
"Jangan lupa, ntar ulangan mapel ku!", ujar Azka padaku.
"Hah? Ulangan?"pekikku.
"Biasa aja kali!"
Biarpun gue pinter, seenggaknya gue harus mempelajari materi dong? Ini, tiba-tiba ulangan.
"Ya udah aku berangkat duluan! Assalamualaikum!", ku raih punggung tangannya.
"Walaikumsalam. Tunggu!"
"Apalagi?"
"Cium dulu dong!"
"Iih...apaan sih? Nggak!"
"Mau suka rela atau di paksa?"
Dasar om-om mesum! Dengan terpaksa ku menjijitkan kakiku. Azka malah sengaja meninggikan badannya, sudah tahu aku pendek!
"Jadi nggak sih? Udah tahu aku pendek !"
Azka mengulas senyumnya. Dia meraih pinggang ku, lalu melu*at bibir dengan lembutnya. Entah untuk beberapa saat aku menikmatinya. Hingga ******* itu usai.
"Amunisi pagi." Usap Azka di area bibirku.
"Iya... ya udah aku berangkat!"
"Iya, jangan lupa ULANGAN!"
"Iya bawel....!"
Aku pun mengeluarkan motor sport ku. Belum terlalu siang, jadi aku tak terlalu kencang melajukan motor kesayangan dari almarhum bunda.
Pukul tujuh kurang lima menit aku sudah mendaratkan motorku di parkiran. Tak lupa ku letakkan helm di atas motor. Sekedar memperbaiki jilbabku, aku berdiri di depan spion. Setelah merasa cukup rapi, aku berjalan menuju kelas. Di waktu yang bersamaan, aku berpapasan dengan Azka. Kami sudah berjanji, jika berada di lingkungan sekolah anggap kita tidak saling mengenal. Dan sepertinya, Azka memang pandai memainkan peran nya. Dia berlalu tanpa melirikku, apa lagi menyapaku.
Huh...! Bukan kah aku seharusnya merasa senang? Jadi tak terlalu susah untuk beradaptasi. Di rumah ia bagaikan singa kelaparan yang buas, yang siap menerkam ku kapan saja dan dimana saja.
Azka sudah berada di ruang guru terlebih dahulu. Obrolan dengan rekan guru membuat nya menyunggingkan senyum manisnya. Ah, meleleh dengan senyuman nya. Oops....mata...oh mata....
Bel masuk pun berbunyi. Sebagian anak-anak sudah berada di dalam kelas, sebagian lagi masih di luar termasuk aku.
Aurelie sudah duduk manis di sebelah bangkuku. Wajahnya nampak masam. Nih anak kenapa ya? Biasanya juga rame kaya pasar ikan.
"Tumben Lo anteng, kesambet jin mana Rel?", candaku.
__ADS_1
"Tau nggak Lo Na?!", tanyanya setengah berbisik.
"Enggak. Lo kan gak ngasih tau gue?"
"Ishhh....gue serius Na!"
"Apanya sih yang serius?"
"Ternyata...kemaren cewek yang pake jilbab pink yang makan sama pak Azka itu nenek-nenek. Hadeeehhhh...malu gue. Padahal gue udah share ke grup lagi."
"Terus...?"
"Ya...ya...malu lah gue!"
"Makanya...kalo Lo belom tahu jelas nya kek mana, jangan asal nge-share aja. Begini nih akibatnya!"
"Iya..lain kali gak kek gini lagi!"
Aurel menekuk wajahnya. Gara-gara Lo Rel, Azka ngabisin gue ga kira-kira.
Selang berapa lama, Azka pun datang membawa setumpuk soal. Dia memanggil salah satu siswa untuk membagikan soalnya. Ku putuskan untuk tak menatapnya berlama-lama. Aku takut nantinya tidak konsentrasi.
Alhamdulillah,ulangan kali ini berjalan lancar. Meskipun aku tak belajar karena ulah Azka yang masih suka 'menghajar' ku gak kenal waktu, tapi aku yakin nilaiku masih cukup memuaskan.
"Na, ke kantin yuk!", ajak Aurel.
Aku mencari-cari keberadaan dompetku. Ku bongkar-bongkar isi tasku. Aduh....apa aku lupa membawa dompetku?
"Em...Rel, kayanya dompet gue ketinggalan deh",
"Ya udah sih,gue traktir. Berapa makan Lo hah?", sindir Aurel. Aku pun nyengir kuda.
"Let's go!", ajak Aurel. Kami berjalan beriringan. Baru kali ini aku lupa tak membawa dompet. Masa iya sih?
Ddddrrttttt....
Ponselku bergetar ku rasa ada pesan masuk. Aku dan Aurel memilih duduk tak jauh dari pintu masuk area kantin.
Aurel memesankan baso dan es teh manis untuk ku. Sambil menunggu Aurel, aku membuka ponsel ku.
[Kamu bawa uang?]
Pesan dari Azka? Aku celingukan ke arah kanan kiri.
[Nggak. Di traktir sama Aurel]
[Ke sini, ambil uang jajan mu!]
__ADS_1
[Nggak usah!]
[Mau nurut nggak?]
[Udah di traktir Aurel. Bsk tinggal di ganti ]
[Ke kamar mandi dekat kantin sekarang!]
Iiih...dia beneran bikin emosi ya! Aku pun bangkit dari bangku.
"Wait...wait...mau kemana?", tanya Aurel.
"Sebentar Rel, kebelet nih!", ujarku bohong.
"Oh...ya udah, cepet ya. Gak pake lama!"
Aku mengacungkan jempol, sambil sedikit berlari menuju toilet yang dekat dengan kantin.
Ku lihat Azka sudah berdiri di sana.
"Mana?", tanyaku menadahkan tangan.
Azka mengambil dompetnya. Lalu menyerhakan padaku.
"Maksud nya apa ini?"
"Kamu ambil sendiri lah! Berapa yang kamu butuhkan sekarang!"
"Nggak ah, nggak sopan banget. Udah buruan ah, kasian Aurel udah nungguin!"
"Ya udah buka, ambil kek berapa!"
Uuuh... terpaksa ku buka dompet nya. Beberapa kartu menghiasi dompet nya. Ada foto pernikahan kami di dalam sana. Dia menyunggingkan senyum manisnya.
"Kenapa sih senyum-senyum?"
"Nggak apa-apa. Udah, ambil aja berapa!"
Aku ambil selembar uang berwarna merah.
"Nih, makasih!", aku pun berbalik badan.
"Tunggu!"
"Apalagi Ka? Jangan mesum disini ya! Atau mereka semua akan mengarak kita!"
"Yang pikiran nya mesum tuh kamu! saya...."
__ADS_1
"Permisi....!", ucap seseorang siswi. Alhamdulillah...aku bisa lolos kali ini. Kujulurkan lidahku sambil berlari dari nya.