
"Assalamualaikum!"
Ku dengar suara suami ku mendekat ke arah kami.
"Walaikumsalam!", sahut aku, bibik dan mba Ami.
Ami mendekatkan Azki pada ayahnya dengan wajah berbinar.
"Eh...saya baru dari luar, jangan dekatin Azki ke saya dulu! Saya mau bebersih sebentar!", kata Azka menjauh dari Ami yang membawa Azki dalam gendongannya. Ami memanyunkan bibirnya.
"Iya benar mba, mas Azka dari luar. Takut banyak kena debu. Ajak ke sini aja!", kataku.
Ami pun membawa Azki ke dekat ku lagi. Azki yang tertidur pulas merasa nyaman di ayun-ayun dalam dekapan Ami.
"Sayang, mas ke kamar dulu ya!"
"Iya mas."
"Oh iya Bik!", panggil Azka.
"Iya pak?"
"Eum...piyama yang cream udah di setrika kan? Tolong antar ke kamar ya?", kata Azka dengan memberi kode pada bibik.
"Aku aja yang bawa mas, udah mau selesai kok ini!", kataku menyela.
"Udah saya aja non. Non Nana makan yang santai aja. Ngga usah buru-buru!"
Bibik yang paham dengan kode Azka pun menuruti perintah majikannya. Bibik membawa piyama yang dimaksud Azka.
"Mana bik?", tanya Azka setelah bibik sampai di depan kamar Azka.
"Ini pak!", bibik menyerahkan ponsel dan juga piyama itu.
"Maaf pak, sebenarnya ada apa ya?", tanya bibik kepo.
"Ada seseorang yang sepertinya mau meneror Nana bik. Jadi, lebih baik saya selametin dulu ponsel Nana."
"Astaghfirullah!", kata Bibik menutup mulutnya.
"Satu lagi bik, tolong tahan Nana jangan naik ke kamar dulu sampai saya yang turun ke bawah ya!"
"Siap pak!", bibik mengangguk dan kembali ke lantai bawah.
"Udah bik?", tanyaku.
"Udah non. Oh iya, katanya non tunggu di bawah aja. Nanti pak Azka yang turun. Kasian sama non Nana naik turun tangganya. Pasti jahitannya ngilu."
"Heheheh iya bik. Padahal tadi Nana mau siapin baju Azka."
"Udah non Nana ngga usah khawatir, pak azka mandiri kali heheheh!"
"Iya bik....!"
"Oh iya, mau bibik kupasin melon ngga? Tadi bibik belanja di pasar pagi lho! Masih fresh!"
"Boleh!", kataku dengan senang hati.
Ami sedari tadi manyun melihat keakraban bibik dan majikannya itu.
Di kamarnya, azka yang baru saja selesai mandi lalu solat ashar pun langsung mengeksekusi ponsel istrinya. Dia menyalin semua nomor-nomor penting.
__ADS_1
Azka sempat melihat chat dari Aurel. Dia mengirim foto dirinya dengan Naura yang sedang meeting. Pantas saja Nana merasa curiga dengannya. Apa dia sudah sampai ke kantor atau belum.
Usai menyalin semua nomor yang penting dan juga mengirimkan chat ke hampir nomor yang baru dia salin, untuk memberitahu nomor Nana yang baru.
Setelah di rasa cukup, Azka menghubungi tim IT nya.
[Selamat sore pak Azka?]
[Sore!]
[Ada yang bisa saya bantu?]
[Saya butuh seseorang yang mau membantu saya untuk meretas.....]
Obrolan Azka dan anak buahnya cukup memakan waktu yang lama. Azka yang sebelumnya sudah tidak sabar ingin menemui anak dan istrinya di lantai bawah pun di buat mondar-mandir di dalam kamarnya.
Ting!
Notif di aplikasi hijaunya berbunyi. Wajahnya tersenyum sumringah. Dia menghubungi anak buahnya itu.
[Bagus! Terima kasih. Saya pastikan bonus buat kamu hari ini]
[Terimakasih pak Azka. Dengan senang hati saya bisa membantu anda. Tanpa anda, siapalah saya ini]
[Jangan berlebih-lebihan! Sekali lagi terimakasih]
Setelah merasa lega, Azka pun turun ke lantai bawah untuk menemui dua kesayangannya.
"Mas, bukannya tadi minta piyama ya sama bibik? Kok malah pakai kaos oblong sih?", tanya ku.
"Hehehe di pikir-pikir masih kesorean pake piyama sayang!", Azka mengacak rambut ku.
"Heum! Dasar!", aku menowel pipinya gemas. Ami mendekatkan Azki pada Azka.
Ami bermaksud menyodorkan Azki pada mas Azka, tapi entah kenapa Azka justru terlihat cuek.
"Sini mba, sama saya aja. Mungkin ayahnya Azki capek!", kataku. Wajah Ami berubah masam. Tapi tetap, ia memberikan Azki pada ku.
Setelah azki berada di pangkuan ku, barulah Azka mengusap kepala anak lelakinya itu. Mengecup puncak kepala Azki dengan penuh kasih sayang.
"Anak ayah ganteng amat sih....!", kata Azka sambil menowel pipi Azki.
"Jangan di towel Mulu Mas , pamali!"
"Ayah gemes tahu Bun!", kata Azka. Aku tersenyum mendengar pengakuan Azka yang begitu gemas dengan Azki. Apalagi dia menyebutkan dirinya ayah, rasanya...eum... gimana gitu lah.
"Ehem! Ami, ngapain kamu di situ?", panggil bibik. Ami dari tadi diam memperhatikan majikannya.
"Kenapa sih bik? Ami kan cuma mau standby aja. Barang kali den Azki butuh saya!", sahut Ami ketus.
"Ssst...udah bik, mba Ami. Kalian istirahat saja."
"Tapi kan pak Azka belum makan malam Non?", kata Ami. Aku mengernyitkan alisku.
"Suami saya bisa makan malam nanti mbak, ini baru jam lima sore kok! Udah ,mbak Ami istirahat aja dulu. Nanti kalo emang saya butuh apa-apa, pasti panggil mba Ami."
"Ya udah kalo gitu, saya permisi!", kata Ami melenggang pergi begitu saja daru hadapan kami.
"Ke kamar aja yuk sayang! Sambil nunggu magrib!", ajak Azka.
"Ya udah, ayok!", aku pun berjalan perlahan menuju kamar kami di lantai atas.
__ADS_1
Azka membukakan pintu kamar untuk ku.
"Mas...!"
"Heum?"
"Kayanya mas tuh ngga suka banget sama mba Ami deh!"
"Kenapa? Biasa aja tuh?"
"Abis kamu pasang muka es balok sih mas!"
"Heheh ya biarin lah, mas mau pasang muka mesum cuma sama istri mas!", alis Azka naik turun.
"Dih, dasar bapak-bapak mesum!", aku mengusap wajah Azka.
"Kamu ngga ngerasa gitu Na, Ami tuh caper sama mas!"
"Oh ya? Masa sih?"
"Iya lah, mas tahu banget cewek model-model gitu yang sok caper sama mas."
"Kenapa narsis sekali kamu sekarang mas?"
"Bukan narsis, mas hafal betul seperti apa cewek model Ami. Udah banyak pengalaman cewek-cewek yang ngejar mas. Salah satunya ya kaya Ami tadi."
"Suudzon aja kamu mas!"
"Bukan suudzon bund, tapi alangkah baiknya kamu beri tahu ke dia. Sadar batasan! Boleh akrab sama kita, tapi jangan kelewat kaya tadi. Keliatan banget dia mau deketin aku."
"Iya, lain kali ngga lagi!", kataku sambil mengusap lengannya.
"Sayang, sebenarnya mas lebih seneng kamu sama bibik aja yang rawat Azki. Belum perlu babysitter dulu. Apalagi modelnya kaya si Ami itu."
"Maaf, bukannya aku mau nolak mas. Tapi kan ga enak sama mama. Mama yang udah cariin babysitter buat Azki lho. Biar aku bisa tetap perhatian sama kamu, tanpa mengurangi perhatian ku sama anak kita."
Azka menghela nafasnya.
"Ya udah, mas ikut aja mau kamu!", Azka mengusap kepala ku lalu mencium puncak kepalaku sebentar.
Ponsel Azka berdering. Ku lihat azka tersenyum tipis. Aku jadi curiga, kenapa dia tersenyum begitu.
[Hallo Dara? Kenapa?]
[.....]
Azka menjauhkan ponsel dari telinganya. Mungkin Dara berbicara cukup kencang di seberang sana.
[Stop! Gue udah bilang sama Lo Dara, jangan pernah ganggu keluarga gue! Dan tadi, cuma gertakan kecil dari gue. Kalo Lo masih aja ganggu, gue bakal obrak-abrik semuanya]
[.....]
[Lo salah pilih lawan dara. Dulu kita emang sahabat, tapi tidak sekarang! Gue nyesel pernah punya sahabat kaya Lo!]
Sambungan telepon Azka dan Dara terputus. Aku yang tak tahu juntrungannya, bingung mau tanya dari mana.
Azka tersenyum padaku.
"Kak Dara kenapa mas?"
"Biasa lah, urusan kerjaan! Eum, mas siap-siap ke musholla belakang ya! Inget, jangan keluar kalo ada azan. Mas tutup dulu jendelanya!"
__ADS_1
Aku pun mengangguk setuju.