
"Gimana arisannya ma?", tanya papa saat makan malam.
"Mama yang dapet, jadi ya bulan depan mama kebagian menjamu teman-teman arisan mama."
"Di rumah?", tanya papa.
"Rencana mah di resto hotel, tapi liat nanti aja deh pa!", kata mama.
Papa memperhatikan gelang yang menantunya pakai.
"Gelang turun temurun dari leluhur udah sampe ke Nana nih!", kata papa. Aku tersenyum mendengar ucapan papa.
"Ya iya lah Pa. Itu kan warisan dari eyang mu. Sekarang sudah saat nya dong berpindah ke Nana. Nanti kalo anak perempuan mama ini melahirkan juga gelang itu buat cucu mama."
"Jadi... intinya nih cuma numpang pakai gitu?", ledek papa.
"Papa ih ...ngga lucu!", Mama merajuk manja.
Aku bahagia melihat kekompakan mereka. Sama sekali tidak ku sangka. Ku pikir beliau berdua itu orang tua yang kaku. Apalagi saat papa masih aktif di yayasan. Hawanya killer banget, sebelas dua belas kaya Azka. Eh...ngga tahunya, setelah azka menikah dan mau punya anak ...sifat mereka ternyata umum tuh... seperti orang-orang. Suka bercanda, suka saling meledek dan yang pasti... mereka berdua pasangan romantis meski sudah cukup berumur.
"Assalamualaikum!", azka tiba-tiba sudah bergabung di antara kami.
"Mas? udah pulang?", aku menyambut tangannya untuk ku cium.
"Iya lah, kangen sama utun!", sahut azka sambil mengusap perut ku.
"Ada mama sama papa kali Ka!", kata mama.
"Memang nya kenapa? Ya udah sih, kalo mau tinggal kaya gini juga. Di kamar tapi ya, malu udah tua!", ledek Azka tanpa menatap kedua orangtuanya.
"Eh...dasar ya. Berani kamu ledek papa?", tanya papa.
"Mas, jangan gitu ah!" aku malu sendiri.
__ADS_1
"Liat aja tuh suami kamu Na. Udah mau jadi bapak, masih aja ngerecokin orang tua."
Aku terkekeh pelan begitu juga mama.
"Bapak? Enak aja, Abi dong Pa. Masa bapak! Ngga elit banget, iya kan sayang?",Azka minta persetujuan dariku. Aku pun mengangguk sambil tersenyum.
"Apa pun itu lah,judul nya tetep aja bapak!", kata papa tak mau kalah.
"Masa ...ganteng muda begini di panggil bapak? Ngga matching banget kali!"
"Udah mas...udah...!", lerai ku.
"Iya pa, lagian papa ladenin aja sih ledekan Azka. Udah tahu dia tuh sejak punya istri kecil jadi lebih sweet...lebih manusiawi, ngga kaya dulu", sindir mama.
"Kok mama nyindir Azka begitu sih?"
"Iya gimana, kenyataannya begitu?", Mama mengangkat bahunya.
"Iya sana, ajak aja suami mu ke kamar Na!", pinta mama sambil menggandeng tangan papa.
Aku pun melakukan hal yang sama.
"Mertua sama menantu sama aja sih!", gerutu Azka yang sudah dalam gandengan tangan ku.
Sesudah sampai ke kamar, aku meraih tas Azka lalu melepaskan dasi yang melingkar di kerah kemejanya. Badanku yang jauh lebih pendek pun harus mendongak ke leher jenjangnya.
"Enak ngga ikutan sama kaum sosialita kaya teman-teman mama?"
"Ya...gitu lah", jawabku sambil terus membuka kancing kemejanya.
"Gitu lah gimana?"
"Tadi ketemu kak Dara."
__ADS_1
"Lalu?"
"Ya...ngga gimana-gimana sih mas. Mau mandi dulu apa bikin kopi dulu?"
"Mandi bareng yuk!"
"Serius cuma mandi kan?", aku menaikan satu alisku.
"Tergantung! Kalo kangen sama utun ya... gimana lah sayang!"
"Oke...oke...kita mandi bareng, tapi aku bikin kopi dulu. Bawa ke kamar deh kopinya!"
"Oke bos!", katanya.
Aku pun beranjak ke luar kamar menuju dapur .
Sedangkan azka memilih duduk sambil memainkan ponselnya.
Saat tengah serius membaca berita bisnis , Azka di kejutkan dengan chat dari Sese yang sudah bisa ia tebak siapa pelakunya.
[Dimana pun kamu menyembunyikan Nana, aku pasti menemukannya]
Azka meremas ponsel di tangannya bersamaan dengan istrinya yang membawa secangkir kopi.
"Kenapa mas? Kok kaya orang marah?"
"Ngga sayang. Kamu lama banget sih, mas pengen mandi berdua deh!", kata Azka meraih cangkir itu lalu meletakkan di nakas.
"Sekarang banget?", tanyaku heran.
"Iya!", sahut Azka singkat lalu mendorong ku ke kamar mandi.
Aku akan selalu bersama mu sayang! Batin Azka sambil menatap punggung istri nya yang sudah terlebih dulu masuk ke kamar mandi.
__ADS_1