
Brakkk....
Pintu ruangan Azka terbuka kasar.
"Maaf Pak, saya sudah berusaha menghalangi nona Dara tapi....!", kalimat Rania menggantung. Azka mengangkat tangannya, meminta Rania untuk keluar. Dara yang merasa menang pun menabrak bahu Rania yang hendak keluar ruangan.
Perempuan gila! Batin Rania.
"Mau apa?", tanya Azka.
"Mau kamu!", Dara mendekati bangku Azka. Lalu duduk di hadapan Azka sambil menyilangkan kakinya.
"Kita sedang tidak ada kerja sama, silahkan keluar! Kerjaan ku banyak!", kata Azka dengan ketus.
"Memang ngga ada sih, tapi kalo aku maunya sama kamu, gimana dong?"
"Dara please! Keluar dari sini dan jangan pernah ganggu aku lagi! Kamu masih paham bahasa manusia kan????"
Dara terkekeh kecil. Tangannya mengulur ke rahang tegas seorang Azka. Tapi Azka menepisnya.
"Hentikan Dara!", kata Azka dengan mencengkram erat pergelangan tangan Dara. Bukannya menjauh, Dara malah semakin mendekat wajahnya ke arah Azka. Dengan gerakan cepat, ia mengecup singkat bibir mantan sahabatnya itu. Tangan satunya lihat menangkap momen singkat itu.
Azka terbelalak, terkejut dengan ulah dara yang keterlaluan. Dengan cepat Azka mendorong tubuh langsing dara Daru hadapannya.
"Gila kamu!", bentak Azka.
"Ya elah Ka, cuma gitu doang!", katanya tersenyum tipis. Dengan santainya, dia memperlihatkan bidikannya pada Azka.
"Gimana kalo momen ini, gue kasih tau ke Nana? Kayanya seru!", ucap Dara. Mata Azka membulat. Bagaimana bisa kejadian singkat itu dapat Dara tangkap?
"Dara!"
"Ssst...sabar sayang!", dara memasukan ponselnya ke dalam tas nya. Dia kembali mendekati Azka, jemari lentiknya mengusap pipi Azka.
"Hapus!", pinta Azka.
"Apa? Kamu minta hapus? Ya ngga bisa lah sayang! Bahkan aku akan mengirim ke nomor Nana. Gimana? Kayanya seru deh heheheh!"
"Jangan macam-macam kamu Dara!", hardik Azka.
Dara memutari Azka yang sedang berdiri dibelakang meja. Dara berhenti di belakang Azka. Memeluknya dari belakang.
"Gue mau Lo ,Ka! Lo tahu itu! Gue udah lama nunggu Lo sendiri sampe akhirnya Anisa mati. Tapi kenapa Lo malah sama anak bau kencur itu. Apa kurangnya gue Ka?"
Azka melepaskan pelukan Dara.
"Kamu cantik, kamu kaya, kamu sempurna. Kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau. Tapi bukan aku, pria beristri! Ku rasa kamu cukup paham!"
"Hahaha justru itu! Aku bisa mendapatkan laki-laki manapun, termasuk kamu! Cepat atau lambat!"
"Please Dara! jangan gila! Hapus video itu!", pinta Azka.
__ADS_1
"Ada syaratnya!", kata Dara.
"Apa?"
"Deep kissing!", bisik Dara di sebelah telinga Azka. Wajah Azka memerah. Menandakan betapa marahnya ia saat ini.
"Silahkan kamu pikirkan!"
"Apa urat malu mu sudah putus dara?"
"Heum! May be yes! Itu juga karena kamu."
"Kamu beneran udah gila Dara!" kata Azka menggeleng.
"Okey...itu artinya, Lo lebih milih adegan singkat ini di liat sama istri Lo yang baru lahiran itu? Lo pernah dengar istilah baby blues? Bagaimana reaksi istri bocah Lo kalo liat yang tadi? Gue cuma mau deep kissing, bukan making love! Tapi kalo Lo mau, gue juga dengan senang hati kok Ka. Gue tahu, Lo bakal puasa lama kan? So...gue siap bantu Lo!"
"Naj**! Omongan Lo beneran kaya cewek ngga beragama Dara!"
"Sssst...jangan bawa-bawa agama! Gue kaya gini juga karena Lo! Kalo gue ga bisa milikin hati Lo, paling ngga gue bisa rasain to buah Lo!", sahut Dara dengan tegas.
"Astaghfirullah Dara!", Azka sudah tak tahu harus bicara apa lagi.
"Gue kasih waktu sampe sore ini! Kalo ngga, video singkat itulah benar-benar akan Nana lihat."
Dara menepuk bahu Azka yang masih berada di belakang mejanya.
Setelah Dara keluar dari ruangannya, Azka menghubungi bibik.
[Ya pak?]
[ Nana di mana?]
[Lagi main sama Azki dan Ami pak]
[Dia bawa hp ngga?]
Bibik melongok sebentar ke arah majikannya.
[Kayanya ngga pak, mungkin di kamar]
[Kalo hp Nana di kamar, tolong bibik ambil. Setelah itu, matikan dan simpan sama bibik. Jangan sampai Nana tahu dimana bibik nyimpennya]
[Tapi pak, kalo Non Nana...]
[Tolong Bik, ini untuk kebaikan Nana. Nanti kalo saya sudah pulang, baru berikan ke saya]
[Oh...iya pak!]
[Tolong ya Bik!]
[Iya pak!]
__ADS_1
Usai mengucap salam, bibik langsung menuju kamar majikannya. Benar, ponsel Nana sedang di charge. Bibik mengambilnya, lalu menonaktifkan ponsel itu. Dia mengantongi ponsel Nana, dan menyimpannya di tempat yang aman.
"Apaan bik?", tanya Ami tiba-tiba.
"Apa?", tanya Bibik balik.
"Itu yang di kantong?", tanya Ami penuh selidik.
"Hape bibik, kenapa?", bibik mengangkat ponsel yang tadi di kantong.
"Oh..."
"Kunaon sia teh kepo pisan?", gumam bibik.
"Ya kali, bibik mau nyolong!", celetuk Ami. Mata Bibik terbelalak.
"Hahaha nyolong? Di sini? Yang ada saya yang harusnya curiga sama kamu, kamu teh orang baru."
"Ya...bukan masalah orang baru atau orang lama, yang jelas kalo lagi kepepet mah siapa tahu bik!"
Bibik menggeleng.
"Kalo saya butuh duit mah, tinggal bilang sama non Nana atau pak azka juga di kasih. Ngapain nyolong!Kalo saya curiga sama situ baru wajar!",sahut Bibik sedikit menaikan nada bicaranya.
Keributan di dapur menarik perhatian ku.
"Ada apa Bik, mbak Ami?", tanya ku.
"Tahu non, bibik tiba-tiba aja ketus sama saya. Nuduh saya mau nyolong!", adu Ami. Bibik menggelengkan kepalanya.
"Mbak Ami pasti salah sangka, ngga mungkin dong bibik kaya gitu. Saya kenal banget bibik kaya gimana. Orang bibik yang merawat saya dari kecil kok."
Bibik tersenyum senang.
"Jadi non Nana juga ngira saya mau nyolong disini?", tanya Ami dengan mata berkaca-kaca.
"Ngga mba Ami, ga ada yang nuduh begitu!", kataku.
"Paling si bibik mah ngerasa tersingkir karena kehadiran saya", kata Ami.
"Astaghfirullah!", gumam ku dan bibik bersamaan.
"Bik, masakan tadi masih kan? Nana mau makan lagi!", kataku. Mungkin karena efek menyusui, aku lapar terus. Apalagi bayiku ini laki-laki, kuat banget nyusunya.
"Ada non!", kata Bibik.
"Ya udah den Azki sama saya, non Nana bisa makan dulu!", kata Ami.
"Iya mbak, tapi di sini saja ya? Ayahnya sudah mau pulang."
"Baik non!", wajah judes Ami berubah berbinar mendengar majikan laki-lakinya akan pulang. Aku menggeleng heran karena perubahan wajah Ami.
__ADS_1