
Mama menggandeng tangan ku masuk ke dalam rumah Tante Devi. Teman sosialita Mama pun menyambutnya kedatangan kami. Sebagian antusias melihat perut ku yang mulai membuncit.
"Azka pinter ya nyari istri, udah cantik masih muda pula. Tokcer lagi langsung isi, bukan begitu jeng?", tanya salah satu teman sosialita Mama.
"Hahah iya, anak siapa dulu?", ucap mama sombong. Mereka semua tertawa renyah, tapi tidak dengan ku. Bagiku ucapan Tante itu tidak ada yang lucu.
Tak lama kemudi si pemilik rumah pun menghampiri kami.
"Halo nyonya Bakti?", sapa Tante Devi sembari mencium pipi kanan kira mama.
"Lo mah Dev, selalu gitu!", kata mama mengerucutkan bibirnya.
"Eh... menantu kamu ikut jeng?", tanya Tante Devi. Aku pun menyalami dan mencium punggung tangan Tante Devi.
"Iya lah jeng,. dari pada di rumah kesepian ya gue bawa aja lah!", sahut mama.
Mak mertuaku masih gaul amat ya, Lo gue????
"Memanggil sekarang azka sama istrinya tinggal sama kamu?"
"Iya jeng. Baru kemaren kok. Ya habis nya gimana jeng, mereka mau ke mana juga pada akhirnya semua yang orangtuanya miliki kan memang buat mereka."
"Iya sih jeng, resiko punya anak tunggal!" sahut yang lain.
"Em... dengar-dengar mantu kamu ini baru lulus SMA ya?Kok udah gede aja sih perut nya?"
"Ya...kan emang nikah nya pas masih sekolah jeng!", sahut mama santuuui.
"Kok bisa? Jangan bilang tekdung duluan ya jeng?"
"Hahaha ya ngga lah!", kata mama sambil tertawa. Aku menunduk mendengar tuduhan mereka. Sudah terlalu biasa!
"Sembarangan! Ya ngga lah mereka nikah empat bulan baru Nana hamil."
Sebagai ber'oh' saja.
"Gelang Nana bagus banget?", puji seseorang sambil membolak-balik tangan ku.
"Makasih Tante, iya ini hadiah dari mama."
Mama tersenyum tipis padaku.
"Ya...itu gelang turun temurun jeng."
"Oh... pantesan kaya pernah liat, kamu dulu juga pakai kan?"
__ADS_1
Mama mengangguk.
"Coba ya Azka tuh nikah nya sama Dara, pasti dara yang dapetin gelang itu."
Teman-teman sosialita Mama pun di buat bingung dengan ucapan tuan rumah itu.
Aku mendongak menatap tante Devi.
"Ngomong apa sih jeng? Yang jelas anak dan menantu saya bahagia dengan kehidupan mereka sekarang."
"Ya... antara sengaja dan tidak sih , dia itu pelakor kecil."
"Devi!", bentak mama.
"Ayolah jeng, kenyataannya seperti itu. Nana tiba-tiba hadir di kehidupan Azka dan juga Dara. Apa namanya kalo bukan pelakor?"
"Dev! Azka gak pernah memiliki hubungan dengan Dara!", kata mama tegas. Ditengah perseteruan kedua ibu itu pun , sosok Dara masuk ke dalam rumah.
"Wah...rame amat, arisan ya?", tanya dara menghampiri para mama.
Mama menghentikan perdebatan dengan Tante Devi.
"Lho sayang, kamu uda pulang?", tanya Devi penuh perhatian.
"Lho....Nana?", basa basi yang basi beneran si Dara.
"Eh... iya kak!",sahutku pura-pura antusias.
"Oh...Tante ngajak Nana ke arisan sosialita begini Tan?", tanya Dara kepada mama. Entah maksud dan tujuannya di balik pertanyaan itu.
"Iya dong Dara, Nana kan anak mama. Belajar lah gaul sama teman-teman mama, ngga salah dong."
Aku tersenyum tipis pada mamaku yang merangkul bahuku.
"Heheh iya sih tan, tapi ini kan arisan kaum sosialita tan. Ya...emang sih Nana udah nikah, tapi kan dia masih ABG. Kesannya kok maksa diri gitu ya?", kata Dara.
"Hehehe mama yang maksa kamu ikut kan ya sayang ya?", lagi-lagi mama merengkuh bahuku. Mungkin maksud mama berusaha menguatkan ku, tapi sebenarnya aku tak masalah.
"Oh...gitu ya?", kata Dara menjawabnya santai.
"oh ya Dara, terakhir Tante liat kamu pake jilbab, sekarang bongkar lagi?", celetuk mama.
Mata dara terbelalak. Tapi setelah itu ia menguasai dirinya.
"Hehehe iya tan, ternyata belum siap lahir batin."
__ADS_1
Mama menggeleng pelan.
"Jeng...kapan arisan nya di mulai nih???", tanya yang lain. Akhirnya acara inti pun di lakukan.
Alhamdulillah, kali mama yang dapat arisan.
"Alhamdulillah jeng, yang keluar namanya nyonya Bakti. So...arisan bulan depan di tempat Lo dong?", cerocos salah satu teman mama.
"Gampang itu mah, mau di rumah atau di resto kami juga ngga apa-apa?!", kata mama.
Mama menerima gepokan uang itu. Masyaallah....bisa buat beli.....
Lalu mama memasukkan uang itu ke dalam tas punggung ku yang kecil.
"Nitip ya sayang, tas mama ngga muat heheheh!"
Aku pun hanya tersenyum.
"Beruntung banget ya Nana. Punya suami baik, ganteng, mapan eh... mertuanya juga ramah. Banyak-banyak bersyukur ya Na!", kata teman mama.
"Iya tan, Alhamdulillah!", kataku tulus.
"Ngomong-ngomong Dara kapan nih? Ngga capek menyendiri? Udah move on kan dari Azka? Masa iya ngga ada capek nya ngejar cowok yang jelas-jelas ngga pernah lirik sama sekali?", sindir teman mama.
"Apaan sih tan? Ya ngga lah. Tenang aja Tan, kalo udah saatnya mah Tante juga bakal liat pasangan dara!", kata Dara tersenyum sinis.
"Asal jangan jadi pelakor aja ya dara hahahaha.... bercanda Tante Ra, jangan di ambil hati ya!"
"Heheh biasa lah Tan, udah kebal kok sama mulut netijen."
Acara pun berakhir. Mama mengajak ku ke kantor papa lebih dulu. Katanya, dari pada aku kesepian di rumah. Jadi lebih baik ikut mama ke kantor, dan kebetulan juga Azka sedang disana.
Di sisi lain...
"Dara kamu kok diem aja sih di hina begitu?", tanya Devi.
"Mama juga diem aja ga belain aku kok!", sahut dara santai.
"Coba ya kamu tuh yang jadi mantunya Bakti, makin bersinar kita!", Devi bersungut-sungut.
"Santai mami ku sayang... tenang aja nanti mami juga bakal bersinar kok di kalangan teman sosialita mami!"
"Maksud kamu Dara?", Devi merasa bingung.
"Ssssttt...biar Dara selesaikan rencana dara dulu. Oke?", dara pun meninggalkan mami nya lalu menuju kamarnya.
__ADS_1