Menikahi Mantan Kekasih Ibu Tiriku

Menikahi Mantan Kekasih Ibu Tiriku
Terbongkar


__ADS_3

Tak terasa sudah dua bulan aku menjalani pernikahan dengan Azka. Sejauh ini, belum ada pertengkaran berarti antara kami berdua.


Saat ini, aku di sibukku dengan kegiatan menjelang ujian sekolah.


Seperti hari ini, pagi ini jadwal kami adalah praktek olahraga. Entah kenapa aku merasa cuaca kali ini terasa sangat panas. Padahal baru jam delapan pagi.


"Rel, kamu ngerasa panas nggak sih?"


"Nggak, biasa aja!", ucap Aurel.


"Apa cuma perasaan ku aja ya?", gumamku.


"Na, muka Lo pucet banget. Sakit?"


"Hah? Enggak?!"


Masa iya aku pucat? Apa efek kurang tidur semalaman gara-gara bergulat dengan Azka?


"Bener deh. Gue ga boong!"


Tapi, usai mengatakan hal itu justru badanku limbung. Aku jatuh pingsan, dan setelah itu aku tak mengingat apa-apa lagi.


Aku mengerjap kan mataku sesaat setelah sadar. Sekarang aku berada di ranjang UKS.


"Kamu sudah sadar?Apa yang kamu rasakan?", tanya Bu Gia.


"Iya Bu, sedikit pusing!"


Aku baru sadar, jilbabku sudah terlepas dari kepala ku. Itu artinya...Bu Gia melihat kissmark di leherku.


"Apakah setelah kepergian bundamu, kamu merasa terpuruk dan melakukan hal di luar batas kewajaran mu Nana?",tanya Bu Gia.


"Maksud Bu Gia apa?"


"Jangan berpura-pura Nana!", hardik Bu Gia.


Aku menunduk. Bingung mau bilang apa.


"Pakai ini, cek urin kamu!"


"Hah? Ini kan test kehamilan Bu Gia?"


"Pakai sekarang! Ibu tunggu!"


Akhirnya aku pun menuruti perintah Bu Gia. Aku menampung air seniku, lalu mencelupkan alat itu. Setelah itu, kuserahkan pada Bu Gia.


Mata Bu Gia melotot melihat hasil testpack ku. Kenapa bu Gua sehoror itu?


"Kamu lihat Na, hasilnya positif. Siapa yang melakukan itu padamu Na?"


"Maksud ibu apa?"


"Katakan siapa yang menghamili kamu!"


"Ha...ha...hamil Bu?"


"Katakan Najma!", ucap Bu Gia mulai gusar.


"Baiklah kalau kamu tak mau mengatakan didepan ibu. Ibu akan bawa kamu ke ruang BK."


"Bu...Bu...Bu Gia, Nana mohon bu. Jangan sidang Nana Bu!'


Tapi Bu Gia tetap menyeret ku menuju ke ruang BK.


Setelah itu Bu Gia mendudukkan ku di kursi. Bu Gia memanggil kepala sekolah. Sayang nya di ruangan kepsek sedang ada pemilik yayasan sekolah Bhakti.


Tapi akhirnya pak kepsek pun menemui Bu Gia, disusul oleh pemilik yayasan.


"Pak Surya! Pak Bhakti!", sapa Bu Gia.

__ADS_1


Aku terkejut ternyata papa yang sedang bertemu dengan pak kepsek.


"Ada masalah apa Bu Gia?", tanya pak Surya.


"Ini pak!", Bu Gia menyerahkan hasil testpack ke pada pak kepsek.


"Milik siapa ini Bu Gia?"


"Milik Nana pak. Tadi dia jatuh pingsan. Saya curiga kalau dia tengah mengandung, jadi saya meminta mu untuk melakukan test kehamilan pak Surya."


"Bagaimana Bu Gia punya ide untuk mengecek apakah Nana hamil atau tidak?"


"Saya curiga dengan kissmark di tubuh Nana!"


"Benar begitu Na?"


Aku hanya mengangguk pasrah. Aku malu, malu sekali. Papa hanya memandang ku tanpa ku tahu apa arti dari tatapan nya.


"Siapa pelakunya Nana? Katakan pada saya!", ucap pak Surya. Aku masih tak mau menjawab.


"Kamu sadar Nana, kamu sudah merusak masa depan mu sendiri. Kamu itu kebanggaan sekolah kita. Bisa-bisanya kamu melakukan hal seceroboh ini Nana!"


Aku menunduk, meneteskan air mata.


"Najma!", panggil papa. Aku pun mendongakan kepalaku.


"Telpon Azka sekarang!",pinta papa.


Bu Gia dan pak Surya saling memandang.


"Tapi pah...!"


"Lakukan sekarang!", suara papa bergetar menandakan dia sedang menahan emosinya.


Aku meraih ponsel ku untuk menghubungi Azka yang memang sedang tidak datang ke sekolah. Menelponnya berkali-kali dan tak ada jawaban.


"Nggak bisa di hubungi pah!", ucapku pelan. Pak Surya dan Bu Gia kembali berpandangan. Tak berapa lama , masuklah pak imam dan pak Sam.


Pak imam mendekati Bu Gia. Lalu Bu Gia memberikan testpack itu padanya.


"Ini milikmu Na?", tanya pak imam. Aku hanya bisa mengangguk pasrah.


"Kenapa bisa? Bapak nggak percaya kamu bisa melakukan ini Nana!", pak imam marah. Iya, bagaimana dia tidak marah. Selama ini aku mengikuti semua arahan dari pak imam. Dia pasti berpikir jika aku berzinah, hamil di luar nikah.


Di kantor Azka...


"Halo, Rania? Azka di sana?"


"Pak Azka sedang meeting dengan klien. Ada yang perlu saya sampaikan pak?"


"Berikan ponsel mu padanya sekarang!"


"Baik pak!"


Rania pun bergegas menuju ruang rapat Azka. Seperti nya pertemuan dengan kliennya juga sudah selesai.


"Pak azka, pak Bhakti menghubungi anda!"


Rania menyerahkan ponsel nya pada Azka.


"Iya pah, kenapa?"


"Datang ke sekolah sekarang!"


"Ada apa pah?"


"Papa bilang sekarang!"


Bhakti lalu mematikan ponselnya. Azka baru ingat jika dia membuat mode silent di ponsel nya agar meeting nya tidak terganggu. Puluhan misscall dari istrinya membuat dia panik.

__ADS_1


****


Kenapa Najma menghubungi sebanyak ini?


Azka segera meluncur menuju sekolah. Jarak kantor hotel tak terlalu jauh dari sekolah, cukup dua puluh menit untuk sampai ke sana.


Azka segera memarkirkan mobilnya. Dia masih berusaha menghubungi Najma. Tapi tak di angkat.


"Azka menghubungi mu Najma?", tanya papa.


"Iya pah."


"Tidak usah di angkat!"


Akupun hanya menuruti perintah papa ku.


Sekarang Azka sudah masuk ke area kantor sekolah. Tapi tidak ada siapapun disana. Sesekali dia mendengar desas desus menyebut nama Nana, tapi entah apa ucapan mereka. Sampai akhirnya Azka menghampiri Aurel.


"Rel, dimana Najma?"


Aurel tidak menjawab, justru dia fokus dengan gurunya yang terlihat lebih maskulin dengan setelan turtleneck nya.


"Rel, kamu tahu dimana Najma?"


"Di...di ruang BK pak Azka!"


Azka pun segera menuju ke ruang BK. Tanpa mengetuk pintu, Azka langsung masuk begitu saja.


"Najma...kamu...kamu nggak kenapa-kenapa kan?"


Aku hanya bisa menunduk. Azka menatap sekeliling ruangan bk. Pintu ruangan kembali ditutup demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.


"Pak Azka?!", tegur Pak Sam.


"Pak Sam. Papah!", ujar Azka.


"Papah ada disini?", tanya Azka.


"Iya!", ucap papa datar.


"Ini ...ini ada apa pah?", tanya Azka gugup.


"Ini pak Azka! " ,Bu Gia menyerahkan testpack pada Azka.


"Maksud nya apa ini Bu Gia?"


"Ini testpack Nana pak Azka!"


Azka terperangah. Benar kah Najma hamil? Ya Allah...


Apakah ini berita bahagia atau berita buruk?


"Kamu hamil Najma?", tanya Azka.


Aku tak sanggup menjawab apa pun.


"Maaf pak Bhakti,kenapa anda melibatkan pak Azka disini?", tanya pak Sam.


"Laki-laki ini yang bertanggung jawab atas kehamilan Najma!", ucap papa.


Semua guru yang ada di ruangan itu menutup mulut mereka.


"Pak Azka?", pak Sam bangkit dari duduknya.


"Mereka sudah menikah sebelum nya pak Sam!", kata papa.


Para guru kembali saling berpandangan.


"Mereka sudah menikah beberapa bulan lalu setelah bunda nya Najma meninggal", papa mulai menjelaskan.

__ADS_1


"Saya nggak berzinah pak Imam." Aku menatap guru agamaku itu.


Kami semua kembali terdiam dengan pikiran kami masing-masing.


__ADS_2