Menikahi Mantan Kekasih Ibu Tiriku

Menikahi Mantan Kekasih Ibu Tiriku
Si utun launching


__ADS_3

Sudah lebih dari tiga puluh menit mobil kami membelah padatnya jalanan ibu kota. Sakit perutku pun masih hilang timbul.


"Mas, masih lama ngga sih? Addduh... perut ku sakit banget!", aku mengeluh perutku yang benar-benar rasanya sakit tak tergambarkan.


"Sabar ya sayang!", Azka mengusap peluhku yang ada di keningku. Wajah nya semakin panik setiap mataku terpejam merasakan sakit yang tiba-tiba kembali menyerang.


Azka langsung mengambil ponsel disakunya.


[Layla? Kamu praktek ngga? Nana kayanya mau lahiran deh!]


Suara Azka bergetar dengan nada paniknya.


[Gue praktek Ka, tapi kan gue bukan dokter kandungan]


[Ya gimana kek, bantuin gue]


[Oke...santai bro, Lo sekarang di mana?]


[Gimana mau santai, istri gue kesakitan begini]


[Hahaha Lo bisa panik juga. Udah bilang Lo sekarang di mana?]


[Traffic light jalan Dewi Sartika]


[Oke, gue siapin petugas di depan IGD. Hati-hati Lo bawa mobilnya]


[Iya]


Azka kembali fokus ke depan kemudinya. Tangannya sesekali mengusap perutku. Sesekali desisan keluar dari bibirku.


Sepuluh menit berlalu, akhirnya mobil sampai di rumah sakit. Azka langsung membopong ku ke brankar yang ada di depan IGD. Benar, sudah ada petugas yang standby di sana.


Para petugas mendorong brankar ku masuk ke IGD. Sedangkan Azka memarkirkan mobilnya yang tak jauh dari pintu IGD.


Azka berlari ke depan IGD. Tak lupa tas gendong ku juga ada di punggungnya. Dia tak peduli pandangan orang terhadap nya yang terlihat lucu karena memakai tas cewek. Tas kecil yang hampir tak terlihat di balik punggung kekarnya.


"Mas, tadi istri saya di bawa masuk ke sini kan?"


"Iya pak. Ditunggu ya!", kata perawat itu berlalu.


Azka mondar-mandir di depan pintu IGD. Layla dan rekannya pun keluar. Layla langsung menghampiri Azka.


"Anakmu sudah pengen ketemu kamu Ka!", kata Layla menepuk bahu Azka.


Pria itu melihat istrinya berbaring di brankar. Lalu para perawat membawanya keluar dari sana.


"Lho sus, istri saya mau di bawa ke mana?", tanya azka panik.


"Ke ruang bersalin pak!", jawab suster itu. Layla hanya menepuk bahu Azka.

__ADS_1


"Sabar Ka, ngga usah panik banget kaya gitu!", ledek Layla.


"Gimana ngga panik La, istri gue pasti kesakitan. Ayo dong bantu lahiran bini gue!"


"Bukan jatah gue Azka!", kata Layla gemas.


Keduanya membuntuti brankar yang berisi Nana.


"Kamu mau nemenin Nana lahiran?"


"Iya lah."


"Insyaallah lahiran normal Ka, ngga usah cemas!", kata Layla lagi. Layla mengatarkan Azka sampai di depan ruangan bersalin.


"Bisa ngga sih sus, di ruang pribadi?"


"Nanti kalo Dede bayi nya udah lahir, tinggal pilih ruangan pak."


"Tapi...."


"Maaf pak, anda mau menemani isteri anda di dalam?", tanya suster itu. Azka mengangguk.


Azka langsung mendekati ku.


"Pasti sakit banget ya sayang. Maaf, gara-gara mas kamu jadi rasain sakit kaya gini!", Azka mengusap peluh ku di kening.


"Sus, dokter mana sih? Ini istri saya udah kesakitan gini lho!", kata Azka kesal.


"Sabar pak!"


Selang beberapa menit kemudian, seorang dokter menghampiri ku.


"Udah di cek pembukaan berapa sus?", tanya dokter.


"Terakhir, lima belas menit yang lalu bukaan enam dok!" kata suster. Dokter pun mengangguk.


"oke!"


Dokter pun kembali membuka kedua kaki ku lagi. Sudah tak ada rasa malu lagi.


"Maaf ya Bu, saya cek lagi sudah pembukaan berapa nya?"


Dokter pun memeriksa bagian vital tubuh ku. Wajahnya yang tertutup masker masih terlihat jika dia tersenyum.


"Sudah bukaan sembilan. Cepat sekali ya!", kata dokter. Aku sudah tak menghiraukan dokter atau siapa pun di situ. Fokus ku pada rasa sakit yang tak bisa ku katakan dengan kata-kata.


"Tidurnya miring ke kiri ya bu. Nanti kalo tiba-tiba sudah pengen banget ee, kembali rebahan.".


Aku pun mengangguk pasrah.

__ADS_1


"Dok, ngga operasi saja? Kasian istri saya."


"Pak, selama masih bisa melahirkan normal, operasi hanya option pak."


"Tapi saya ngga tega liat istri saya kesakitan begini!"


Aku menggenggam tangan suamiku.


"Euggghhh... sakit mas!", pekik ku.


"Iya sayang! Maafin mas ini semua gara-gara mas, kamu jadi sakit melahirkan begini!"


"Jangan bilang gitu mas. Malu sama suster sama dokter."


Suster dan dokter pun tersenyum tipis. Bisa-bisanya dia bicara begitu.


"Kayanya papanya abis jenguk ya, makanya si dedenya langsung respon minta keluar biar secepatnya ketemu papa mamanya."


Aku hanya mendengar ucapan dokter itu samar-samar.


Tapi berbeda dengan Azka. Dia seperti sedang berpikir.


"Dok, apa ini karena kami habis melakukan...?"


"Ngga juga pak, memang sp*** bisa jadi pemicu kontraksi pak. Tapi, istri anda memang sudah waktunya melahirkan."


"Dok, sakit!", rintihkh. Dokter kembali membuka kaki ku.


"Siap-siap ya Bu. Dedenya udah pengen banget keluar nih!"


Aku mengangguk.


"Dengar instruksi saya. Jangan mengejan ya, tunggu aba-aba dari saya!".


Aku pun mengangguk paham.


Kemudian instruksi dari dokter itu benar-benar ku dengar kan. Dan sekuat tenaga, aku mendorong si utun agar keluar dan melihat dunia.


Oek....oek....suara tangis bayi pun pecah.


"Alhamdulillah, baby boy. Selamat ya pak, Bu", kata dokter. Azka langsung mengecup puncak kepalaku bahkan tanpa malu-malu ia mengecup bibir ku. Aku yang malu sendiri melihat tingkah absurb nya.


"Makasih sayang, udah kasih bayi tampan buat mas."


Setelah itu, bayi kami di bersihkan. Azka mengazdani bayi kami yang udah rapi. Entah dari mana pakaian nya. Mungkin akan muncul di tagihan nanti.


*****


makasih 😁😁😁

__ADS_1


__ADS_2