
Azka menapaki kakinya di halaman rumah. Suasana masih sangat sepi. Ya, jam tiga dini hari tentu saja para penghuni rumah masih terlelap dengan mimpinya.
Beruntung, Azka selalu membawa kunci cadangan. Setelah mengunci kembali pintu teralis yang berada di depan pintu utama, Azka pun masuk ke rumah.
Ruang tamu masih tampak gelap. Terlihat hanya lampu dapur dan kamar mandi belakang yang menyala. Bahkan kamar Anisa yang sebelumnya dia minta untuk di tiduri Nana pun dalam kondisi gelap. Itu artinya, Nana tidur di kamar atas.
Azka mencuci tangan di wastafel dapur. Saat ia berbalik badan, nampak Ami yang berada tak jauh dari Azka berdiri.
"Astaghfirullah!", pekik Azka terkejut.
Ami sendiri malah cengengesan. Dia masih memandangi wajah tampan majikannya itu.
"Ngapain kamu di situ?", tanya Azka.
"Mau minum pak, saya ngga tahu kalo pak Azka datang. Mau saya buatkan kopi pak?", tanya Ami mendekat. Gadis dewasa itu memakai piyama satin dengan tali spaghetti dan short.
"Tidak usah, terima kasih!", Azka bergegas meninggalkan dapur. Ami sendiri merasa kesal karena ia gagal mendekati majikannya.
Memang aku kurang seksi? Kurang menarik gitu? Gumam Ami. Dia pun mengambil air putih lalu kembali ke kamarnya lagi.
Azka menuju ke kamar nya di lantai atas. Irama jantung nya belum stabil dengan keadaan tadi. Ami dengan santainya memakai pakaian seperti itu di dalam rumah nya. Dia tak sadar kalau penghuni rumah ini juga ada lelaki dewasa?
Pelan-pelan Azka memasuk kamarnya. Di lihatnya sang anak berada di box. Tapi istrinya tak ada. Azka mendengar gemericik air dari dalam kamar mandi. Ternyata Nana hanya tidur berdua dengan Azki tanpa di temani bibik atau pun Ami.
Sambil menunggu istri nya yang ada di kamar mandi, Azka melepaskan kemejanya. Rasa lengket dan lelah sudah terlalu mendominasi tubuhnya. Hanya tersisa kaos dalam dan celana boxernya. Dia belum berani menyentuh putranya sebelum dia membersihkan diri. Azka hanya melihat Azki dari jarak jauh.
Ceklek!!!
Nana keluar dari kamar mandi. Betapa kagetnya Nana saat melihat suaminya sudah duduk di kursi riasnya.
"Mas?", sapa Nana dengan riang. Perempuan cantik itu menghampiri suaminya. Ia langsung meraih punggung tangan suaminya itu. Azka mengacak lembut puncak kepala istrinya.
"Kok belum tidur?", tanya azka.
"Udah, tapi tadi Azki pup, makanya aku bangun. Tapi ya gitu...abis pup ,Azki bobo lagi."
__ADS_1
"Pinter ya anak ayah!", kata Azka.
Nana sendiri tersenyum tipis. Menatap wajah tampan suaminya.
"Mas mandi dulu ya, pengen peluk kamu!", kata Azka pelan.
Pria berputra satu itu beranjak ke kamar mandi. Sekitar lima belas menit, Azka sudah selesai memakai pakaiannya dengan rapi. Dia menghampiri Nana yang sudah berbaring di kasur.
Azka tersendiri, mengusap pipi chubby istrinya.
"Mas kangen tahu Na."
"Aku juga kangen mas! Sini peluk!", Nana merentangkan kedua tangannya. Azka menghambur ke pelukan Nana. Keduanya kini berbaring saling berpelukan.
Andai...saja kamu sudah bersih Na, udah habis kamu subuh ini! Gumam Azka.
Nana merasa nyaman di pelukan suaminya. Baru semalam tak tidur bersama rasanya sudah kangen setengah mati. Bagaimana kalo berhari-hari???
Tak lama kemudian, keduanya pun terlelap melanjutkan istirahatnya.
.
.
"Ambil aja mah!", sahut Aurel dari kamar mandi. Mama Aurel pun mengambil pembalut yang ada di lemari aurel. Dia memang sengaja membeli stok untuk Aurel. Karena putrinya paling malas jika disuruh belanja keperluan pribadi.
Kok masih utuh? Ini kan udah tanggal pertengahan? Gumam Mama Aurel. Tidak mungkin jika Aurel langsung mengganti stok pembalut yang sudah di pakai.
Tak mau ambil pusing, mama Aurel kembali menutup pintu lemari stok pembalut Aurel. Samar-samar mama Aurel mendengar putri nya muntah di kamar mandi. Awalnya dia bersikap positif thinking saja saat tahu pembalut anaknya utuh. Tapi... mendengar suara muntahan di pagi hari ini, rasanya....
Ceklek....
Aurel keluar dari kamar mandi dengan wajah pucat. Dia terkejut melihat keberadaan mamanya di atas ranjang.
"Mama, kirain udah keluar kamar Aurel."
__ADS_1
"Kamu sakit?", tanya mama Aurel dengan wajah dingin.
"Ngga ma, cuma masuk angin kayanya."
"Masuk angin? Benarkah??? Kapan kamu datang bulan?"
Deg! Perasaan Aurel sudah tidak tenang.
"Eum... harusnya sih dua Minggu yang lalu ma, tapi mungkin karena Aurel kecapekan jadinya telat..."
"Jangan bohong!", pekik mamanya. Tiba-tiba Aurel menghambur di kaki mamanya.
"Ampun Ma...!", Aurel menangis sejadi-jadinya di kaki sang mama.
"Mama kecewa sama kamu Rel. Kecewa!!!", pekik mamanya.
"Maaf ma....maaf!"
Kedua perempuan beda generasi itu menangis bersama.
"Vicky?", tanya mama Aurel. Aurel hanya mengangguk sebagai jawaban. Mama Aurel menghapus air matanya.
"Dia sudah tahu?", tanya mamanya lagi. Aurel menggeleng.
"Aku baru tahu positif tadi pagi ma. Rencananya mau Aurel sampein ke Kak Vicky besok kalo kak Vicky udah pulang dari luar kota."
Mama aurel menarik nafas dalam-dalam.
"Bagaimana cara mama mengatakan ini pada papa kamu?"
Aurel terdiam. Ya, papanya sangat menyayangi Aurel. Mamanya pun sama, meski hanya ibu sambung. Tapi mama sudah merawat Aurel sejak bayi. Bahkan kasih sayang mama tak perlu di ragukan lagi. Wajar saja jika mama kecewa dengan apa yang sudah Aurel lakukan.
keduanya diam, sampai akhirnya mama pun bangkit dari ranjang lalu beranjak keluar dari kamar putri nya.
Tubuh Aurel melunglai bagai tak bertulang. Bagaimana nasibnya nanti? Dia masih muda, masih ingin senang-senang. Begitu juga dengan Vicky, dia masih harus membangun kembali bisnis papa nya yang sedang terpuruk.
__ADS_1
Aurel mengambil ponselnya,lalu menghubungi Vicky. Di saat genting seperti ini, ponsel Vicky pun tidak bisa di hubungi.
Kegelisahan dan ketakutan menyelimuti pikiran aurel.