Menikahi Nona Muda Galak

Menikahi Nona Muda Galak
Penyiksaan Di Pesawat


__ADS_3

Sesampainya di pesawat, Amora mengambil posisi jauh di belakang Juno di salah satu bangku kosong. Dia tidak mau duduk berdekatan dengan Juno. Juno melihat sebentar ke kursi belakang hanya untuk memastikan posisi Amora aman, ia khawatir gadis itu akan bertindak konyol lagi. Tetapi dia malah sibuk pura-pura membolak-balikkan majalah. Juno pun hanya tertawa kecil melihat reaksi Amora itu, dia hanya ingin memastikan jika Amora di belakang baik-baik saja dan kelihatannya Amora baik-baik saja di belakang sana.



Juno menoleh ke sampingnya Kebetulan di samping Juno adalah wanita cantik dengan pakaian seksinya. Rok pendek dengan belahan dada rendah. Juno kembali mendapat ide untuk mengganggu Amora, Juno tersenyum penuh makna. Ia mengambil handphone nya dan diam-diam memotret wanita itu dan mengirimnya kepada Amora.


'Di samping aku wanita cantik beneran, bukan biri-biri gimbal. Wangi lagi, bisa lah dia ajak ke toilet bareng,' goda Juno di caption foto yang ia kirim pada Amora.


Jelas yang di maksud Juno gimbal adalah rambut ikalnya. Padahal di mata orang lain rambut Amora sangat cantik, berwarna kecoklatan lembut, dengan panjang sebahu. Tetapi Juno terus saja meledek rambutnya jelek.


'Terserah, ajak aja sana,' tulis Amora.


"Dasar otak mes*m. Sama orang asing juga mau. Semoga dia kena penyakit habis sama tuh cewek," rutuk Amora kesal dan melempar handphone nya ke dalam tas begitu saja.


Amora menatap ke sampingnya, tampak lelaki paruh baya dengan perut buncit dan senyum mesumnya tengah menatap Amora. Amora mulai merasa ketakutan, beberapa kali ia mencoba menarik rok pendeknya agar menutupi pahanya. Karena paha mulusnya menjadi sasaran tatapan mesum pria ini sedari tadi. Ia terus memperhatikan tubuh Amora dari kepala hingga dadanya secara berulang kali. Itu membuat Amora semakin takut.


***


Tiba-tiba wanita di samping Juno berdiri dan pindah. Ternyata wanita tersebut salah posisi. Juno hanya memperhatikannya sekilas. Karena sebenarnya dia tidak peduli pada wanita tersebut. Walau wanita berwajah arabian itu sangat cantik dan seksi tetap saja Juno bukan tipe lelaki yang suka tebar pesona. Dimata orang lain Juno terkenal sangat sopan kepada wanita dan dia sangat beretika tinggi hanya pada Amora etika dan prinsip hidupnya bisa rusak seketika.


Tidak lama. Tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba ...

__ADS_1


BUKKK...


Amora datang tanpa sepengetahuan Juno membuat Juno tidak siap dan terpelanting ke samping karena tabrakan dengan tas Amora saat ia melewati Juno. Juno yang kaget sempat terkena sabetan tas Amora hanya bisa meringis kesakitan seraya memegang bekas lukanya.


"Sssttt... Auh..." ringis Juno seraya memegangi bekas luka di keningnya yang masih sangat basah. Dan untuk pertama kalinya Amora mengucapkan maaf dan memperlihatkan expresi khawatirnya pada Juno.


"Maaf, Jun. Maaf, kamu nggak papa kan?" seru Amora khawatir. "Cowok di samping aku di belakang om-om mesum makanya aku takut, dia liatin aku terus dari tadi," adu Amora masih dengan posisi Juno yang kesakitan. Amora memperhatikan perban yang Juno kenakan untuk membalut lukanya sedikit mengeluarkan darah. Juno pun bersandar sambil menahan kepalanya. Amora tampak sangat khawatir. Dia memegangi lembut perban Juno seraya meniupnya seperti seorang anak kecil meniup lukanya.


Melihat itu sonak membuat Juno langsung terkekeh masih dalam keadaan meringis menahan sakit dan perih di lukanya.


"Kamu pikir luka aku kue ulang tahun apa? Di tiup segala," kekeh Juno yang membuat Amora kesal itu langsung memukul bahu Juno dan membuang muka memandang keluar jendela pesawat. Tidak lama pesawat pun mulai take off.


"Makanya, udah tau di negeri orang sok-sok-an mau jauh dari aku. Untung nggak di grepeinnya kamu waktu tidur, di remas manja sama dia hahaha...," tawa Juno dengan expresi sedikit menahan sakit di bekas lukanya.


"Berarti sama aku nggak bikin jijik, ya. Buktinya kamu malah balik lagi kesini," celetuk Juno masih usil dengan lirikan mata yang menyebalkan.


"Tau ah." Amora malas berdebat. Ia masih shock dengan lelaki tua di belakangnya tadi.


"Udah beberapa kali tapi kamu masih mau deket sama aku," tutur Juno lagi.


Amora menutup telinganya tidak mau mendengar ocehan Juno lagi. Juno terus mengoceh membuat Amora semakin kesal. Tapi dia tidak punya pilihan kecuali bertahan duduk di sana, walau harus tahan dengan omongan Juno yang usil dan menyebalkan dari tadi.

__ADS_1


"Bisa diem nggak. Jangan kayak mulut emak-emak komple. Nyebelin," seri Amora yang sempat menarik perhatian dari orang-orang yang berada di dekat bangku mereka. Hingga membuat Amora mendekap mulutnya karena sadar akan tindakannya yang menarik perhatian itu. Juno kembali tertawa melihat reaksi Amora tersebut dan mencoba untuk kembali menikmati perjalanan mereka yang lumayan lama ini.


Penerbangan 16 jam lebih ini tentu akan sangat melelahkan bagi keduanya. Terutama bagi Juno yang sedang terluka. Dia beberapa kali merasakan pusing di kelapanya. Dia beberapa kali keluar masuk kamar mandi untuk mengatasi rasa perihnya dan pusing. Amora terus memperhatikan tingkah Juno yang keluar masuk kamar mandi.


"Ngapain kamu ke toilet terus?" tanya Amora.


"Kepala aku perih, pusing," ujar Juno seraya bersandar di bangkunya dengan memejamkan matanya mencoba mencari posisi yang nyaman. "Seharusnya aku masih di rawat, bukannya di ajak naik pesawat lama kayak gini." Juno kembali mencari posisinya yang nyaman. Amora menatap lirih ke arah Juno yang terlihat sangat tersiksa itu.


"Maaf!" ujar Amora perlahan.


Tapi Juno tidak mendengarnya, dia sudah memasangkan headset nya. Amora malah memperhatikan lekuk wajah Juno yang lama-lama terlihat sangat tampan. Hidung yang mancung tipis, wajah yang tirus dengan bibirnya yang merah tipis, alisnya yang tebal dan bertaut. Benar-benar terlihat seperti seorang aktor tampan, tapi entah kenapa saat Juno bangun ketampanan itu malah pudar di mata Amora. Berganti dengan Juno menyebalkan yang sangat suka menggodanya dan membuatnya marah-marah.


Sesaat Amora tersadar bahwa dia sudah memperhatikan wajah Juno terlalu lama.


"Mikir apa aku," gumam Amora seolah kembali tersadar. Ia kembali menatap lurus kedepan dan mencoba menikmati perjalanannya, ia mencoba membuang pikiran liarnya dengan menikmati pemandangan angkasa dari atas pesawat. Gumpalan awan putih yang bergelantungan mirip seperti permen kapas putih, cukup membuat Amora terhibur.


Akan tetapi matanya sekali lagi menoleh ke sampingnya, tampak Juno sudah terlelap dengan tidurnya sedari tadi. Amora kembali ingat dengan apa yang mereka lakukan tadi pagi. Dia kembali merinding mengingatnya, bagaimana bisa dia membuat Juno bisa menjamahnya begitu saja. Dan gilanya dia malah menikmati itu juga. Ia pun tidak merasa takut atau pun jijik pada Juno sama sekali, berbeda dengan lelaki mesum yang tadi. Amora langsung ketakutan padanya. Hingga dia lari terbirit-birit ke bangku di samping Juno kembali. Amora memejamkan matanya seraya memukul pelan keningnya untuk membuat dia kembali waras.


"Bego banget, sih. Ok, lain kali aku akan melawan lebih keras lagi. Nggak akan aku biarin dia lakuin itu sama aku lagi," ujar Amora bertekat dan ia menatap Juno kembali, tapi memang tidak bisa di tampik nya bahwa Juno seorang pria yang tampan. Bahkan di rumah sakit tempat Juno bekerja pun banyak yang mengakuinya.


Apa dia juga mulai menyukai Juno? Tidak mungkin, dia sangat membenci Juno selama ini, mana mungkin dia jatuh cinta dengan laki-laki biang onar di hidupnya ini. Ah, sudah lah. Lihat saja nanti mau seperti apa, pikir Amora. Lama-lama rasa kantuk mulai menyerbunya lama-lama membawanya ke alam mimpi.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2