Menikahi Mantan Kekasih Ibu Tiriku

Menikahi Mantan Kekasih Ibu Tiriku
Di rumah Papa


__ADS_3

Rencana pindah ke rumah papa bukan isapan jempol belaka. Azka benar-benar memboyong istri nya untuk tinggal bersama kedua orang tua Azka.


"Mas, kalo aku di rumah papa kamu kerja?", tanyaku saat di perjalanan menuju istana mertuaku.


"Kalo aku bisa ku kerjakan di rumah ya aku ngga usah ke kantor apa lagi ke hotel Na."


"Eum...kalo kamu pergi, aku sama siapa?", aku memanyunkan bibirku.


Azka yang mulai gemas dengan tingkah istri kecilnya spontan mencubit pipi gembil istrinya.


"Gemes banget kalo manja begini deh sayang", kata Azka.


"Issshhh...apaan sih mas. Serius aku tuh mas! Kamu sama papa kerja, mama biasanya kan suka pergi sama temen sosialita nya. Aku di rumah sama siapa????", kata ku geregetan.


"Kan barusan aku bilang, kalo bisa kerja dari rumah ya ku kerjakan di rumah Nana sayang!", kata Azka masih fokus mengendarai mobilnya.


"Kalo ngga bisa dikerjakan di rumah?", tanyaku sambil menatap nya.


"Yang jelas mas ngga akan biarin kamu sendiri di rumah. Ada bibik yang akan menemani mu. Mama juga ngga tiap hari arisan sama teman sosialita nya kali Na!"


Aku terdiam tak mengomentari apa pun.


"Jangan terlalu berpikir yang jauh Na. Insyaallah, di rumah papa lebih aman untuk mu. Kalo kamu emang pengen pergi, pergi sama aku atau di temani mama ya!"


"Selama kita tinggal di sana, aku boleh pergi-pergi?", tanyaku girang.


"Ya. Emang mas mau ngurunh kamu di istana papa?", sahut Azka.


"Hehehe kirain, nanti kaya di novel-novel yang suka ku baca. Terpenjara di sangkar emas Tuan Azka hahahaha.....!", kataku sambil tertawa.


Azka mengacak gemas kepalaku.


"Kebanyakan baca novel kamu tuh Na."


"Namanya juga pengacara mas, wajar dong!", sahutku.


"Heum...iya nyonya azka! Ngomong-ngomong udah nentuin mau lanjut kuliah di mana? Dari sebelum ujian nasional kemarin, belum ada bayangan universitas mana?", Azka membenarkan posisi jilbabku.


"Lepas aja ya mas. Ngga ada yang liat ini selain kamu. Panas nih!", kataku sambil melepas jilbabku.


"Ya udah lepas aja ngga apa-apa. Toh kacanya juga gelap. Ga keliatan dari luar."


Dengan senang hati aku melepaskannya. Entah karena bawaan bayi dan aku semakin berisi atau memang cuacanya yang panas, aku jadi mudah berkeringat.


"Iket ke atas aja rambut nya. Biar ga terlalu panas!", ujar Azka. Aku pun menuruti nya.


"Udah?", tanya nya saat aku sudah mengikatnya asal.


"Seperti yang kamu liat kali mas!", jawabku malas. Tapi Azka justru tersenyum.


"Kamu kalo kaya gitu seksi tahu Na. Jadi pengen....??", kata Azka menggantung kalimatnya.

__ADS_1


"Panas, ngga usah mesum deh ah. Ngga inget ini di mobil!", kata ku melotot.


"Siapa yang mesum sih? Kamu aja yang ngeres. Orang mas mau bilang, jadi pengen ngiket rambut mu yang rapi kok! Kaya gitu berantakan kan?", kata Azka memberi alasan sambil menyisipkan rambutku ke telinga.


"Heum! bisa aja ngeles nya!", kataku aman manyun.


"Jangan manyun Mulu ah! Gimana pertanyaan ku tadi, mau daftar kuliah di mana?"


Aku mendesah pelan.


"Perutku aja Segede ini mas. Nanti kalo ospek gimana?", kataku menatap matanya dengan sendu.


Azka memahami apa yang dikhawatirkan istrinya. Dia sadar, istrinya masih labil. Jika ikut ospek pada umumnya, kondisi Nana tak memungkinkan.


"Jadi, mau nya gimana sayang?", tanya azka pelan.


"Boleh ngga kuliah nya tahun depan aja. Jadi aku udah lahiran. Tapi...", aku ragu ingin melanjutkan.


"Tapi apa sayang?", tanya Azka cemas.


"Tapi...nanti dedek utun sama siapa kalo aku kuliah? Kamu kan juga kerja?"


Azka tersenyum tipis.


"Kalo mau daftar sekarang yang ngga apa sayang, nanti kalo dedek utun lahir kamu bisa cuti dulu. Soal ospek, kampus juga bakal memahami situasi dan kondisi badanmu kok. Toh...ospek kan tidak menentukan nilaimu kelak. Intinya kan berkenalan dengan keluarga kampus."


Aku terdiam mendengar jawabannya. Jadi, aku ngga bisa ikut seru-seruan ospek kaya anak-anak yang lain dong? Aku hanya bicara dalam hati.


"Nanti ku pikiran lagi deh mas."


Azka mengangguk pelan. Tak terasa , mobil sudah memasuki kawasan elit istana mertuaku. Meski bukan pertama kalinya, tapi aku masih canggung di sini. Di tambah lagi, aku akan tinggal di rumah ini.


"Pakai dulu jilbab nya Na!", kata azka membenarkan jilbabku.


Setelah aku rapi, Azka membukakan pintu untuk ku.


"Eh, itu mobil papa? Berati ada papa dong mas?", tanyaku.


"Iya, papa sama Mama di rumah. Masa anak perempuan nya mau datang mereka pergi, ngga etis dong!", jawab Azka sambil menggandeng tangan ku.


"Assalamualaikum!", aku dan Azka memberi salam.


"Walaikumsalam!", sambut sepasang suami istri yang sedang menunggu anak dan menantu kesayangan.


"Ma...pa...!", kami menyalami tangan mama dan papa.


"Kamu pasti capek Na. Sini duduk dekat mama, mama kangen!", ujar mama. Aku pun menurut duduk di samping Mama.


"Mama cuma kangen sama Nana? Sama Azka ngga?", tanya Azka. Sikap manja Azka akan selalu muncul jika berada di hadapan kedua orangtuanya.


"Ya...kangen sih Ka. Tapi dikit, banyak sama anak perempuan mama dan si utun!", kata mama sambil mengelus perut ku.

__ADS_1


Aku tersenyum mendengar candaan mereka.


"Pada belum makan kan? Makan dulu yuk, nanti gampang ngobrol lagi Ma. Kasian Nana, pasti laper dan capek otw ke sini. Iya kan Na?", tanya papa.


"Nana lagi yang di tanyain Pa. Azka juga capek lho bawa mobil ke sini!", kata Azka.


"Dasar! Ngga inget umur kamu masih manja begini!", sahut papa. Aku dan mama terkekeh mendengar ucapan papa.


"Oke... baiklah...mama dan papa sudah tidak berpihak padaku lagi!", kata Azka sambil ngeloyor menuju meja makan.


"Kelakuan suami mu Na!", kata mama geleng-geleng tapi tangannya membimbing ku menuju meja makan.


Di sudut ini...aku jadi teringat saat pertama kali azka mencium ku, di depan kak Dara pula. Ah...malu sekali kalo ingat itu.


"Makan yang banyak ya Na. Habis itu istirahat. Mama sama papa mau datang ke undangan nanti bada Ashar. Ngga apa-apa kan kami tinggal sebentar?", tanya mama.


"Iya ma, ngga apa-apa kok!"


Kami pun makan siang bersama dengan sesekali mengobrol tapi tak seintens tadi.


Usai makan, mama dan papa benar-benar pergi. Sekarang hanya ada aku dan Azka di meja makan.


"Solat dulu yuk, habis itu istirahat!", kata azka menarik tangan ku menuju lantai atas.


"Aku mau beresin meja makan dulu kali mas."


"Udah, nanti juga di beresin sama bibik."


Mau tak mau aku pun menuruti nya. Aku sedikit lupa di mana kamar Azka. Karena aku memang belum pernah menjadi penghuni kamar itu.


"Assalamualaikum!", kata azka memberi salam.


"Walaikumsalam!",jawabku. Siapa yang akan menjawabnya coba. Hanya ada aku disini.


Azka menggandeng tangan ku lalu mendudukkan ku di ranjangnya yang besar itu.


"Masih nyaman, semoga kamu betah di sini sayang!", Azka mengusap kepala ku.


"Dimana pun asal sama kamu aku pasti betah mas!"


"Uuumm...so sweet sayang! ya udah solat yuk, habis itu nengok dedek utun. Kita kan belum pernah cobain main di kamar ini Na!", kata Azka.


"Ishh...mau solat juga pikiran nya kata gitu. Ngeres woy... ngeres!", kataku sambil beranjak ke kamar mandi.


"Sayang...!", Azka menarik ku dalam pangkuannya.


"Mau solat dhuhur mas!", kataku pelan.


"Tapi abis sholat boleh ya nengok utun, bentar aja kok ya???", kata azka memelas.


"Heum! Iya...iya...ya udah kita solat dulu !", kataku bangkit. Azka pun menyusul di belakang ku. Sesuai kesepakatan, kami mempertemukan utun dengan ayahnya.

__ADS_1


__ADS_2