
"Mama mau bicara sama kalian!", ujar mama. Aku dan Azka pun membuntuti mama yang kembali duduk di ruang tengah.
"Ada apa ma?", tanya Azka yang kini duduk di samping ku. Sedang aku, memangku Azki.
"Maaf, sepertinya mama terlalu ikut campur. Sebelumnya...mama minta maaf!"
"Ada apa ma? Kenapa harus minta maaf?", tanyaku bingung.
"Iya ih...mama lagi main tebak-tebakan apa gimana?", tanya Azka.
"Bukan gitu...eum...tanpa bilang sama kalian, mama udah cariin baby sitter buat bantuin Nana jagain Azki."
Aku dan Azka saling berpandangan.
"Kok gitu sih ma? Kenapa ngga bilang dulu? Memangnya mama ngga percaya kalo kami bisa rawat Azki sama-sama?", tanya Azka.
Aku yang mau bicara pun sepertinya sudah terwakili oleh Azka. Tapi aku tentu saja tak bisa sebegitu terus terang pada mertuaku.
"Huffft.... makanya mama minta maaf!", kata mama lirih. Iya, mama sudah ke sini sejak pukul setengah tujuh tadi pagi.
"Ma, kan ada bibik juga yang bantu jagain Azki ma...", kata Azka lagi.
"Iya tahu. Tapi...mama cuma mau kalo Nana tetap bisa manjain kamu, perhatiin kamu. Ngga cuma peduli sama Azki aja. Itu aja kok Ka. Mama ngga mau kalo Nana ngalamin kaya mama."
Mama tertunduk memainkan jarinya yang berhiaskan cincin berlian di kedua jari manisnya.
Azka sudah mau menyela ucapan mamanya, tapi aku tahan. Jadi aku yang lebih dulu bicara.
"Ma...!", panggil ku lirih. Lalu aku duduk di samping beliau.
__ADS_1
"Nana tahu maksud mama. Tapi lain kali mama bilang sama mas Azka, kalo ngga ke Nana."
Mama menatapku dengan tatapan penuh kasih sayang.
"Tuh kan, beruntung banget kamu punya istri kaya Nana Ka!", celetuk mama. Aku cuma bisa menggelengkan kepalaku.
"Sebenarnya yang mama takutin tuh apa sih?", tanya Azka.
"Ka, mama cuma mau kamu tetap mendapatkan perhatian istrimu. Di luaran sana pelakor lebih ganas tahu ngga. Mama ngga mau gara-gara kamu kurang kasih sayang dari Nana terus kamu jadi...."
"Astaghfirullah, ma."
Sekarang Azka yang mendekati mamanya. Mama duduk di apit oleh aku dan Azka.
"Ma, Azka bukan papa yang dulu ya! Azka ngga kepikiran sampe ke sana-sana sama sekali. Azka akan selalu ingat, Azka punya Nana dan Azki. Mau ribuan pelakor pun Azka ngga peduli. Karena Azka sudah merasa cukup memiliki mereka. Jadi mama ngga usah cemas. Azka tahu sakitnya mama saat itu, dan Azka tidak akan pernah mengulang kesalahan papa. Dan... sekarang, papa juga sudah berubah Ma. Bucin parah sama Mama!"
Mama jadi mencubitnya pipi Azka, wajahnya sudah tak sendu lagi.
"Ayah Ma, bukan bapak! Bayi mama yang udah bisa bikinin bayi buat mainan mama!", balas Azka. Aku tersenyum melihat keakraban mereka. Mama merangkul bahu kami.
Tapi saat aku menatap ke rumah lain, papa sedang berdiri menatap kami. Dan dia berbalik ingin keluar menuju depan.
"Ma, mas. Nana ke sana dulu bentar ya!", kata ku. Ibu dan anak itu masih melanjutkan obrolannya.
Aku setengah berlari mengejar Papa.
"Pa!", panggil ku. Papa pun memutar badannya menghadap ku.
Aku hampiri beliau yang menyunggingkan senyum manisnya.
__ADS_1
"Iya Na."
"Kok ngga masuk Pa. Ngga kangen sama Azki?", tanyaku. Papa tersenyum tipis, tapi aku tahu ada kesedihan di sana.
"Pa...!"
"Mama memang udah maafin kesalahan papa Na, tapi ngga akan pernah bisa lupain apa yang papa perbuat."
"Pa!", aku meraih tangan papa.
"Yang penting saat ini, papa udah tahu kesalahan papa. Papa udah nunjukin betapa sayangnya papa ke mama, ke mas Azka. Dan...ke Nana serta Azki. Mama udah maafin papa kan? Jadi, sekarang saatnya papa menyayangi kami tanpa alasan apapun. Kami, aku dan mas Azka belajar dari pengalaman mama dan Papa. Insyaallah, kami tidak akan mengulangi kesalahan yang sama."
Tiba-tiba papa memelukku. Aku menepuk punggung papa mertuaku. Badan ku yang kecil , seolah tenggelam di dalam pelukannya.
"Terimakasih Na. Azka memang tak salah pilih istri. Meski kamu masih kecil, tapi kamu sudah berpikir jauh lebih dewasa."
"Ya, pa!", sahutku.
"Kita masuk yuk, pa. Anggap saja, tadi papa ngga liat drama Teletubbies!"
Papa menautkan alisnya.
"Drama Teletubbies?", tanya papa.
"Heum?! Berpelukan hehehe!"
Papa mengusap kepala ku. Dia tersenyum simpul.
"Terima kasih, udah bikin hari-hari keluarga kita berwarna ya Na."
__ADS_1
"Sama-sama Pa."
Aku dan papa masuk ke dalam rumah lagi setelah pembicaraan tadi.