
Menjelang magrib, mobil kami memasuki halaman vila. Setelah kami berdua turun, mobil jemputan pun meninggalkan villa kami.
Tapi mataku fokus terhadap mobil berplat B di halaman samping vila.
"Mas, kayanya ada tamu deh?",tanyaku.
Azka terdiam. Azka tahu siapa pemilik mobil itu.
"Kita masuk saja Sayang!", Azka menggandeng tanganku.
Benar saja, di ruang tamu ku lihat seorang perempuan cantik tengah duduk santai di sofa sambil membaca majalah fashion. Sepertinya pernah melihatnya, tapi di mana?
"Hai, Ka? Kamu dari mana saja?", tanya nya berdiri menghampiri kami.
"Ngapain kamu ke sini? Dari mana kamu tahu kami di vila?", cerca Azka dengan wajah dinginnya. Iya, Azka berwajah hangat sekaligus mesum jika hanya berdua dengan ku.
Tunggu.... tunggu....ini bukannya.....???? Waktu itu ketemu di rumah papa, dia pakai hijab. Kok sekarang plontos begini?
"Apa sih yang Dara nggak tahu?!", kata dara sambil mengitari kami berdua.
Ah, iya. Namanya Dara!
"Ada urusan apa kamu kemari? Dan siapa yang mengijinkan mu masuk?", tanya Azka lagi.
"Ka, kita kan dulu sering menginap bersama di sini. Tentu saja teteh yang mengijinkan ku masuk lah....!", jawab Dara santai.
Sering menginap? Aku menatap mata Azka. Tapi Azka tak melihat ku sama sekali. Seperti nya dia sangat emosi melihat keberadaan Dara di villa kami.
"Pergi lah, aku hanya ingin bersama istriku?!", kata Azka datar. Aku? Aku masih memilih diam.
"Hahaha Azka....Azka ...bocil begini kamu bilang istri? Dia lebih pantas jadi keponakannya kamu!", kata Dara lantang.
__ADS_1
Tangan Azka mengepal. Tapi aku meraih jemari nya, aku ingin menenangkan nya. Dan benar saja, kepalan tangannya yang tadi kaku kini mulai mengendur.
"Bukan urusan mu. Dia istriku, pilihan hidup ku!", kata Azka tegas.
"Tidak Azka! Kamu hanya pria bertanggung jawab yang memenuhi amanah dari mantan kekasih mu. Selama nya akan seperti itu. Kamu menjadi seorang guru, karena Bianca. Kamu menikahi bocil ini karena Anisa! Semua tidak murni karena keinginan mu!", Dara mengoceh panjang lebar.
"Jaga bicara mu Dara!", Azka sudah kehabisan kesabaran. Telunjuk nya tepat berada di depan wajah Dara.
"Mas, udah lah ... terserah kak Dara mau bilang apa. Yang penting aku percaya sama kamu mas! Buktinya ini?!", kuusap perutku yang mulai membuncit.
Mata Dara mendelik ke arah perut ku.
Aku menggelayut manja di lengan Azka. Sesekali mengusap pipi mulusnya. Azka tersenyum tipis.
"Kalau nggak ada cinta diantara kita, kalau kita melakukan semua ini dengan terpaksa....nggak mungkin kan ada dedek bayi di perut ku kan mas??", tanyaku dengan nada suara yang ku buat manja.
"Tentu saja sayang, kita melakukan semua ini karena saking mencintai."
Kini Azka memelukku erat. Dara yang awalnya ingin mencoba membuat celah antara aku dan Azka justru sekarang merasa emosi sendiri.
"Heh! bocil! Lo tahu diri dong! Harusnya seumuran Lo itu masih mikirin tugas. Bukan kecentilan begini, sampe bunting lagi!", seru Dara.
"Centil sama suami sendiri kan nggak salah, kenapa situ yang sewot? Halooo....jadi perempuan yang ada harga diri dong. Kamu cantik kak, bisa cari pria model apa pun. Jangan ngejar suami orang terus dong!", sindirku lebih parah.
Dara semakin emosi. Dadanya yang sintal terlihat naik turun.
"Jadi gini kak, lebih baik sekarang kak dara pulang. Atau....em...cari penginapan dekat sini aja juga ada. Maaf, kami hanya ingin berduaan saja y....?", kata ku sok memohon.
"Heh! Kali ini gue ngalah! tapi liat aja besok! Lo bakal nyesel udah giniin gue. Dasar bocil!", kata dara sambil menghentakkan kakinya meninggalkan villa.
Sepeninggal Dara, Azka membawa ku ke kamar. Kami akan membersihkan diri sebelum solat magrib.
__ADS_1
Usai solat, kami duduk berdzikir. Cukup lama kami melakukan nya. Hingga, akhirnya kami membuka percakapan.
"Makasih sayang, kamu udah percaya sama aku?!", Azka mengusap kepalaku.
"Heum!", jawabku singkat. Lalu Azka meraih ku dalam pelukannya.
"Maaf, kamu harus menjadi dewasa sebelum waktunya Na."
"Kenapa harus minta maaf mas. Kamu tak pernah mengekang ku melakukan apa pun kok. Yang penting, kita berdua saling memahami dan saling bertanggung jawab dengan tugas kita, kewajiban kita...."
"Sssstttt....aku memang beruntung memiliki mu Najma!", Azka semakin erat memelukku.
"Mas, laper ....!", kataku di sela-sela adegan romantis kami, romantis menurut ku heheheheh.
"Mau makan apa? Mau keluar, cari makanan?", tanya Azka penuh perhatian. Aku menggeleng.
"Makan nasi goreng aja gimana? Tapi...."
"Tapi apa sayang...?", tanya Azka penasaran.
"Aku mau kamu yang masak. Terus abis itu kamu yang nyuapin. Abis itu...."
"Oke. aku masak nasi goreng nya, nyuapin kamu."
"Belum selesai mas....!", kataku manja.
"Apa lagi?"
"Aku mau kamu nyuapin nya nggak pake sendok, tapi pake ini!", aku menunjuk mulutnya.
Senyum Azka mengembang.
__ADS_1
"Dengan senang hati!"
Keduanya pun kini beranjak ke dapur untuk menyiapkan makan malam yang spesial.