
Azka tengah sibuk dengan kliennya tentang kerja sama yang ia lakukan. Kesibukan nya membuat ia lupa jika ada seseorang yang sibuk menunggu persetujuan nya agar bisa keluar dari rumah.
"Saya rasa investasi ini sangat menguntungkan lho pak Azka!", kata seseorang itu. Yang tak lain adalah papanya Aurelie. Sedang Aurel hanya duduk di meja lain, menunggu sang papa yang janji akan mengajaknya pergi usai meeting dengan pak Azka.
"Baiklah kalau begitu Pak Adi. Secepatnya saja kita buat surat kesepakatan kerja sama kita!", kata Azka mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan pak Adi.
"Terimakasih pak Azka, senang bekerja sama dengan anda. Nanti secepatnya dokumen itu saya kirimkan kepada anda!", pungkas pak Adi.
"Saya tunggu pak Adi!", jawab Azka tersenyum. Usai fokus di perusahaan Bhakti group, Azka semakin sibuk. Belum lagi urusan hotel milik keluarganya.
"Maaf pak Azka, saya undur diri ya. Anak saya pengen sekali jalan-jalan berdua papanya. Maklum lah, ABG suka masih berpikir labil. Dia berpikir papanya sibuk dengan pekerjaan nya saja, ngga ada waktu buat anaknya."
"Heheh saya paham kok pak adi. Lagipula Aurel kan Sabahat istri saya!"
"Oh, iya. Saya lupa ya heheh! Kalo gitu saya langsung jalan ya, udah manyun tuh anak."
"Silahkan pak Adi!"
Papa Aurel pun mengajak Aurel pergi dari resto ini. Aurel menatap sejenak suami sahabatnya itu, lalu menundukkan kepalanya dan menggandeng sang papa.
Azka merogoh kantong kemejanya dan mengambil benda pipih nan canggih itu.
Alisnya mengernyit membaca chat dari sang istri. Di tambah lagi ada screenshot chat yang katanya dari Aurel.
Azka mencoba menghubungi istrinya, namun tak di angkat-angkat. Dari sini, Azka mulai panik. Lalu ia menghubungi Aurel, tapi juga tak tersambung. Dan akhirnya, Azka menghubungi pak Adi.
[ Halo, pak Adi? Bisa saya bicara dengan Aurel?]
[Oh, iya pak Azka. Sebentar!]
Adi menyerahkan ponselnya pada sang putri.
[Ya pak Azka, ada apa?]
[Rel, no wa kamu ganti?]
[Nggak pak, udah dari kemarin eror pak. Ini mau minta temenin papa ke gerai ponsel. Kali aja bisa bantu balikin seperti kemarin.]
[Kamu ngga pake nomor lain?]
[Ngga pak, ponsel Aurel cuma satu ini. Kenapa ya Pak?]
[Oh...ngga , saya pikir Nana chat kamu.]
__ADS_1
[Mungkin chat saya pak, tapi kan nomor saya lagi ga beres!]
[Ya udah, makasih rel]
Saat itu juga Azka panik dan bangkit dari kursinya.
Di resepsionis hotel....
"Tolong mba, saya benar-benar ada kepentingan dengan pak Azka!", kata sopir taksi memelas.
Iya, setelah berperang dengan hatinya sendiri tadi. Sopir taksi itu memutuskan untuk menemui Azka, suami dari penumpang nya yang di culik itu.
"Tapi maaf pak, pak Azka sedang ada meeting. Beliau tidak bisa diganggu!", kata resepsionis itu tetap ramah. Tiba-tiba Rania menghampiri mereka.
"Ada apa ya?", tanya Rania.
"Ini Bu Rania, bapak ini maksa sekali ingin bertemu pak Azka!", jawab resepsionis itu.
"Maaf pak, bapak ada kepentingan apa ya? Nanti saya sampaikan! Pak azka sedang meeting."
"Ini tentang keselamatan istrinya mbak. Tolong mbak!", kata sopir itu makin panik.
"Nana kenapa pak?", tanya Rania.
"Ini pak, bapak ini ada perlu sama bapak!", kata Rania.
"Anda pak Azka? Suaminya neng Najma?", tanya Pak sopir.
"Iya pak?!", kata Azka.
Masyaallah, pantes aja si Eneng mau. Suaminya ganteng banget begini.
"Pak, ada apa?", tanya Azka.
"Itu pak, tadi neng Najma jadi penumpang saya. Tapi waktu saya ke arah kafe ceria, kami di cegat. Dan....dan neng Najma di bawa pak!"
"Apa? Astagfirullah!", pekik Azka panik.
"Terus...dari mana anda tahu jika saya suami Nana? terus Nana sekarang di mana?", AZka mulai panik.
"Saya tadi sempat ngobrol pak, cari kerjaan buat anak saya. Neng Nana ngasih kartu nama ini. Habis itu, ada orang pake masker masuk ke taksi saya. Dan mengancam kami. Saya membawa mereka ke daerah perumahan. Tapi rumah nya tepat di mana saya ngga tahu?! Soal nya saat saya berhenti, ada beberapa motor di belakang taksi saya. Orang yang masuk ke mobil saya mengancam jika saya lapor polisi, keluarga saya jadi taruhannya. Makanya saya hubungi pak Azka langsung!"
Azka mengusap kasar wajahnya. Dia menyesal sudah mengabaikan istrinya hanya demi pekerjaan.
__ADS_1
"Antar saya ke tempat itu pak?! Rania, hubungi polisi sekarang! Nanti saya kasih tahu alamatnya di mana setelah saya tahu lokasinya."
"Baik pak!"
Rania pun mematuhi perintah bos nya itu....
.
.
.
''Ya Allah, semoga kamu ngga apa-apa sayang!", Azka mengikuti taksi yang ada di depannya.
Lalu ia juga sibuk bertukar informasi dengan Rania agar memberikan info pada polisi.
Ternyata Rania cepat tanggap, belum lama Azka berjalan ternyata mobil polisi sudah mengikutinya.
Azka lupa, ia memasang GPS di ponsel istri nya.
"Sial! Kenapa aku bisa sampai lupa!", teriak Azka sambil memukul setirnya.
Azka mengikuti taksi itu sampai berhenti di depan gang. Sopir itu pun turun.
"Saya hanya mengantar mereka sampai di sini pak?!", kata sopir taksi itu.
"Terimakasih pak. Tolong berikan nomor ponsel anda dan alamat anda. Nanti saya hubungi anda lagi. Terimakasih pak !", kata Azka.
Azka menerima panggilan itu dari pak sopir, lalu menyimpan nomor kontaknya.
Sopir itu pun di minta meninggalkan lokasi untuk menjaga keselamatan dirinya .
"Selamat sore pak azka!", sapa polisi.
Lalu azka menjelaskan informasi yang dia dapatkan serta chat dari istrinya.
GPS menunjukkan lokasi istrinya tak jauh dari tempat mereka berada.
"Pak, di titik ini pak!", seru Azka. Polisi dan dirinya bergerak cepat ke arah yang di maksud. Tak lama kemudian mereka menemukan petunjuk. Ada mobil mewah parkir di rumah yang terlihat tak terurus.
"Di titik ini pak!", kata Azka berlari ke arah rumah itu. Dengan sekuat tenaga ia mendobrak pintu itu. Betapa terkejutnya ia melihat istrinya dalam kondisi yang sudah tak karuan.
"Bang*at!", pekik Azka memukul Vicky membabi-buta yang sedang berusaha menyentuh istrinya. Usai puas memukul Vicky , Azka menyerahkan Vicky pada polisi.
__ADS_1
Azka menghampiri istrinya, tak lama kemungkinan istri nya pun pingsan.