
"Assalamualaikum!", aku memberi salam kepada para penghuni toko kue ku.
"Walaikumsalam!", sahut mereka kompak.
"Ehhh ...neng geulis!", pekik bibik yang baru saja melihat ku. Dia langsung menghambur memeluk ku.
"Sehat non?", tanya bibik.
"Alhamdulillah sehat bik."
"Ashhh si bumil makin cantik deh!", kata sisi.
"Kak sisi juga, udah keliatan gede kok perutnya."
"Wajar atuh, kan udah lima bulan non!", kata sisi.
"Oh iya, ini mas azka beliin ini buat kalian semua. Sama itu ya kak sisi, pinjem bukunya, mau itung gaji anak-anak."
Sisi pun mengambil buku itu. Sekarang, Nana dan azka sedang duduk di bangku pengunjung. Azka tampak serius menatap layar ponselnya. Mungkin ada pekerjaan yang harus ia selesaikan.
Aku mulai membuka buku dan menghitung omset serta bukti transfer omset.
Setelah selesai, aku menyerahkan data itu. Lalu meminta mas Azka memasukan uang gaji anal ke dalam amplop.
Kok masih sih pake cara manual begitu ? Iya,karena menurut bunda saat itu membayar gaji anak-anak dengan cara seperti ini akan lebih efektif. Selain memudahkan anak buahnya, juga menciptakan kedekatan antara owner dengan anak buahnya. Bisa saja bunda mentransfer ke rekening mereka masingmasing, tapi dia kan ngga bisa basa basi sama mereka. Barangkali ada yang salah hitung atau mereka mau kasbon atau juga mau bayar utang kasbon. Pokoknya gitu lah, aku mah ngikut cara bunda saja.
Aku memanggil nama mereka satu per satu. Wajah mereka berbinar saat melihat isi dari amplop tersebut. Tapi berbeda dengan bibik, aku memisahkan gaji nya nanti dan akan memberi nya di dalam saja.
"Makasih non Nana pak Azka!", kata mereka kompak.
"Sama-sama!", jawabku. Azka pun hanya menatap sambil tersenyum tipis. Biasa, di hadapan mereka dia selalu sok cool. Beda jika sedang bersama ku saja. Jadi suami mesum yang hobi banget nganu sama istrinya.
"Mas masuk dulu ya sayang!", kata azka mengusap bahuku. Aku mengangguk saja.
"Tahu non Nana mau kesini bibik masak yang enak non."
__ADS_1
"Heheheh bibik tenang aja, selama ada mas Azka , Nana ngga kekurangan makan kok bik. Tiap yang Nana mau pasti di turutin sama dia."
"Oh... Alhamdulillah kalo gitu mah. Bibik ikut seneng. Itu artinya, mas kalian benar-benar udah saling menerima satu sama lain."
"Iya bik!"
Setelah itu masih ada obrolan panjang antara aku dan bibik. Tak lupa kak sisi yang sama-sama sedang jadi ibu hamil.
Di tengah asyik nya saling bercanda, tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara Aurel yang menghentak bahuku dari belakang.
"Nana!", kata Aurel mengejutkan ku.
Aku sempat terhentak saking kagetnya.
"Astaghfirullah Aurel! Bikin kaget aja deh" aku mendengus kesal.
"Hehehe sori beib. Jangan ngambek dong. Ntar dedek bayinya ikutan manyun kaya Lo. Ngga imut ntar pas lahirnya ntar."
"Ngga lucu Rel!", kataku masih manyun.
"Sakit rel, ampun deh!"
"Hehehe abis Lo gemesin sumpah!"
"Iya...dari dulu kali. Eh...kok Lo tahu gue di sini?"
"Heh! Percaya diri sekali anda! Gue sengaja mau beli kue buta nyokap. Eh...ngga tahunya kebetulan Lo di sini."
"Owh...gitu!", aku manggut-manggut.
"Rel, masih lama?", tanya seseorang di belakang Aurel.
"Eh...Kak, bentar lagi ya", sahut Aurel sambil cengengesan.
Aku menengok ke sumber suara tersebut. Sosok Vicky sedang merangkul bahu Aurel dengan posesifnya.
__ADS_1
Aku membeku beberapa saat sampai Arin menghampiri ku.
"Non Nana, ke dalam aja ya!", ujar Arin.
"Eh .. orang ada temennya masa di suruh ke dalam?", tanya Aurel heran.
"Maaf non, kayanya non Nana kecapekan!", sahut Arin.
"Biarin aja sih sayang, mungkin ibu muda ini lelah bawa beban di perutnya", ujar Vicky berusaha menenangkan kekasih barunya.
"Maaf Rel, lebih baik kamu pikirkan ulang jika ingin menjalin hubungan sama Vicky rel!", kataku. Aku hanya tidak mau Aurel jadi pelampiasan Vicky, atau lebih parahnya merusak Aurel.
"Maksud kamu apa ya Na?", tanya Aurel. Sedangkan Vicky bersikap biasa saja.
"Gue cuma ngga mau Lo kenapa-kenapa rel. Percaya sama gue!", ucapku pelan. Dan Arin yang ada di samping ku juga mengangguk setuju dengan ucapan ku.
"Sumpah gue ngga paham Na? Maksud Lo ngomong kaya gitu tuh apa? Lo ngga seneng gitu kalo kak Vicky sekarang milih gue? Iya?", tanya Aurel.
"Rel, bukan gitu maksudnya. Vicky ngga sebaik yang Lo pikir!"
Aurel tersenyum sinis, diikuti Vicky merangkul bahu Aurel.
"Gue jauh lebih kebal kak Vicky dari pada Lo Na. Inget Na, Lo udah punya suami udah mau punyaku anak. Dulu aja Lo sok-sokan nolak kak Vicky, giliran sekarang kak Vicky sama gue, Lo nya kelabakan. Lo masih suka sama kak Vicky?"
"Rel, ga gitu. Lo jangan mikir kaya gitu. Gue ga pernah ada apa-apa sama cowok Lo. Gue cuma mau ingetin biar Lo bisa hati-hati, dia ga sebaik yang Lo pikir Rel!", aku masih mencoba membujuk Aurel.
"Udah ah... terserah Lo! Gue ngga nyangka ya Na. Gue pikir Lo bakalan ikut seneng kalo gue seneng. Tapi kenyataannya Lo malah giniin gue! Gue kecewa sama Lo!", kata Aurel lalu meninggalkan ku.
Vicky yang masih di depan ku, Vicky menyeringai licik.
"Play the game!", bisik Vicky dengan senyuman liciknya. Setelah itu ia menyusul Aurel.
Aku tak mampu memahami apa yang Vicky maksud dengan kalimat itu. Apa sebenarnya rencana Vicky???
"Non, lebih baik ke rumah saja!", kata Arin. Akhirnya aku pun mengangguk lalu menuju ke rumah induk ku.
__ADS_1