisi pagi!", Azka meraup bibirku. sepertinya kebiasaan ini akan sulit Azka hilang kan.


"Sudah Dad, ada bibik!", kataku pelan.


"Iya, nanti kita teruskan lagi. Oke???"


"Iya sayang, sekarang kita sarapan saja dulu. Dede utun udah lapar." Aku mengusap perut ku yang masih rata.


"Iya sayang!"


Kami berdua menuruni tangga menuju meja makan.

__ADS_1


__ADS_2