
Belum jauh dari rumah, aku sudah melihat Abang sate yang biasa mangkal di dekat sekolah ku dulu.
"Mas, tukang sate!", teriakku.
"Sayang....belum buka tukang satenya! Sabar ya!", Azka mengelus kepalaku sambil tetap fokus menyetir.
"Tapi aku pengen, pengen banget malahan!",kataku sambil mengelus perut ku yang sedikit menonjol.
Kulihat Azka melirik ku.Lalu dia pun mengusap perut ku.
"Sabar ya sayang....Daddy pasti beliin. Tapi nggak sekarang, kan jam segini belum ada tukang sate nak."
Entah kenapa perasaan ku jadi lebih tenang sekarang. Meski hanya usap-usap kecil, tapi begitu menenangkan ku.
"Sayang...!", panggil ku.
"Apa Na? Kamu ingin sesuatu lagi?", tanya Azka. Aku menggeleng pelan.
"Aku mau bilang, em... mau tanya. Tapi aku takut kamu marah!"
"Emang mau tanya apa sayang?", lagi-lagi dia mengusap kepalaku.
"Tapi janji.... jangan marah!"
"Iya janji!"
"Em... memang nya....apa isi wasiat bunda buat kamu mas?"
"Kan kamu juga tahu. Isinya ya soal perjodohan kita Na."
"Dari segepok kertas itu, hanya berisi wasiat untuk pernikahan kita mas?", tanya ku penasaran.
Azka tersenyum.
"Nggak juga sih. Banyaklah."
__ADS_1
"Emang apa isinnya? Kok banyak banget? Sedangkan buat aku dan bibik, cuma selembar?"
"Ya nggak tahu. Kan bunda mu yang bikin."
"Iya sih. Tapi sekarang aku kan istrimu, berhak tahu kan isinya apa aja?"
"Boleh aja sih. Lain kali ya sayang!"
"Heum!"
Obrolan berhenti sejenak.
"Mas...!"
"Iya. Kenapa?"
''Apa kamu benar-benar sudah mencintai ku mas?"
Azka terkekeh sejenak.
"Untuk apa kamu bertanya seperti itu sayang. Kamu tahu jawaban nya!"
Azka menatap ku dengan pandangan yang tak bisa ku artikan.
"Lupa sih nggak. Tapi, aku cuma mau fokus ke masa depanku. Yaitu kamu!"
"Apa bunda sama sekali tidak berarti lagi buat kamu mas?"
"Kamu tanya seperti itu kenapa sih Na? Jangan bilang kamu cemburu sama bunda mu?"
"Nggak lah mas."
"Terus kenapa kamu ngungkit-ungkit soal aku dan bunda mu?"
"Aku hanya ingin memastikan saja mas. Kalau aku benarkah bagian dari hidup dan hati kamu."
__ADS_1
"Ya ampun Na...kamu pasti abis baca novel ya?"'
"Nggak. Apa hubungan nya novel dengan keingintahuan aku tentang kamu dan bunda?"
"Kali aja kamu baper abis baca novel. Jadinya mikirin yang aneh-aneh."
"kok aneh sih mas.Aku kan ingin tahu, masa salah?"
"Nggak salah sayang. Cuma masa iya, sudah sejauh ini kamu masih nggak percaya sama aku?", tangan Azka kembali mengusap perut ku.
Aku pun diam sambil menatap jalanan.
"Hormon wanita hamil memang tidak bisa di tebak. Gampang banget emosi. Kadang tiba-tiba nangis, tiba-tiba pengen ini itu, tiba-tiba bahagia....tapi umumnya begitu."
Aku cukup mendengar apa yang dia katakan tanpa bertanya lagi.
"Sayang, dengar ya. Kamu satu-satunya perempuan yang bertahta di hatiku, selain Mama tentunya."
"Gombal!"
"Serius sayang....!"
"Ya udah, mulai besok kalau kamu kerja aku ikut!"
"Boleh aja. Tapi.... emang nggak capek?"
"Capek ya tinggal tidur atau makan juga bisa."
"Ya udah, aku ngikut kamu aja gimana baiknya.".
.
"Sebentar lagi kita sampai sayang!"
Mobil kami pun memasuki wilayah yang cukup jarang penduduknya. Lalu mobil berhenti di sebuah rumah yang paling kecil di antara bangunan lain.
__ADS_1
Seorang perempuan berlari sedikit untuk ke mobil. Dan benar saja, dia mengambil barang bawaan kami.
****