
Azka belum pulang juga sampai jam sembilan malam. Bahkan toko pun sudah tutup. Azka marah banget sama aku?
Aku pun tertidur di meja makan. Entah untuk beberapa jam. Saat aku terbangun, aku sudah ada di kasur. Aku mengucek kedua mataku.
Seingatku, tadi aku duduk di meja makan. Kenapa sekarang ada di kasur?
Suara air gemericik di kamar mandi. Azka pulang? Kulihat sudah hampir jam sebelas malam.Aku duduk bersandar di dinding. Menunggu Azka selesai mandi.
Tak lama kemudian, Azka pun keluar dari kamar mandi. Melirik ku sebentar. Aku tak berani bertanya, tatapan matanya seperti orang yang marah. Aku hanya memperhatikan tiap geriknya. Memakai baju di hadapanku tanpa canggung. Setelah itu, dia mendirikan empat rakaat nya.
Usai solat, aku mendekat padanya. Aku harus melakukan hal yang kak sisi katakan tadi sore. Sukur-sukur berhasil, kalau tidak ya...aku harus melakukan hal lebih lagi.
Aku meraih tangan nya, untuk ku cium takzim. Tak ada penolakan darinya. Hanya saja, sikap nya masih dingin.
"Aku minta maaf kalau udah bikin kamu marah ka!"
Azka masih diam tak merespon ku.
"Kamu diem aja sih Ka?", aku mengusap pipi nya. Suamiku memang tampan, tampan sekali.
"Apa kamu rela kalau aku berpegangan tangan denga perempuan lain Najma?"
Aku menggelengkan kepalaku.
"Begitu pun aku. Aku nggak rela kalau ada yang menyentuh mu selain aku."
"Maaf...lain kali aku akan lebih jaga diri Ka!"
Azka mengusap rambutku ,meyelipkan ke sela-sela telinga ku.
"Kamu, udah nggak marah kan sama aku?"
Azka menggeleng.
"Makasih!", aku memeluk tubuhnya yang masih segar aroma sabun.
"Kamu sudah makan ?", tanya Azka .
Aku menggeleng.
"Kenapa nggak makan?"
"Nunggu kamu!"
"Ya sudah ayo makan!"
"Udah nggak laper."
"Jangan begitu, ayo makan. Nanti kamu sakit. Nanti aja makannya habis...."
"Habis apa?", Azka mengernyitkan alisnya.
"Habis...."
"Habis apa sih Najma? Mau sahur?"
Aku menggeleng lagi.
"Habis aku menunaikan kewajiban ku!"
Azka tersenyum menatapku, mengusap kembali puncak kepalaku.
"Aku yang meminta Ka, kamu mau?", tanyaku menawarkan diri.
"Apa bisa aku menolaknya?", Azka melepaskan baju Koko dan sarung nya.
Mengajak ku ke kasur kembali.
"Stop!"
"Kenapa?", tanya Azka. Dia baru mau memulai, tapi aku sudah mengehentikan nya.
__ADS_1
"Aku yang akan memulainya Ka", bisikku ke telinganya. Azka mulai paham dengan maksud ku. Aku mulai bergerilya seperti yang biasa Azka lakukan padaku. Tapi sepertinya aku memang belum mahir, sampai Azka yang tak sabar untuk melakukan nya.
"Belajar perlahan saja. Aku tak menuntut mu untuk ahli dalam hali ini Najma!"
"Maaf...!"
"Tidak ada yang perlu di maafkan, semua butuh proses. Aku salut, kamu berusaha menyenangkan ku, suamimu!",Azka mengulas senyum nya. Kini justru ia yang mengungkung ku.
"Untuk sementara, aku yang akan melayani mu. Tapi, suatu saat nanti kamu pasti bisa Najma!"
Aku mengangguk perlahan. Malu...aku merasa malu sekali. Penyatuan kami berjalan penuh lenguhan lembut. Keringat kebahagian menyatu dalam tiap sentuhan.
Kami tertidur di bawah selimut yang sama. Ku pandangi wajah lelaki ku yang tengah kelelahan usai pertempuran tadi.
"Ka...!"
"Hem...!"
"Apa aku murahan?"
"Kenapa bicara begitu? Tentu saja tidak!"
"Aku... menyerahkan begitu saja mahkotaku padamu, laki-laki yang belum lama aku kenal."
"Hem...tapi...aku suamimu! Mau baru kenal pun kalau halal, apa salahnya coba?"
"Tapi...."
"Nggak ada tapi-tapian. Aku nggak mu kamu bertanya tentang hal itu-itu lagi."
"Iya."
"Kamu itu milikku, begitupun aku. Aku milikmu."
Azka mengeratkan pelukannya. Bibirku menyentuh lehernya yang selalu membuat ku ingin menelusup dalam cerukan lehernya.
Tanpa kusadari ,aku menyesap lehernya yang putih itu. Tidak hanya sekali dua kali. Tapi, Azka membiarkan aku melakukannya.
"Udah? Kenapa berhenti?", tanyanya.
"Kamu marah?"
"Untuk apa aku marah, lakukan saja apa yang kamu mau?"
"Benarkah?"
Aku melepaskan pelukan nya. Kini aku yang berada di atas tubuh nya.
"Kamu bilang, aku boleh melakukan apa saja?"
Azka tersenyum lebar.
"Lakukan!"
Pergulatan kembali terjadi. Kini aku yang pegang kendali. Tak terasa, kami pun tertidur tanpa membersihkan diri terlebih dahulu.
*****
"Selamat pagi sayang....!", Azka mengecup kening ku.
"Udah pagi?", tanyaku. Aku mengerjap sebentar. Udah setengah enam.
"Mandi, masih keburu solat subuh."
"Iya!", aku bergegas ke kamar mandi. Setelah itu ku dirikan dua rakaat ku.
Azka sudah turun ke dapur terlebih dahulu.
"Kamu sudah masak?", tanyaku.
"Ini masakan mu kemarin sore, aku hangat kan. nggak apa-apa kan?"
__ADS_1
"Aku sih nggak masalah, kamu sendiri?"
"Tenang aja. Ya udah, sarapan yuk?"
"Masih kepagian, baru jam enam kurang!"
"Ya nggak apa-apa."
"Ya udah deh!"
Kami pun sarapan bersama.
"Ka...leher kamu? Merah semua?", kataku panik.
"Ulah siapa?", dia melirikku.
"Aku?", aku menunjuk wajahku sendiri.
"Siapa lagi."
"Masa sampai begitu? Gimana nutupin nya?"
"Ya nggak usah di tutupi lah. Biar dijadikan bukti kalau aku sudah laku!"
"Azka! Aku nggak becanda! Gimana kalau di sekolah pada liat kamu begitu?"
"Memang nya mereka akan berpikir kamu pelaku nya? Enggak kan?"
"Azka....!?", rengek ku.
"Sudah, habiskan makanmu. Ganti seragam! urusan leherku, nanti saja!"
"Tapi..."
"Udah, nurut aja sih!"
Aku pun mengganti pakaian ku. Disusul oleh Azka.
"Ini, uang jajan mu. Ambil sendiri!"
"Dompet ku, atmku, kredit card ku?"
"Aku yang simpan."
"Kenapa?"
"Biar kamu minta nafkah padaku!"
"Tapi aku kan masih..."
"Kamu tanggung jawab ku sekarang. Nurut saja!"
"Iya..."
"Mulai sekarang, kang Ujang antar jemput kamu. Aku nggak ijinin kamu bawa motor lagi. Biar kejadian kemarin nggak terulang lagi."
"Pakai supir?"
"Iya!", jawab Azka singkat.
"Baiklah!", jawabku lesu. Itu artinya... aku sudah tidak bisa bebas bermain usai pulang sekolah.
"Tapi, sesekali aku boleh kan jalan sama Aurel ?"
"Tergantung!"
"Ya udah." Aku pun merapikan tasku.
Azka memeluk ku dari belakang.
"Iya...aku ijinkan, asal kamu bilang ke aku. Kemana tujuan kamu."
__ADS_1
"Makasih!", aku berbalik ,mengecup bibir nya.
"Amunisi pagi!", kataku. Dia menyunggingkan senyuman manisnya.