
Menjelang tengah malam Azki terbangun. Ternyata dia ngompol. Aku segera mengganti popoknya. Ku lihat azka tertidur di atas meja kerjanya eh...lebih tepatnya meja kerja ku. Sebenarnya aku kasihan padanya. Di rumah ini , dia tidak punya tempat khusus untuk di jadikan ruang kerjanya.
Usai menidurkan Azki, aku menghampiri Azka yang bersandar ke bangku.
"Mas...mas...pindah ke kasur! Nanti leher mu capek!", kataku sambil mengguncang pelan bahu Azka.
"Heum? Eh, iya sayang! Maaf mas ketiduran!", jawabnya.
"Tidur di kasur, biar bisa lurusin pinggang!"
Azka mengangguk. Kami kembali ke tempat tidur. Aku masih nyaman memakai kasur yang langsung di lantai tanpa dipan. Kadang kasian liat suamiku, pemilik hotel berbintang tapi tidurnya lesehan 😩.
"Kok kamu malah liatin aku sayang? Ngga ngantuk?", tanya azka sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding.
"Kasian kamu mas."
"Kasian kenapa?"
"Kamu pasti capek. Udah capek kerja, sampe rumah masih ikut jagain Azki."
"Azki kan anak mas sayang. Wajar dong kalo jagain juga. Justru kamu yang capek! "
Azka mengusap kepala ku yang sudah tak berhijab.
"Sini!", Azka menepuk sebelahnya agar aku bisa duduk di sampingnya. Aku pun menurutinya
__ADS_1
"Udah malam, bobok! Mumpung Azki bobo nyenyak." Aku pun mengangguk lalu merebahkan diri di antara Azka dan Azki. Benar-benar jadi yang paling cantik kan???
Azka memeluk dari belakang. Rasa nyaman berada di pelukannya membuat ku kembali mengantuk. Tapi ternyata, tiba-tiba Azki bangun lagi. Aku pun meraihnya agar lebih dekat. Ku berikan ASI padanya hingga ia benar-benar tertidur pulas. Ku pandangi wajah Azka dan Azki bergantian. Wajah bapak dan anak ini seperti fotocopian. Mungkin Azka sama seperti Azki saat masih bayi. Begitu juga dengan Azki, mungkin setelah dewasa nanti wajahmu mirip dengan Azka.
Usia Azki sudah hampir dua Minggu. Sebagai seorang istri, sebenarnya aku sudah mencari tahu bagaimana caranya agar aku bisa memberikan nafkah batin pada mas Azka. Tapi rasanya kok memalukan sekali??? Dan sepertinya, Azka tak berniat memintanya padaku. Aku hanya takut jika sampai Azka berbuat macam-macam di luar sana. Meskipun aku selalu meyakinkan diriku bahwa Azka akan setia padaku.
Usai puas memang mereka satu persatu, akhirnya aku tidur lagi.
Azka memelukku, aku memeluk Azki. Adil kan????
.
.
"Biasa lah, sayur katuk buat non Nana."
"Ngga bosen apa gitu Mulu?",celetuk Ami. Gadis berambut panjang itu mengikat rambutnya.
"Kan biar makin banyak asi nya."
"Kalo buat kita apa Bik?"
"Kita mah ngikut aja Ami, bos minta masak apa ya kita juga makan makanan yang sama. Kecuali kalo emang kamu mau makan dari luar, ya ngga apa-apa."
"Eum...oke! Btw, ini mau masak cah kangkung sama ikan goreng Bik?", tanya Ami lagi. Bibik hanya mengangguk.
__ADS_1
"Ya sudah deh masih lama kan, aku mau nyapu depan aja kalo gitu. Toh, den Azki masih di kamar nya kan?"
"Ya udah sana!", kata Bibik. Ami mulai menyapu ruang tamu dan ruang tengah. Saat sedang menyapu, Ami penasaran dengan kamar kosong yang ada di dekat tangga. Ami heran, kenapa majikannya malah memilih tidur di atas. Padahal kamar tersebut terletak lebih besar.
Saat akan menekan gagang pintu, Ami dikejutkan dengan suara bariton seorang pria.
"Mau ngapain kamu?", tanya Azka yang sudah berdiri di tangga. Ami sempat terkejut melihat Azka yang ada di tangga.
"A...ini pak mau nyapu!",jawab Ami tergagap.
"Ngga usah, biarin aja. Ngga bakal kotor juga."
''i...iya pak?!", sahut Ami.
Ami pun melanjutkan kegiatan menyapu nya. Azka menaik ke dapur untuk membukakan susu hangat buat istrinya.
"Pak Azka mau saya buatin kopi?"
"nanti saja! Oh ya bik, saya ngga mau Ami bersihkan kamar Anisa ya bik. Biar saya saja kalo sedang tidak sibuk."
"Baik pak."
Azka kembali ke kamar lagi. Dia melihat dua kesayangannya masih tertidur pulas.
Azka jadi berpikir, bagaimana kalau kamar anisa di jadikan ruang kantor Azka. Tapi , setidaknya menunggu ijin dari Nana. Karena bagaimanapun, rumah ini miliknya.
__ADS_1