
"Permisi!", Azka bangkit dari sofa menjauh dari kami. Aku melepas pelukan Aurel. Bermaksud untuk menjangkau tangan Azka. Tapi ternyata suamiku berhenti lalu memutar badannya.
"Jangan manfaatkan kepolosan istriku!", setelah itu ia pun meninggalkan ruang tamu. Sepeninggal Azka, aurel dan keluarga nya pun pamit undur diri.
Aku menghampiri Azka yang sedang menimang-nimang Azki di balkon kamar. Sepertinya ia belum bisa ku ajak bicara sekarang. Wajah nya memang tersenyum berhadapan dengan Azki. Tapi....siapa yang tahu jika ia memendam emosi pada orang-orang tadi. Kubiarkan azka memanjakan putranya itu.
Perlahan, Azka meletakkan azki di kasur kami. Setelah itu, ia kembali ke balkon. Mengabaikan ku????
Hari ini begitu cerah,tapi mendung sekali suasana hati suamiku.Aku melingkarkan tangan ku ke perut Azka yang sedang menatap ke langit luas yang berwarna biru bersih tanpa awan.
"Mas!", panggil ku lirih. Azka masih tak bergeming. Pria berusia tiga puluh tahunan itu tak merespon.
Kucium punggung nya dan kuusap pelan. Aku hanya berusaha untuk menenangkan Azka. Dan aku merasakan ia menarik nafas dalam.
"Aku pernah memenjarakan Vicky karena dia pernah menculik dan melecehkan mu. Aku pikir dia tidak lagi memgusik kehidupan rumah tangga kita. Tapi kenyataannya dia malah bersekongkol dengan Dara. Dara yang sudah melepaskan Vicky sebelumnya. Tapi untuk kali ini, aku tidak akan memaafkan nya begitu saja Na. Aku ngga bisa!"
Azka memutar badannya menghadap ku.
"Andai fitnah itu terjadi, aku yakin kepercayaan mu akan luntur padaku."
Aku menggeleng.
"Aku selalu percaya pada mu. Jangankan ucapan mu, masa depan ku saja aku percaya kan sama kamu padahal kamu itu kekasih bundaku!", kutatap mata lentik suamiku.
"Terima kasih!", azka memeluk ku begitu erat.
"Mas, kalo kamu ngga mau maafin Vicky itu hak kamu mas. Tapi ... kamu pasti tahu dan paham kondisi Aurel. Terlepas Aurel itu sahabat ku atau bukan, dia tetap berada di posisi yang sangat tertekan."
Azka Masih memelukku.
"Dulu, saat aku hamil meski aku bersuami...aku pun merasakan banyak ketakutan yang tak bisa kukatakan. bagaimana dengan Aurel? Yang menghamili nya saja ada dibalik jeruji besi. Pasti ketakutannya jauh lebih besar dariku."
Lagi, azka menarik nafas dalam.
__ADS_1
"Kasian bayi itu mas!", aku memainkan telunjukku di dadanya. Tapi setelah itu ia menangkap jari ku.
"Itu kenapa aku malas jika sampai mereka menemui kita. Kamu terlalu baik Na. Dan mereka memanfaatkan kebaikan kamu."
"Sayang!", kutakupkan kedua tanganku di pipinya meski agak sulit karena aku pendek.
"Dengar kan aku mas. Mereka bukan memaafkan aku sayang, tapi mereka hanya minta tolong."
"Sama saja!", sahut azak ketus.
"Mas, dengar kan aku. Siapapun yang mempermudah urusan orang lain dalam kebaikan, insyaallah Allah juga akan mempermudah urusan kita."
"Kamu memaafkan Vicky begitu saja?"
Aku menggeleng.
"Tidak sepenuhnya, aku hanya memandang aurel dan bayinya. Hanya itu mas."
begitu juga dengan Azka. Azka masih menaruh kekesalan karena Vicky yang pernah melecehkan istrinya tapi dia juga tak kalah emosi saat mengetahui Dara, yang sudah bersahabat dengan nya dari jaman sekolah dulu justru bertindak yang sangat mengecewakannya.
Tak cukup kah bagi Dara saat ia mengorbankan almarhum Bianca? Mengingat peristiwa itu Azka mendadak limbung.
Ia memegang erat kepalanya membuat ku bingung.
"Kamu kenapa mas?",tanyaku panik. ku seret semampuku agar azka duduk di bangku yang ada di balkon.
Aku melihat Azka menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Kuraih tangan yang menutupi wajah tampannya itu.
"Kalo kamu memang tidak bisa memaafkan mereka, tidak apa mas. Aku tidak akan memaksa! Ya?", aku mengusap pipinya. Dia menatapku begitu lekat.
"Aku masih merasa bersalah karena kejadian saat itu Na. Gara-gara kesalahan pahaman yang Dara buat, Bianca harus meninggal dengan cara seperti itu."
"Mas tidak bermaksud mengingat kisah kami Na. Bukan itu, mas hanya kecewa. Dara begitu terobsesi pada mas bahkan sampai mengorbankan orang lain." Azka kembali melanjutkan cerita nya.
__ADS_1
Entah, apa yang kurasakan saat ini. Apa iya aku cemburu pada sosok Bianca yang bahkan aku sendiri sama sekali tak mengenalnya? Mungkin, saat azka bersama Bianca aku saja baru bisa baca tulis? Huffft....
Azka menghadap ku sekarang.
"Maaf!", ujarnya lirih.
"Maaf untuk apa mas?", tanyaku.
"Mas....cerita soal Bianca sama kamu." Aku menggeleng pelan.
"Aku ngga marah mas. Aku tahu kamu cinta sama aku. Kamu tak bisa memaafkan Vicky ,itu juga bukti bahwa kamu... benar-benar menyayangi ku. Sebagai istri mu, bukan sekedar amanah dari bunda."
Kutakupkan kedua tanganku di pipinya.
"Saat orang lain mudah memaafkan kesalahan seseorang, di sisi lain juga ada orang lain yang berusaha untuk meminta maaf. Tapi kembali lagi, hati setiap orang memilik kadar kesabaran masing-masing mas. Dan aku, mungkin tidak sehebat kamu yang mampu bertahan sampai sekarang. Dengan semua hal yang sudah kamu lalui. Entah itu dengan Bianca, Dara ataupun Bunda. Kamu sabar menghadapi setiap hal yang udah terjadi. Mungkin....saat ini, hari ini titik jenuh dan kesabaran mu benar-benar di uji mas."
"Maksud kamu apa? Aku tak paham !"
"Jika mas memang tak bisa melepaskan mereka dari jeruji besi, setidaknya maafkan mereka. Biar hati mu tenang mas."
"Lalu apa hubungannya dengan almarhumah Bianca dan bunda Anisa?"
"Mereka hadir sebelum aku hadir di kehidupanmu sekarang. Andai merek masih ada, apa kita akan berada di titik ini? Memiliki Azki kecil?"
Azka terdiam.
"Maaf kan Dara mas, mungkin benar Dara sangat mencintai mu sampai dia melakukannya berbagai cara untuk mendapatkan mu. Tapi ternyata takdir tak menyatukan kalian. Kamu ,milikku."
Azka mendengarkan baik-baik ucapan istrinya itu. Meski terdengar tidak begitu nyambung dengan kondisi saat ini, tapi apa yang Nana katakan benar.
Azka merengkuh ku dalam pelukannya, lalu sesekali mengecup puncak kepalaku.
"Terimakasih sayang!", bisiknya. Aku mengangguk dalam dekapannya.
__ADS_1