Menikahi Mantan Kekasih Ibu Tiriku

Menikahi Mantan Kekasih Ibu Tiriku
Masih ditutupi


__ADS_3

Aku masih shock dengan apa yang kulihat di bungkusan paket tadi. Aku phobia hal yang berdarah-darah, tapi tidak dengan darah bulanan lho ya....karena mindset ku sudah di alihkan jika darah hati itu wajar, tak menyeramkan.


"Kamu ngga usah mikirin macem-macem ya sayang?! Besok kamu ke sekolah, mau urus administrasi kelulusan mu kan?", kata Azka mengusap kepalaku.


"Mas, kamu tahu...siapa yang mengirim paket itu?"


"Ngga usah di pikirin sayang!", Azka meraihku dalam dekapan nya.


"Aku cuma penasaran Mas. Dan...bibik juga pasti ngga bakal nyangka isinya kaya gitu. Kalo tahu mah, bibik ga akan naroh di depan kamar kita!"


"Nanti mas cari tahu ya! Udah sore, mandi gih. Bentar lagi magrib. Mau makan di rumah apa di luar?", tanya Azka penuh perhatian.


"Di rumah saja mas!", jawabku lesu sambil berjalan menuju kamar mandi.


Azka memperhatikan punggung sang istri sebelum masuk ke kamar mandi. Sebenarnya ia ingin jujur mengatakan bahwa dia sudah tahu pengirimnya. Tapi rasanya dia tak tega mengatakan pada istri kecilnya itu.


Jika aku mengatakannya padamu, aku takut kamu kecewa dan merasa terkhianati Na! Batin Azka.


Selang beberapa lama, aku keluar dari kamar mandi sudah tak nampak suami tampanku itu.


"Mas Azka kemana?", tanyaku bermonolog. Usai berpakaian lengkap, aku pun turun menuju meja makan. Bibik sedang menyiapkan makan malam di dapur.


"Bi, tolong buatin teh anget dong!", kataku sambil duduk di dekat meja makan.


"Ya ,non!", sahut bibik. Dan beberapa saat kemudian, bibik membawakan segelas teh hangat untuk ku.


"Bibik lihat mas Azka ngga?".


"Kayanya tadi buru-buru pergi deh Non!", kata bibik.


"Nggak bilang gitu mau ke mana? Kenapa nggak pamit aku? Nunggu aku selesai mandi kan bisa! Mana udah mau magrib lagi!"


Bibik hanya tersenyum mendengar aku ngomel, sama persis kaya emak-emak komplek.


"Ada kepentingan mendadak kali non!"


"Oh iya bik, soal paket tadi....!"


"Bibik nggak tahu Non. Maaf ya, bibik ke depan dulu. Kayanya rame, takut pada ngga keburu solat magrib!", bibik buru-buru meninggalkan ku.


Aku hanya berpikir positif saja.

__ADS_1


.


.


"Apa maumu sebenarnya dara?", tanya Azka.


"Aku mau kamu Ka! Harusnya kamu paham itu!", sahut dara memelas. Saat ini kedua nya sudah berada di resto hotel Azka.


"Sudah berapa kali ku bilang, aku tak sedikit pun mencintai kamu. Aku pria beristri, bahkan sebentar lagi aku akan menjadi ayah. Jadi , stop! Stop ganggu kehidupan ku dan Nana!"


"Aku tak masalah jadi yang kedua Azka. Yang penting aku bisa bersama mu!", rengek Dara.


"Dara! kita sudah lama berteman, itu artinya kamu tahu seperti apa aku kan! Jadi tolong, jangan buat ulah apa pun!"


"Apa kelebihan bocah itu Ka? Masih kecil saj sudah menjadi ja*a**! Menyerahkan dirinya kepada orang yang hampir jadi papanya!", sindir Dara.


"Dara!" hardik Azka.


"Apa namanya kalau bukan ja*a**? Gadis belia yang tidur dengan om-om?" suara Dara sedikit meninggi hingga terdengar oleh tamu di meja lain.


"Jaga ucapanmu Dara! Gadis itu istriku. Sah Dimata agama dan hukum negara. Mulut kotor mu tak pantas menghina istri ku!"


Azka terlihat sangat marah saat dara menghina istrinya yang jauh lebih baik daripada Dara.


"Stop! Hentikan ucapan mu Dara. Pergi lah, jangan sampai aku semakin tersulut emosi!"


"Demi bocah itu, kamu mengusirku?", Dara terlihat membusung kan dadanya karena emosi.


"Ya, pergilah!", kata Azka lebih pelan. Dengan penuh emosi, dara pun meninggalkan restoran hotel.


Niat azka bertemu anak buahnya jadi terhambat gara-gara tak sengaja bertemu Dara.


"Bagaimana?", tanya Azka saat seseorang duduk di hadapannya.


"Seperti yang saya sampaikan Bos. Pelaku utamanya.....!"


Azka mengangguk dan mengucapkan terima kasih kepada anak buahnya. Selang beberapa saat azan berkumandang.


Azka pun menunaikan shalat magrib di hotelnya. Barulah setelah itu ia kembali ke rumah.


Hampir jam tujuh malam, azka baru sampai di rumah. Tatapan horor dari sang istri membuat nya sedikit ngeri.

__ADS_1


"Assalamualaikum!",sapa Azka padaku.


"Walaikumsalam!Dari mana kamu Ka? Masih ingat jalan pulang?", tanyaku ketus. Setelah itu aku beranjak ke dalam rumah.


Azka mengusap tengkuknya yang tak gatal. Lalu dengan sedikit tersenyum dengan para karyawannya, dia pun ikut masuk di belakang ku.


Iya, tadi aku berada di toko kue. Aku bingung dengan azka yang tiba-tiba menghilang tanpa pamit. Minimal telpon atau chat gitu?!


"Sayang....!", Azka meraih tanganku saat aku baru memasuki rumah.


"Apa sih Ka? Maksud kamu apa pergi gitu aja hah? Kamu nggak nganggep aku?"


Ka? Ya ampun, kalau lagi mode marah panggilan nya kembali seperti semula! Batin Azka.


"Sayang , mas bisa jelaskan!", dia meraih bahuku. Tapi kutepiskan tangan kokohnya itu.


"Ngga perlu!", aku melanjutkan langkah ku menuju kamar kami. Tapi azka justru semakin menguntit ku.


"Najma!", dia memanggil ku sedikit keras. Mau tak mau aku berbalik badan.


"Owh...mulai berani membentak ku kamu Ka?", kataku kesal.


"Sayang! Tolong jangan marah dulu. Mas bisa jelaskan kok! Ya sayang....!", Azka menakupkan kedua tangannya di pipiku. Tapi, lagi-lagi kulepaskan.


"Oke, mas minta maaf udah pergi nggak ijin sama kamu Sayang. Mas salah!", ia kongko di hadapan ku yang kini sudah duduk bersila di kasur kami.


"Kamu kan bisa telpon aku! Ijin sebentar gitu, nunggu aku selesai dari kamar mandi."


"Ya maaf sayang....maafin mas ya!", dia memelukku. Kalau sudah begini, aku pasti luluh.


"Tadi, mas di hubungi oleh orang kepercayaan mas. Dia tahu siapa yang sudah meneror kamu dengan paketan tadi."


"Oh ya, siapa? Dan apa tujuan nya meneror ku?"


"Menurut mu, siapa yang tahu kamu pobhia dengan darah sebanyak tadi?"


"Nggak ada Mas!", aku menggeleng.


"Ya sudahlah, lupakan!"


"Kok gitu? kamu udah tahu kan mas? siapa orangnya?", tanyaku yang penasaran.

__ADS_1


"Mas tahu, tapi demi kebaikan kamu lebih baik kamu nggak usah tahu. Percaya sama mas! Cup!", dia mengecup kening ku lalu masuk ke kamar mandi.


"Dia mau main teka-teki dengan ku?", tanyaku sendiri.


__ADS_2