
Azka baru saja memarkirkan mobilnya di depan toko. Dia sedikit berlari menghampiri ku dan kak sisi yang sedang duduk bersantai.
"Assalamualaikum!"
"Walaikumsalam, lho mas kamu udah pulang? Mau istirahat makan siang ya?", tanyaku sambil menyambut nya.
"Iya, mas pengen makan kamu!", jawab azka.
Aku dan kak sisi mengerutkan alis.
"Maksudnya, mas pengen makan siang sama kamu sayang!", Azka Mengusap kepala ku.
Aku tersenyum tipis.
"Ya udah yuk!" ajakku. Setelah itu aku berpamitan pada ka sisi.
"Kak sisi, Nana masuk dulu y!?"
"Iya Nana sayang....!", ledek sisi sambil cekikikan.
Azka merengkuh ku sambil berjalan ke dalam rumah induk.
"Emang kerjaannya udah beres mas, bisa sempetin makan siang di rumah?"
"Udah, kan mas udah janji akan luangkan banyak waktu buat istri dan calon anak kita!", kata Azka.
"Uuum....so sweet....makasih ya???", aku memeluk suamiku
"Sama-sama sayang, maaf kalo mas ngga bisa stand by dua puluh empat jam sama kamu Na!"
"Mas ih ....kalo kamu sama aku terus, nanti cari nafkah nya gimana?"
Azka terkekeh kecil.
"Istriku udah mulai dewasa ya?", Azka mengacak kepala ku.
"mau langsung makan?", tawarku.
"ke kamar dulu sebentar. Udah waktunya solat kan?", kata Azka.
"Ya udah , mas ganti baju terus solat. Aku mau siapin makan siang. Aku solat ntar ya mas?", aku mengalungkan tanganku ke lehernya. Azka memberi kecupan dikeningku.
"Iya , tapi jangan sampe lupa ya?"
Aku mengangguk. Setelah itu azka menapaki tangga menuju kamar kami. Sedangkan aku menyiapkan sarapan untuk suamiku.
"Lho non Nana, udah bibik aja yang siapin makan siangnya!", seru bibik.
"Ya elah Bik, gini aja ngga boleh. Kan bibik yang masak juga! Nana cuma nyiapin piring buat suami Nana makan siang "
"Oh, pak azka pulang buat makan siang di rumah?", tanya bibik. Aku mengangguk sambil tersenyum.
__ADS_1
"Ciye....ada yang senyum-senyum!", ledek bibik.
"Apaan ih bik...?", aku jadi merasa malu, salting sendiri.
Aku dan bibik tertawa bersama saat Azka turun dari kamar. Dia hanya memakan kaos oblong berwarna hitam dan celana bahan selutut.
Sungguh indah ciptaan Mu ya Allah! Gumamku dalam hati.
"Rame amat berdua doang?", tanya azka sambil mendudukan diri di bangku.
"Heum! Bibik yang suka ngeledek aku mas!"
"Emang ngeledek apa sih Bik?", tanya azka.
"Ngga kok pak, non Nana aja yang merasa di ledek. Orang bibi cuma bilang,ada yang seneng gitu pak Azka makan siang di rumah", bibik kembali tertawa kecil.
"Tuh kan mas ...?", kataku manja.
Azka mengacak kepalaku lagi.
"Makin gemes tahu ngga Na!", Azka mencubit pipi ku.
"Awww....sakit mas!", pekikku.
"Habisnya kamu gemesin!", ujar Azka.
"Ya udah atuh bibik mau nemenin sisi dulu!", bibik pamit pada kami.
"Udah tadi sekalian nyicipin masakan hehhhehe!", bibik pun menjauh dari komplek meja makan.
Dan saat ini kami hanya berdua menikmati makan siang ini.
"Semua urusan pekerja lancar mas, kamu bisa pulang siang begini? Pakai baju santai begini?", tanyaku.
"Udah sayang ku!", kata Azka hendak mengambil nasi.
"Biar aku ambilin mas!", aku meraih centong nasi yang ada di tangannya. Azka tersenyum manis sekali.
"Makasih sayang....!", ucapnya saat aku sudah meletakan nasi di piringnya.
"Mau lauk apa mas?"
"Apa pun yang kamu ambilin Na!", jawab nya. Aku pun mengambil lauk berserta sayur nya. Tak lupa ku tuang minuman untuk nya.
"Lho, kamu kok ngga makan sayang?"
"Liat mas makan, aku kenyang!", ku topangkan tanganku di dagu.
"Masa sih? Jangan dong! Kamu harus makan, kasian anak kita kelaparan lho?!"
"ya abisnya gimana, beneran liat mas makan tuh enak banget. Berasa kenyang aja gitu!"
__ADS_1
"Makan Na, mas suapin. Aaakkk....!", Azka menyodorkan sendok nya ke mulut ku. Dan akhirnya kami makan sepiring berdua.
"Ke kamar yuk mas, aku mau solat!", ajakku.
"Ayok!", kata Azka. Tapi ternyata ponselnya bergetar.
"Papa, telepon Na. Kamu duluan, nanti mas nyusul!", ucap Azka. Aku pun mengiyakan. Azka sedikit menjauh dari tangga.
[Halo?]
[Halo pak guru mesum]
[Vicky?]
[Betul sekali pak. Wah ...anda memang hebat!]
[Mau apalagi sih kamu?]
[Aku mau Nana]
[Jaga bicaramu Vicky!]
[Hahahah ga usah bentak-bentak seperti itu. Aku cuma ya...rindu mengecup bibir seksi Nana. Aku sudah kecanduan pak guru hahahahah]
[Vicky, jaga mulutmu! Atau kamu memang ingin masuk penjara lagi hah?]
[Takut pak...jangan mengancam saya begitu dong?Hahahahah]
Azka meremas tangannya.
[Lihat saja pak, Nana pasti akan kembali padaku]
[jangan harap!!!]
Azka menarik sambungan telepon nya. Emosi nya masih di ubun-ubun. Tidak mungkin ia langsung menghampiri istrinya.
Setelah beberapa saat, Azka masuk ke kamar bersamaan aku yang sedang melipat mukena.
"Ada masalah kantor mas, papa telepon?", tanyaku. Azka menggeleng. Tiba-tiba saja ia mendekapku.
"Sayang, kalian jangan pernah jauh dari ku ya. Mas mohon?!", azka memelukku erat.
"Memangnya aku mau kemana? kan kamu yang bilang, jangan ke manapun kalo ngga sama kamu!", kataku. Aku masih merasakan Azka mengangguk di bahuku.
"iya! Udah yuk, bobo siang! Mas usap-usap perut biar kamu enak bobo nya."
Aku pun menuruti perintah nya. Kami berdua berbaring. Azka memelukku sambil mengusap perut ku. Dan akhirnya aku tertidur.
Azka memandangi wajah istrinya yang tertidur pulas itu.
"Mas takut jika tak bisa sepenuhnya menjaga kalian sayang!", Azka mencium kening istrinya.
__ADS_1