Menikahi Mantan Kekasih Ibu Tiriku

Menikahi Mantan Kekasih Ibu Tiriku
Keluar kota


__ADS_3

"Yah, kenapa harus keluar kota si mas!", rengek Nana pada suaminya yang sedang merapikan beberapa pakaiannya ke dalam koper. Azka menghentikan aktivitasnya lalu duduk di sebelah istri kecilnya.


"Cuma dua hari sayang."


Azka mendusel ke ceruk leher istrinya dengan gemas.


"Ishhh...kalo Azki kangen gimana?"


Azka terkekeh tipis, selanjutnya ia merengkuh badan mungil yang menggemaskan itu. Kecil namun berisi, mungkin sisa melahirkan.


"Yang kangen Azki apa bundanya heum?"


Nana nyengir dengan imutnya. Ini yang membuat Azka merasa jadi muda kembali. Ikut terbawa arus istri nya yang masih belia.


"Dua-duanya lah mas."


"Nanti kalian bisa tidur di kamar bawah. Minta temenin Ami atau bibik saja."


"Aku berani kali mas tidur berdua Azki."


Azka mengusap kepala Nana.


"Bukan perkara berani, tapi kasian kamunya sayang. Kalo kamu kebangun terus nanti pusing, kesehatan kamu menurun kalo sakit gimana? Kasian Azki dong?"


"Panjang amat penjelasannya pak guru."


"Hehehe biar kamu paham."


"Iya...iya!", Nana memeluk suaminya.


"Ya udah turun yuk!",ajak Azka.


"Ntar dulu!", rengek Nana.


"Apalagi sayang?"


"Cium dulu! Buat bekal dua hari ke depan hehehe!"

__ADS_1


Azka menggeleng heran dengan tingkah istri nya itu. Tapi setelah itu, ia pun menuruti keinginan istri dan keinginan diri nya juga sih.


"Udah kan?", tanya Azka. Nana mengangguk.


"Sebenarnya kurang, tapi buat nanti kalo udah pulang dari sana deh!"


Azka mencubit gemas pipi chubby Nana.


"Bisa aja! Ya udah deh batal aja ke luar kota nya."


"Issshhh jangan dong. Kalo batal, ngga jadi dapet duit dong. Aku sama Azki kan pengen jalan-jalan ke luar negeri tahu."


"Iya, nanti kalo azki udah agak besar kita ajak jalan."


"Janji ya?"


Azka mengangguk.


"Iya, aku kerja kan buat kalian."


"Makasih sayang, jadi makin cinta deh!"


"Ayok turun, pamit sama Azki!"


Keduanya pun turun menuju Azki yang sedang di temani Ami.


.


.


"Papa harap, kamu ga kecewain papa ya Vik!"


"Iya pa, papa tenang saja. Lagian, aku juga ke sana bareng kak Dara. Dia bisa ngajarin aku kan pa!"


"Iya, papa ngga nyangka kamu bisa akrab sama Dara."


"Ya, ga tahu pa. Dekat aja sih!"

__ADS_1


"Kamu ngga ada hubungan apa-apa kan sama Dara? Selain dia jauh lebih tua dari kamu, kamu juga jalan sama Aurel kan?"


"Apaan sih Pa. Aku sama kak Dara murni berteman."


"Tolong jangan bikin papa kecewa lagi. Perusahaan kita benar-benar koleps gara-gara keluarga Bhakti itu. Makanya, papa cuma mau bilang sama kamu. jangan bikin ulah!"


"Iya pa!", sahut Vicky.


.


.


.


"Dara? Kamu mau kemana?", tanya mamanya.


"Ada kerjaan di luar kota Ma."


"Berapa hari?"


"Dua hari doang Ma."


"Sama siapa aja?"


Dara mengehentikan mengepak pakaian dalam koper.


"Banyak ma, pertemuan para pebisnis se-Indonesia. Di sana kami juga akan berkompetisi secara sehat. Yang mendapat tender itu, layak di perhitungkan dalam dunia bisnis yang kejam dan licik ini."


"Semoga sukses sayang! Dan...mama harap sepulang dari sana , mama dapat kabar bahagia."


"Kabar bahagia apa?"


"Ya, kali aja nanti di sana kamu kenalan sama para pebisnis muda. Biar kamu ngga ngarepin Azka terus. Mama bosen temen-temen arisan mama ngebully mama gara-gara anak mama yang cantik ini belum nikah. Apalagi mereka udah pada pamer cucu. Termasuk Ani tuh, mamanya Azka. Pamer banget kalo dia udah punya cucu laki-laki. Mama juga pengen lho Ra."


"Ma, mama kan tahu Dara cinta sama Azka."


"Tapi kan kamu cantik sayang, kamu bisa dapatkan yang lebih dari Azka."

__ADS_1


"Iya ma...iya....!", sahut Dara seadanya. Malas menanggapi mama. Padahal tujuan Dara ke luar kota selain pekerjaan, juga karena mau mendapatkan Azka.


__ADS_2