Menikahi Mantan Kekasih Ibu Tiriku

Menikahi Mantan Kekasih Ibu Tiriku
Kecemasan bumil


__ADS_3

Jam delapan malam, aku dan mas Azka turun ke lantai bawah. Ku pikir mama dan papa sudah menunggu kedatangan kami di meja makan. Tapi ternyata tidak ada beliau berdua padahal makanan sudah tersaji di meja makan.


"Mas, mama sama papa ke mana?"


"Biasnya sih suka ada acara dadakan. Maklum lah ya, udah tua masih sok sibuk!", kata Azka menarik bangku untuk ku duduk.


"Makasih mas."


Setelah itu, barulah Azka duduk di samping ku. Aku mengambilkan nasi beserta lauknya untuk suamiku.


"Makasih sayang ku!"


"Sama-sama mas."


Kami hanya makan malam berdua kali ini.


.


.


Aku mengulurkan kaki ku di sofa yang berada di balkon. Memandangi hitam nya langit malam yang tak nampak bintang sekalipun.


Aku masih tak menyangka jika kehidupan sekarang seperti ini. Aku menjadi dewasa sebelum waktunya.


Kuusap perut ku yang membesar. Sekitar dua bulan lagi aku akan melahirkan. Jika di tanya apa aku takut? Iya, aku takut menghadapi proses persalinan. Tapi ini semua sudah jadi kodrat seorang wanita.


"Hei??? Mikirin apa sayang?", tanya Azka yang tiba-tiba sudah ada di belakang ku. Tak lupa ia mengulurkan susu hangat untuk ku.


"Makasih mas!", aku menyambut gelas dari tangan Azka.


"Minum, mumpung masih anget!"


Aku mengangguk lalu menyesapnya susu hangat itu.


Mas Azka duduk di belakang ku, membuat ku menyandarkan punggungku ke dadanya. Usai meletakkan gelas di atas meja, aku memutar badanku.


Sekarang aku duduk bersebelahan dengan suamiku.


"Mikirin apa heum?", Azka mengusap rambut panjang ku.

__ADS_1


"Ngga kok mas!", kataku sambil mengusap perut ku.


"Apa dedek utun rewel?", gantian Azka yang mengusap nya.


"Ngga kok. Dedek utun anak pinter."


Azka menunduk, mengecup perut ku dengan sayang.


"Anak Abi lagi ngapain?", bisik Azka. Dan seperti merespon ucapan ayahnya, dedek utama n pun bergerak.


"Sayang, dedek bergerak nih!", kata Azka girang. Aku pun tersenyum meski ada rasa nyeri-nyeri gimana gitu rasanya.


Sekarang aku yang mengusap kepala Azka.


"Abi udah ngga sabar pengen ketemu kamu Nak. Baik-baik kamu di situ ya?", Azka masih mengusap dan menciuminya.


"sabar dong Abi, kalo udah saatnya dedek keluar juga nanti Abi pipisin hihihi....!"


"Kok dipipisin sih sayang?", Azka merajuk.


"Heheh ya iya lah mas. Masa aku merawat anakku sendiri. Kan kamu yang nanam benihnya. Jadi ya kamu juga harus berperan dong merawat dedek."


Tangan ku bergerak mengupas kepala mas Azka. Ada sedikit rasa minder saat menyadari tubuhku yang sudah tak seperti dulu.


"Mas!"


"Heum? Kenapa sayang?", sekarang Azka duduk di samping ku sambil melingkarkan tangannya di bahuku. Aku pun menyandarkan kepala ku ke bahunya.


"Aku makin gendut, badanku udah ngga bagus kaya dulu. Aku takut, kamu berpaling dari ku mas!", aku memeluk erat pinggangnya.


"Kok gitu sih sayang mikirnya? Ya ngga lah, mau seperti apa pun kamu. Mas tetap cuma cinta sama kamu."


"Tapi di luaran sana banyak perempatan cantik!"


"Tapi istriku jauh lebih cantik."


"Gombal ah!", aku mencubit perut nya yang datar dan keras itu.


"Ga gombal sayang. Serius lah. Udah, jangan mikir yang macam-macam. Aku cuma cinta sama kamu, seperti apa pun bentuk badan kamu nantinya. Dan...jangan takut menghadapi persalinan sayang. Insyaallah kamu bisa melewatinya. Mas berharap persalinannya normal, kalau pun harus operasi Caesar pun ya gak apa-apa. Yang penting kamu dan anak kita selamat."

__ADS_1


Aku menenggelamkan kepala ku di dadanya.


"Aku cuma punya mas dan anak kita. Jadi jangan macam-macam ya mas, apa lagi ninggalin aku."


Azka tersenyum tipis lalu mengecup puncak kepalaku.


"Iya sayang."


Kami terdiam beberapa saat. Menikmati angin malam yang cukup menyejukkan.


"Masuk yuk sayang, dingin nih anginnya kenceng!"


"Iya mas."


"Mas juga pengen nengok Dedek utun lagi. Hawanya pas banget tahu Na."


Aku memicingkan mataku.


"Jangan menatap horor gitu ah, mas takut. Tahu ngga, semakin kita sering begituan, insyaallah mempermudah proses persalinan lho."


"Masa sih?"


"Ishhh...ngga percaya!"


"Bisa-bisanya mas aja itu mah."


"Serius sayang, kamu lupa? Aku kan guru!"


"Iya, tapi kan bukan guru biologi!", kataku sambil berdiri lalu berjalan menuju kamar ku lagi.


Azka turut bangkit dari sofanya lalu ikut aku ke dalam kamar. Tak lupa ia menutup pintu balkon.


Aku merebahkan diri di ranjang.


"Gimana, boleh ngga mas nengok Dede utun?", bisik azka.


"Emang ada pilihan lain? Kalo aku nolak juga ujung-ujungnya ada yang maksa duluan."


Azka tersenyum menang.

__ADS_1


"Oke! Kita mulai!"


__ADS_2