
Pagi hari....
Azka bangkit dari kasur nya. Mengusap pelan pipi sang istri.
"Sayang, solat dulu yuk!", ajak Azka.
"Heum..iya Ka!", jawab ku.
Aku seperti semula, memanggil namanya lagi. Tidak lagi mas apalagi Daddy. Dan sepertinya dia tak pernah keberatan.
Akhirnya kami solat subuh berjamaah.
"Ka...!", panggil ku lirih.
"Heum? Apa sayang?", tanya nya lembut.
"Aku tidur lagi bentar boleh ya? Kan udah solat!"
"Sebenarnya mah ngga boleh Na tidur habis subuh."
"Ngga tiap hari juga kan sayang...aku masih ngantuk!", rengekku manja.
"Ya udah, iya!", katanya. Aku pun melepaskan mukena ku tanpa melipat nya lalu merebahkan diriku di kasur lagi.
Azka menggeleng pelan melihat tingkah istri kecilnya. Akhirnya azka yang melipat mukena Nana yang hanya tergeletak begitu saja.
Usai merapikan perlengkapan solat, Azka keluar dari kamar menuju dapur. Bibik Sudja berkutat di dapur dengan peralatan tempurnya.
"Pagi pak Azka...!", sapa bibik.
"Pagi Bik! Masak apa hari ini?"
"Rendang ayam sama telur pak, terus tempe goreng sama sayur bening!"
"Owh....!", sahut Azka.
"Kopi atau teh pak Azka?", tanya bibik.
"Teh aja bik!"
"Baik pak. Non Nana belum bangun?", tanya bibik sambil membuat kopi untuk tuannya.
"Udah,tadi tidur lagi. Mungkin badannya memang belum terlalu fit."
Bibik mengantarkan teh di hadapan Azka.
"Maaf pak, sebenarnya kemarin non Nana kenapa?", tanya bibik penasaran.
__ADS_1
Akhirnya azka menceritakan apa yang terjadi pada istrinya.
"Ya Allah non Nana!", kata bibik pelan.
"Saya merasa gagal menjaga Nana baik!", keluh Azka.
"Jangan bicara begitu atuh pak. Ini semua kan di luar kendali anda. Yang penting sekarang non Nana baik-baik saja."
"Iya sih bik, tapi ...saya merasa belum bisa memenuhi amanah Anisa bik!".
"Nyonya pasti paham jika beliau masih ada pak. Tolong jangan bicara seperti itu, saya takut non Nana dengar malah jadi sedih pak?"
"Iya bik. Oh iya bik, kamar Nisa ngga di kunci kan?", tanya Azka.
"Nggak pak, masih tergantung di pintu. Tapi kalo kunci brankas dan lemari non Nana yang simpan."
"Makasih bik, saya mau ke kamar Nisa bentaran."
"Iya pak?!"
Azka beranjak ke kamar Anisa. Sedangkan bibik melanjutkan acara memasak nya.
Ceklek....
suara pintu terbuka. Kamar tidur yang sudah lama kosong ini terasa hening dan adem.
Azka duduk di pinggiran ranjang. Matanya menatap sekeliling kamar yang pernah di huni oleh seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya.
Di sisi lain....
Hooooammm....aku menguap di atas kasur ku. Aku mencari keberadaan suamiku yang ternyata tak ada di samping ku.
Aku pun beranjak ke kamar mandi untuk cuci muka, lalu segera turun. Bibik masih berkutat dengan peralatan tempurnya, sedangkan di meja makan sudah ada gelas berisi teh yang sudah berkurang.
"Bik, Azka mana?", tanyaku saat sudah duduk di meja makan.
"Eh ...non Nana udah bangun, di bilangin manggil suami tuh yang bener Non!", nasehat bibik
"Hehehe iya bik, nanti lama-lama ganti kok!", jawabku.
"Iya, kemarin udah panggil mas bagus kok. Sekarang panggil nama lagi!", kata bibik.
"Iya bik...terus suamiku mana bik?"
"Em...di kamar bunda Non!", kata bibik.
"Ngapain?", tanyaku sambil beranjak dari bangku.
__ADS_1
"Ngga tahu non!",jawab bibik. Aku pun langsung menuju kamar bundaku. Iya, pintu nya terbuka begitu saja. Ku intip Azka yang tengah duduk di pinggiran ranjang bundaku.
Tangan nya memegang pigura foto bergambar bunda. Azka menatap nya penuh kerinduan.
Ah...kenapa hatiku merasa teriris. Apa dia masih mencintai bundaku? Apa aku pantas cemburu pada almarhum bundaku? Azka merindukan bunda????
Aku mengurungkan niatku untuk masuk hingga tanpa sengaja aku menjatuhkan hiasan di atas meja.
Brukkk....
Sontak aku mengambil nya dan di saat yang bersamaan Azka keluar dari kamar bunda.
"Sayang...kenapa?", tanya Azka sambil memungut hiasan itu. Kulihat matanya sembab, dia menangisi bundaku?
"Ngga apa-apa Ka...!", aku memundurkan badan ku saat ia ingin menyentuh ku.
"Sayang, ada apa?", Azka tampak bingung saat aku tak ingin di sentuh olehnya.
"Kamu masih mencintai bunda?", tanyaku seketika.
"Na...kamu jangan salah paham. Aku cuma....!"
"Cuma merindukan bunda, begitu maksudmu?"
"Sayang...dengerin aku dulu. Ini ngga seperti yang kamu bayangin Na...!", Azka memegang kedua bahuku.
"Ngga perlu Ka. Air mata kamu sudah cukup menjelaskan semuanya!", aku pun pergi dari hadapan Azka lalu berlari kecil menuju kamarku di lantai atas.
"Sayang, dengerin aku. Tolong jangan salah paham, jangan lari begitu Na. Hati-hati....!"
Ucapan Azka tak lagi ku hiraukan. Aku membanting pintu kamar ku lalu ku kunci. Aku tak mau melihat wajah dulu.
Argggghhh....! Aku terduduk di belakang pintu.
Aku sudah menyerahkan semuanya untuk mu Azka, hatiku...tubuhku...pengabdian ku....tapi di hatimu masih ada bunda. Aku harus apa lagi ya Allah????
Bunda....! Lihat aku bunda, bahkan setelah bunda tiada pun perasaan suami ke bunda tetap tak berubah!
Aku menangis tersedu-sedu di belakang pintu.
"Non Nana kenapa pak ?", tanya bibik cemas.
"Saya yang salah bik....!", hanya itu yang Azka ucapkan.
Bibikpun tak berani bertanya macam-macam.
"Bik, bisa tolong setrikain pakaian ku? Aku yakin Nana mengunci kamar nya. Jadi, aku mau mandi di bawah saja!"
__ADS_1
"Iya pak, sebentar bibik siapkan!"
Nana, kamu salah paham sayang....! Bisik Azka dalam hati.