
"Perutmu nggak perih Ka?", aku melihat Azka masih mengunyah mangga mudanya sambil menyetir mobil.
"Jangan di doain perih lah!"
"Ya...ya...!"
Akhirnya mobil kami masuk ke parkiran hotel.
"Ayok turun!"
Azka menggandeng ku menuju ruang kantornya. Di kantor sudah ada Rania yang sudah menunggu.
"Pagi pak Azka, Bu...Najma?", sapa Rania.
"Mas ibu? Aku masih teeneger lho kak rania!"
"Iya... tapi kan, istri nya pak bos!"
"Nggak, aku nggak mau di panggil Bu. Panggil Nana, kaya biasa aja!"
Rania memandang bosnya, meminta persetujuan darinya. Sedangkan Azka hanya mengangguk saja.
"Oke...Nana!"
"Nah, gitu dong!"
"Gimana Ran, ada jadwal apa?"
"Nanti jam sepuluh ada meeting dengan pak Riko."
"Oh.. masih ada waktu satu jam lagi."
"Ka...kalau kamu meeting, aku sama siapa? Dimana?"
"Sama saya juga bisa. Saya nggak ikut meeting kok Na!"
"Oke, setuju!"
"Yau udah, kita keruangan ku ya sayang. Nanti kalau sudah siap panggil saya ya Ran!"
"Siap pak!"
Aku dan Azka pun masuk ke ruang kerja Azka. Aku berdiri di tepi kaca, memandang kota dari lantai tiga puluh, lantai paling atas di gedung ini.
Azka melingkarkan tangannya di perut ku.
"Liat apa sih?", tanyanya sambil menciumi bahuku.
"Lihat itu! Itu menara sekolah kita!", kataku menunjuk ke arah yang ku maksud.
"Lalu?"
"Mama bilang mau pimpin rapat kan? Mengambil keputusan untuk masa depanku besok?"
"Iya. Kita tunggu saja kabar dari mama. Kamu nggak usah cemas!"
"Iya, aku pasrah saja. Sekolah atau tidak, yang penting ada kamu yang selalu bersamaku."
Azka kembali menciumi bahuku yang tertutup pasmina.
"Aku yakin, mama bisa menanganinya. Mam bisa di andalkan kok. Kita tunggu saja kabar baiknya."
"Ka...!"
"Hem?"
"Apa kamu nggak malu, istrimu SMA saja ngga lulus!"
"Kenapa harus malu?"
"Ya... bagaiamana pun, ibu itu kan madrasah pertama seorang anak. Sedangkan aku? Aku sejak saja belum selesai."
"Kata siapa? Lihat di luar sana, banyak kok ibu yang sukses mendidik anak-anaknya meskipun mereka tak mendapatkan pendidikan formal. Dan kamu, istriku yang paling cantik. Kamu itu pintar. Tidak hanya dalam akademi, tapi disini. Di hati ini. Kamu punya kebaikan, kepatuhan dan ketaatan pada suamimu yang belum lama kamu kenal."
Aku tersenyum dengan pujian nya barusan. Apa aku sesempurna itu di matanya?
"Apa aku masih bisa ikut kejar paket C?"
__ADS_1
"Tentu saja bisa. Hanya saja...kita kan berharap, semoga ada kabar baik dari mama. Kamu tidak perlu keluar dari sekolah."
Tok...tok...
"Eh, sepertinya itu Rania!"
"Masuk ran!"
"Pak Riko sudah menunggu di ruang rapat pak!"
"Oke, sebentar lagi saya ke sana."
Rania pun meninggalkan ruangan.
"Kamu mau ikut meeting atau....?"
"Disini saja Ka. Aku bisa rebahan di sana kan?"
"Ya sudah, kalau ada apa-apa hubungi aku ya."
"Iya, jangan lama-lama meeting nya ya?!"
"Iya sayang!", Azka mengecup keningku.
Aku mulai rebahan di sofa ruang kerja Azka. Ruangan yang nyaman untuk bersantai.
Tak lama kemudian, ku dengar Rania kembali masuk ke ruang an ku.
"Lagi istirahat ya Na?"
"Nggak kak Rania, cuma rebahan!"
"Owh...mau kakak temenin?"
"Tentu kau kalau kak Rania tidak sibuk."
"Justru suamimu memintaku meninggalkan pekerjaan yang tidak penting buat nemenin kamu."
Aku tersenyum sumringah.
"Apakah Azka selalu begini?"
"Iya... begitu lah!"
"Apakah itu sopan Na? Maaf, bukan maksud kakak mengajarimu."
"Iya , aku tahu kak. Tapi, kami sudah sepakat. Kami hanya tidak ingin menciptakan jarak diantara kami berdua."
"Maksudmu?"
"Iya, kami ingin akrab. Tanpa embel-embel dek, atau pun mas. Nanti seiring berjalannya waktu, kami akan merubah nama panggilan kami."
"Oh..."
Aku mengusap perut ku yang masih rata.
"Kamu libur Na? Nggak berangkat sekolah?"
"Aku...di DO kak?!"
"Hah! Kok bisa? Itu kan sekolah milik keluarga suami mu Na?"
"Aku hamil kak. Papa yang mengeluarkan aku dari sekolah. Papa tidak ingin ada kejadian seperti ini lagi."
"Kamu...hamil? Kalian...sudah melakukan...?"
"Tentu saja Kak. Kami orang dewasa. Kami tinggal satu atap, dan kami terikat dengan hubungan yang sah secara agama dan negara."
"Iya, kakak tahu. Maksud kak Rania...pak Azka semudah itu move on?"
"Entahlah kak, yang jelas...kami saling mencintai."
Ya ampun Najma... beruntung sekali kamu. Pantas saja, pak Azka sekarang lebih hangat. Tidak beku seperti dulu.Ternyata , gadis kecil ini yang mampu menaklukan pria beku itu.
"Kak, temani aku berkeliling mau?"
"Memang apa alasan ku untuk menolak keinginan ibu bos?"
__ADS_1
"Kak Rania, ayolah...anggap saja aku ini adikmu. Toh, disini sedang tidak ada suamiku!''
"Baiklah...Nana yang cantik. Mari kita berkeliling!"
Aku dan kak Rania pun berkeliling menikmati pemandangan hotel. Berdiri di roof top sambil memandang ke segala penjuru. Angin yang sepoi-sepoi membuat ku merasa damai.
Ddddrrttttt...ponselku bergetar.
Mama?
"Halo assalamualaikum ma?"
"Walaikumsalam, kamu dimana Nana? Mama keruangan Azka kamu nggak ada?"
Aku memandang kak Rania.
"Aku sama kak Rania di roof top ma."
"Ya udah, mama tunggu di ruangan Azka sekarang ya. Ada hal penting!"
"Iya ma!"
Aku pun menutup panggilan telpon mama mertuaku.
"Kak, mama di ruangan Azka!"
"Baiklah, mari kita kembali."
"Sayang...!", mama menghambur ke pelukan ku. Kak Rania kembali ke ruangan nya lagi.
"Mama!"
"Nana, tadi mama dari sekolah."
"Iya ma, bagaimana keputusan rapat nya ma?"
Aku cemas mendengar jawaban mama.
Mama menarik nafasnya dalam-dalam.
"Maaf Na, kamu tetap tidak dapat meneruskan sekolahmu!"
Hah! Sudah ku duga, dan aku pun sudah menyiapkan hatiku untuk hal ini.
"Tapi, kamu akan tetap mengikuti ujian besok dan keluar sebagai alumni SMA Bhakti!"
"Benarkah ma?"
"Iya, kamu hanya harus belajar di rumah dan bisa mengikuti ujian nanti. Itu kesepakatan yang diambil oleh pihak komite dan lainnya."
"Alhamdulillah, ma. Terimakasih ya ma!"
"Iya sayang...!"
__ADS_1
Aku memeluk mama mertuaku yang sudah ku anggap ibu kandung ku sendiri. Azka harus mendengarkan berita ini. Tapi, dia masih rapat. Biarlah ku habiskan waktu ku dengan mama mertuaku terlebih dulu.