
Aurel memasuki rumah nya yang sepi. Art nya memang tidak tinggal di rumahnya. Mereka hanya datang saat pagi dan akan pulang sore hari saat sudah menyelenggarakan pekerjaannya.
Saat akan menutup pintu, ternyata ada tangan menahannya.
"Kak Vicky?", tanya Aurel pelan. Tanpa di suruh, Aurel memundurkan dirinya lalu membiarkan Vicky ikut masuk ke dalam kamarnya.
"Betah banget ya main di rumah Nana. Ngga inget sama gue heum?", tanya Vicky pelan tapi tangannya berhasil mencengkram dagu Aurel.
"I...i... iya kak, maaf Aurel pikir kakak masih sibuk di kantor papa."
Vicky tersenyum tipis.
"Gue lagi belajar bisnis, tapi bukan berarti gue bener-bener kerja dan Lo lupain gue. Gue juga butuh di perhatiin beib!", kata Vicky dengan seringainya yang membuat Aurel bergidik ngeri.
"Maaf kak, tadi....tadi aku ngobrol sama Nana. Jadi ...jadi ... maaf...!"
Belum sempat Aurel melanjutkan kalimatnya, Vicky sudah membungkam mulutnya. Tak lama, tapi cukup membuat Aurel tersentak.
"Jangan pernah membantah ku! Oke?", Vicky mengusap kepala Aurel dengan lembut.
"Iya kak, lain kali aku ijin kalo main ke sana kak."
__ADS_1
"Bagus! Gue ngga suka di abaikan sayang!"
"Iya kak!", kata Aurel takut-takut.
"Kamu ngga lupa kan kalo kita sering melakukannya? Aku kangen! Bisa lakukan sekarang?", bisiknya pelan .
"Tap..."
"Sssst...Lo lupa, gue ngga suka di bantah!", bentak Vicky sambil menjambak rambut Aurel.
"Ah ...sakit kak! Iya....iya kak! Aku lakuin apa yang kakak mau, tapi ini sakit kak. Tolong lepasin!", kata Aurel memohon. Perlahan Vicky melepaskan tangannya dari rambut Aurel.
Kenapa kak Vicky berubah? Aku seperti tak mengenalnya! Dia seperti psikopati. Mendadak lembut, tapi dengan tiba-tiba ia berubah kasar. Apa ada yang Nana tahu tapi dia tak memberi tahu ku? Dan apa maksud pak Azka aku harus hati-hati?
"Sayang, kok bengong! Ayo!", Vicky mengajak Aurel ke ranjangnya.
"Kak....!"
"Ssssttt...tidak ada siapapun di rumah ini. Mama papa mu keluar kota, ada urusan bisnis. Dan Lo, hari ini Lo habisin waktu sama gue Rel!"
"Kak, aku....!"
__ADS_1
"Kalo Lo nolak, itu artinya Lo harus siap gue tinggalin Rel. Apa yang berharga dalam diri Lo, udah gue dapetin. Kalo gue mau, gue bisa buang Lo kapan aja. Tapi...gue masih punya sedikit belas kasihan sama Lo!"
Air mata Aurel menetes begitu saja. Kalimat yang Vicky lontarkan sungguh sangat menyakiti hatinya.
"Lakukan!", perintah Vicky. Aurel yang lugu pun hanya menuruti kemauan kekasihnya itu. Vicky yang dia kenal sejak kecil bukan Vicky yang ia lihat sekarang. Semua sudah berubah!
Aurel hanya pasrah dengan apa yang Vicky lakukan. Andai kata ia menyerah, semua sia-sia. Benar apa yang Vicky katakan. Vicky sudah mengambil sesuatu yang berharga dalam dirinya. Vicky bisa saja membuang dan mendepak nya dari kehidupan vicky. Tapi sejauh ini, Vicky tak melakukannya. Entah tidak, entah belum lebih tepatnya.
"Makasih sayang!", Vicky mengecup kening Aurel usai mereka selesai melakukan aktivitas panas mereka. Aurel hanya mengangguk pasrah.
"Kak!"
"Heum?", sahut Vicky sambil membenarkan pakaiannya.
"Kak Vicky ngga akan ninggalin aku kan kak?", tanya Aurel dengan cemas.
"Tidak sayang! selama Lo nurut apa kata gue dan melakukan apa pun yang gue minta. paham?", tanya Vicky. Gadis itu hanya mengangguk paham.
"Bersihkan dirimu, gue lapar! Kita makan ya, sepertinya pembantu mu sudah menyiapkan makanan di meja makan."
Aurel pun mengangguk patuh. Dia benar seperti kerbau yang di cucuk hidungnya. Apa pun yang Vicky katakan selalu ia turuti, meski pada dasarnya dia sendiri tak mau.
__ADS_1