
Aku dan Aurel masih berhaha-hihi ria. Mba Ami membawa Azki ke ruang tengah ditemani bibik.
"Ngomong-ngomong, Lo jadi masuk kuliah?"
"Insyaallah Rel, tapi tahun depan. Azki kan udah gedean, jadi ngga terlalu tergantung sama asi gue kan. Maksudnya, udah ada MPASI gitu."
"Duh...nyesel gue nanya, berasa lagi di penyuluhan gizi deh!"
Kami berdua kembali tertawa. Di tengah keasikan kami bergosip ria, ternyata Azka pulang. Ya, dia menepati janji untuk makan siang.
Tanpa menyapa ku lebih dulu, ia menuju ke kamar. Aurel merasa tidak enak sendiri melihat Azka yang sepertinya cuek dengan kedatangannya.
"Pak Azka pulang, gue balik deh!"
"Ntar dulu rel! Masa balik gitu aja, makan siang bareng gue aja. Azka paling cuma ganti baju abis itu turun kok."
"Gue ngga enak Nana. Ngga liat mukanya horor begitu!", Aurel mencebikkan bibirnya.
"Horor? Lo kata laki gue hantu! Udah biasa aja, suamiku emang gitu. Ntar juga nyapa Lo kok. Noh, anak gue aja tadi di cuekin. Ntar kalo udah merasa bersih, dia juga bakal nyamperin."
"Oke deh Na!", sahut Aurel dengan wajah lesunya. Benar yang ku bilang, Azka turun dari kamarnya sudah berganti pakaian. Kaos lengan pendek berwarna hitam dengan kerah v neck. Ngga akan ada yang nyangka kalo umurnya udah lewat kepala tiga.
"Sayang!", Azka menghampiri ku.
"Mas!", aku menyambutnya lalu mencium punggung tangannya.
"Apa kabar Aurel?", tanya Azka pada aurel yang membeku di tempatnya.
"Baik pak Azka!", jawab Aurel gugup. Bibik dan Ami memperhatikan sahabat majikannya itu dari ruang tengah.
"Sudah lama ya ngga ke sini ?Tumben?"
"Iya pak!", sahut Aurel.
"Mas, belum makan kan? Kita makan siang bareng yuk!", ajakku.
Azka merangkul bahuku.
"Ayok!"
Aku dan Azka berjalan beriringan. Aurel justru terdiam di tempatnya.
"Lho, ayok Aurel juga makan bareng kita dong!", kata azka.
"Iya pak, duluan!", kata Aurel kikuk. Tapi detik berikutnya, aurel membuntuti kami.
Kami tak banyak mengobrol selama makan. Dan ternyata Azka lebih dulu selesai makan siang.
__ADS_1
"Sayang, mas ke Azki dulu sebentar ya!", pamit Azka. Dia menghampiri bibik yang sedang menggendong Azki. Aku tak melihat Ami, mungkin dia sedang ke belakang.
Aku dan aurel menyelesaikan makan siang kami.
"SMP boleh kan Na?"
"maksudnya?"
"Sudah makan pulang Nana!"
"Hahahah bisa ae Lo. Ntar dulu lah, belum juga turun tuh nasi!"
"Heum! Oke!", kata Nana. Kami berdua ke wastafel untuk mencuci tangan sambil meletakkan piring bekas kami makan. Lalu aku dan Aurel mendekati Azka yang sedang menggendong Azki.
"Sini mas azkinya , takut kamu capek!", aku meraih Azki dari gendongan Azka. Dengan hati-hati Azka menyerahkan Azki padaku. Dan kami berdua, duduk di sofa yang sama. Aurel duduk di sofa single di hadapan ku.
"Oh iya Rel, saya denger kamu pacaran sama Vicky?", tanya Azka.
"Hehe iya pak!", sahut Aurel khas dengan cengirannya.
"Papa kamu tahu?", tanya Azka lagi.
"Tahu, orang tua kami sudah tahu kok pak!"
Azka mengangguk-angguk kepalanya. Entah apa yang sebenarnya akan Azka katakan. Apa dia mau bilang kalo Vicky sudah pernah hampir melecehkan ku? Tapi....
Tuh ...kan????
"Maksud pak azka apa ya?", Aurel mulai curiga.
"Ya ... maksud saya, dia tidak macam-macam sama kamu kan?"
"Macam-macam yang seperti apa ini pak?"
"Saya rasa kamu paham dengan pertanyaan saya! Tapi, saya juga tidak akan ikut campur. Saya cuma mau bilang, hati-hati! Kalo bukan karena istri saya, saya ngga akan peduli sama kamu!"
Wajah Aurel bersemu merah. Entah dia marah , entah dia malu. Yang jelas, wajahnya sudah tak cengar-cengir seperti tadi.
"mas...!", aku meraih lengan suamiku.
"Aurel, saya tidak tahu hal apa yang membuat kamu berubah seperti sekarang."
"Berubah yang seperti apa ya pak? Saya sudah menyelesaikan kesalahpahaman antara saya sama Nana kok?"
"Benarkah? Lalu maksud kamu apa mengirimkan gambar saya dengan klien saya kepada Nana?"
Aku terkejut mendengar ucapan Azka barusan. Dia tahu aku di kirimi gambar itu oleh Aurel?
__ADS_1
"Gambar apa ya pak?", Aurel benar-benar tidak mengerti.
"Benar dugaan saya, kamu tidak tahu! Berati itu bukan kamu, tapi pacar kamu!"
"Pak azka, saya tahu anda cemburu sama pacar saya karena dia pernah suka sama Nana. Tapi itu dulu pak! Jadi jangan menjelekkan pacar saya dong pak!"
"Terserah kamu! Oh iya, satu lagi. Silahkan kalian berteman, tapi saya cuma mau ingatkan. Nana sekarang, dia adalah istri dan ibu rumah tangga. Saya tidak membatasi dia bergaul dengan siapa. Tapi saya menahan Nana untuk berteman baik dengan siapa pun. Termasuk kamu!"
Azka langsung bangkit dari sofa.
"Aku bawa Azki ke atas!", Azka meraih Azki dari gendongan ku. Aurel tampak terdiam.
"Rel, maafin suami gue. Gue ngga tahu dia kenal bisa ngomong kaya gitu."
"Okay...ngga apa-apa Na. Mungkin bener omongan pak Azka. Tapi ya sudahlah! Btw , gue balik sekarang! Makasih Lo masih mau temenan sama gue!", Aurel memeluk ku.
"Maaf ya rel!", aku membalas pelukannya. Setelah itu, Aurel pun berpamitan.
Aku menyusul Azka dan Azki ke kamar. Mereka tiduran di kasur. Ternyata Azki sudah tertidur lelap. Tangan Azka masih menepuk-nepuk paha Azki dengan pelan.
"Mas ...!", aku mendekatinya. Azka pun bangkit dari kasur lalu berjalan ke meja belajar ku. Aku pun mengikutinya. Tapi aku bersandar ke meja belajar, sedang Azka duduk di kursinya.
"Ada apa?", tanya ku sambil mengusap rahangnya.
"Aku memblokir nomor Aurel dan mengganti nomor hp kamu!", sahut Azka.
"Alasannya?"
Azka menatap lekat mataku.
"Aku tidak mau kamu mendapatkan kiriman atau teror apa pun dari orang yang tidak kamu kenal. Apalagi yang nantinya memicu pertengkaran kita dan bikin kamu ngga percaya lagi sama aku."
Aku menghela nafas, kutakupkan kedua tanganku di pipinya.
"Aku percaya sama kamu mas! Lakukan apa pun yang menurut mu baik buat aku, buat kita!", lanjut ku lagi. Azka tersenyum padaku.
"Makasih ya sayang! Maaf! mas udah bikin kamu dewasa lebih cepat!", katanya lagi.
"Heum!"
"Sebenarnya mas kangen banget Na! Tapi ...masih lama mas puasa kan!"
"Aku bisa kok mas....!"
"Ssst...ngga usah di lanjutkan, kita tidur yuk! Mumpung Azki tidur juga!"
"Oke....!", kataku sambil menggandengnya menuju kasur kami lalu berbaring. Azki berada di antara aku dan Azka.
__ADS_1